HOME
ALKITAB
Gereja Toraja TODAY
FORUM P.A.
BERBUAH
SEKOLAH ALKITAB
INJIL dan MELAYU
God's Word in CHINA
DOWNLOAD Bible
PPGT
Download Info Gerejawi
NEXT Generation
Renungan Harian
Kumpulan TULISAN
Majalah SULO
MENU ARTIKEL
SSAXXII
3 - 8 July 2006
26 Keputusan SSAXXII
BLOG SSAXXII
FOTO2 SSAXXII
Download SSA22 Doc.
FORUM
BUKU TAMU
Kampoeng TORAJA
GEREJA TORAJA TODAY
PEKAN SPIRITUALITAS
Yahoo YM
e-mail me

Majalah SULO


   

MENGAPA SAYA MENJADI ANGGOTA GEREJA TORAJA?

 





Th. Kobong

Judul tulisan ini terkesan aneh, namun saya coba mendalami dan menghayati mengapa Gereja Toraja sering dituding sebagai gereja yang sukuistis dan eksklusif. Karena saya adalah anggota dan bahkan pendeta emeritus Gereja Toraja, dengan sendirinya konotasi sukuisme dan eksklusifitas itu juga melekat pada saya. Dalam tulisan ini saya ingin coba memberikan pertangunggjawaban, bukan primer mengenai keanggotaan saya an sich, melainkan tentang keberadaan Gereja Toraja yang menyandang konotasi eksklusif dan sukuistis itu.

Mungkin ada baiknya kita terlebih dulu bertolak dari antropologi budaya. Saya mengikuti pendapat seorang pakar bahwa manusia itu adalah makhluk persekutuan. Ia diciptakan oleh Allah sebagai individu, tetapi diciptakan ke dalam persekutuan. Tidak ada manusia yang bisa melepaskan diri dari suatu persekutuan, apa pun bentuk persekutuan itu. Bahkan pakar itu mengatakan, dasar persekutuan adalah kesatuan laki-laki dan perempuan sebagai gambar Allah. Pernikahan adalah dasar persekutuan itu. Dengan demikian kita bisa memahami bahwa perjodohan itu bukan semata-mata berdasarkan keinginan dua insan, tetapi ia sudah berada dalam tata penciptaan. Persekutuan bati itu beranak-pinak, sehingga berkembanglah suatu clan, suku, bangsa dengan pola hidup yang disepakati menjadi adat-istiadat, apabila kita memahami kebudayaan itu sebagai pola hidup suatu kelompok masyarakat.

Kembali kepada manusia individu tadi. Kita bisa mengatakan bahwa setiap manusia berada di dalam dan terikat pada kebudayaan di tempat ia dilahirkan. Kebudayaan dan adat-istiadat itu membentuk jati diri seseorang, cara berpikir, berperilaku, bertutur kata, bersikap, cara menghayati dan mengiplementasikan nilai-nilai hidupnya. Itulah manusia yang dipertemukan dengan Injil. Injil tidak meniadakan kebudayaan yang membentuk manusia, melainkan Injil membarui cara berpikirnya, berperilakunya, bertutur katanya, bersikapnya, caranya menghayati dan mengimplementasikan nilai-nilai hidupnya. Itulah yang kita sebut transformasi kebudayaan. Transformasi kebudayaan memang tidak mudah, ia diibaratkan suatu kelahiran baru (rebirth) yang mengalami kesakitan persalinan, tetapi yang akhirnya bermuara ke dalam sukacita kelahiran. Tidak ada manusia yang bisa melepaskan diri dari kebudayaan. Yesus pun adalah manusia Yahudi yang dilahirkan ke dalam kebudayaan Yahudi, Ia mengikuti adat-istiadat dan agama Yahudi. Namun Ia membarui adat-istiadat dan kebudayaan Yahudi itu dari dalam. Ia menjungkir balik nilai-nilai yang ditradisikan turun-temurun melalui implementasi Hukum Taurat. Transformasi yang dilakukan Yesus akhirnya membawa-Nya kepada kayu salib.

Tetap Orang Toraja

Injil masuk Toraja. Orang Toraja tetap orang Toraja yang memang sudah mempunyai jati diri Toraja. Injil mentransformasi orang Toraja yang menerima Injil, artinya nilai-nilai Toraja yang melekat padanya dan yang sesuai dengan Injil tetap menjadi miliknya, yang bertentangan dengan Injil dia barui atau dibuangnya. Jadi yang menjadi kriteria dalam membarui kebudayaan ialah Injil. Yang menjadi persoalan, bagaimana kita menghayati Injil itu di dalam kebudayaan, sama seperti Yesus hidup di tengah-tengah kebudayaan Yahudi yang diturunkan dari Hukum Taurat: Aku tidak datang meniadakan Hukum Taurat, melainkan Aku datang menggenapinya. Jadi persoalan ialah bagaimana orang Toraja menghayati Injil di dalam kebudayaan Toraja. Ada nilai-nilai yang diserap, ada yang ditolak. Itulah transformasi. Orang Toraja tidak menjadi orang Belanda atau orang Yahudi, melainkan orang Toraja yang injili.

Berdasarkan itu, penulis lebih suka berbicara mengenai orang Toraja Kristen, walaupun orang Kristen Toraja bisa pula dibenarkan. Bedanya hanya mungkin soal perasaan bahasa. Orang Toraja Kristen, berarti Kristen adalah atributnya, adalah jati dirinya, sedangkan Kristen Toraja, Toraja menjadi atribut, menjadi jati diri.

Gereja Toraja adalah persekutuan orang-orang Toraja yang berpredikat atau beratribut Kristen. Dasar kebudayaannya adalah kebudayaan Toraja yang seharusnya “sudah” dibarui oleh Injil. Di dalam Gereja Torajalah orang-orang Toraja Kristen seharusnya menghayati Injil itu dalam cara berpikir, bertindak, bertutur kata, dalam cara hidup secara holistik. Apakah dengan demikian Gereja Toraja itu eksklusif dan sukuistis? Jawabnya adalah ya dan tidak. Sukuistis, mungkin kesannya demikian, sebab memang ada nilai-nilai Injil yang dihayati dalam ketorajaan, misalnya kehidupan persekutuan. Aluk Rambu Solo’ (ARS) dan Aluk Rambu Tuka’ (ART), adalah ungkapan kehidupan persekutuan yang mengungkapkan ketorajaan, yang harus ditransformasi menjadi ungkapan persekutuan Kristen/Inijili. Untuk itu memang masih banyak yang harus dibenahi, ada yang diserap, ada yang harus ditolak. Hanya kelihatannya orang Toraja Kristen lebih banyak beradaptasi kepada kebudayaan daripada kepada Injil. Hal inilah yang perlu dihayati dan digumuli Gereja Toraja terus-menerus.

Dalam kebudayaan kekerabatan (Pak Para’pak dalam Transformasi Budaya – SULO): ada aspek positif, tetapi ada juga yang negatif. Rupanya aspek negatifnya lebih menonjol dan itulah yang harus digumuli terus-menerus. Pesta pora jelas bertentangan dengan firman Allah, mengutamakan orang mati daripada orang hidup jelas salah, mengutamakan gengsi manusia jelas salah, mengutamakan harta benda, gengsi, show daripada Kerajaan Allah semuanya itu bertentangan dengan Injil.

Sekarang apa jawab Gereja Toraja? Ada kerinduan saya agar sekali Gereja Toraja melalui keputusan Sinode Am, atau terutama para pendetanya membuat komitmen untuk membatasi pelaksanaan ritus kedukaan (ARS). Adalah lebih tepat kita berbicara mengenai ritus-ritus (ritual) kedukaan daripada pesta orang mati – pesta orang mati adalah terjemahan dari bahasa Belanda “dodenfeest”, yang tentunya tidak dikenal orang Toraja. Bukan maksud saya untuk menghapus ARS, tetapi mentransformasinya menjadi ritus kedukaan yang injili. Kebudayaan kekerabatan justru akan lebih nampak, bukan saja sebagai kekerabatan darah daging, melainkan sebagai kekerabatan keluarga Allah.

Demikian pula ART bisa ditransformasi. Keputusan Zending melalui Peraturan Adat 1923 tentang ARS dan ART itulah yang selalu menjadi perdebatan antara Ds. D.J. van Dijk dengan A.T. Tonglo ketika beliau menjadi guru Injil di Baruppu’ dan Palopo. Masalahnya adalah soal kekerabatan yang kurang dihayati oleh orang Barat. Aspek persekutuan kekerabatan inilah sebagai keluarga Allah yang perlu ditransformasi, terutama sebagai penangkal terhadap pengaruh globalisasi yang menjadikan kehidupan ini individualistis dan bahkan atomistis. Bahaya individualisme dan atomisme ini bukanlah suatu imajinasi, melainkan ia sudah mulai masuk ke dalam persekutuan gereja., persekutuan umat Allah. Gereja Toraja sukuistis? Ya, nampaknya demikian justru karena atribut-atribut Torajanya. Terutama melalui bahasa dalam pergaulan sehari-hari. Tetapi itu sangat manusiawi. Lelucon dalam bahasa Toraja tidak lucu lagi jika itu diterjemahkan dan demikian pula lelucon dalam bahasa lain tidak lucu lagi bila diterjemahkan ke dalam bahasa Toraja. Banyak hal yang hanya bisa dihayati dengan baik dalam konteks aslinya. Semuanya itu tidak perlu menjadikan seseorang bersikap sukuistis. Sikap sukuistis yang salah ialah kalau “right or wrong, my country/my suku”(Disraeli). Apakah Gereja Toraja eksklusif? Ya, ia eksklusif karena imannya, karena pengakuannya. Ada rambu-rambu yang harus ditaati dalam hal mengungkapkan iman dan dalam hal bergereja. Pada hakikatnya semua gereja adalah eksklusif. Gereja-gereja yang menerima Pengakuan Iman Rasuli (Apostolicum), adalah eksklusif, karena ada banyak manusia yang tidak mengaminkannya. Bahkan Gereja Ortodoks Yunani dalam rangka rekonsiliasi Timur-Barat tidak menerimanya (Konsili Florence 1439) karena dianggap bukan berasal dari para rasul.

Sebenarnya setiap gereja yang mempunyai pengakuan sendiri pada dasarnya eksklusif, jadi dilihat dari segi pengakuan gereja, setiap gereja mau tidak mau eksklusif. PGI dan dengan demikian semua gereja anggotanya adalah eksklusif, karena ia mengaku bahwa tidak ada dasar lain kecuali Yesus Kristus (1Kor.3:11). Lebih jauh lagi: Allah adalah kasih dan itu adalah eksklusif, karena Allah tidak mangenal yang bukan kasih, tidak menerima dosa. Jadi eksklusifitas itu melekat pada hakikat gereja itu sendiri. Tetapi itu baru satu sisi dari gereja. Gereja itu pada hakikatnya adalah inklusif, karena Allah adalah kasih dan mengasihi semua orang, bahkan seluruh ciptaan. Kasih Allah merangkul semua orang berdosa. Itulah makna karya penyelamatan Allah di dalam Yesus Kristus. Untuk karya penyelamatan Allah itu umat Allah dipanggil menjadi berkat bagi semua orang (Kej.12:3). “Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya” (Mzr.145:9). Kasih Allah adalah inklusif dan itu telah dinyatakan-Nya di dalam Yesus Kristus.

Jadi pada hakikatnya setiap gereja yang mengakui Yesus Kristus sebagai Juruselamat, mau tidak mau adalah inklusif. Gereja Toraja mengkhianati hakikatnya bilamana ia eksklusif. Itu secara teologis. Secara faktual tidak bisa disangkal bahwa Gereja Toraja adalah inklusif dan tidak sukuistis. Fakta yang menyakinkan ialah bahwa di dalam Gereja Toraja banyak pelayan gereja yang bukan Toraja, ada pendeta asal Bugis, asal Ambon, Menado, Jawa, Bali, Batak, setiap misionaris yang bertugas dalam Gereja Toraja otomatis menjadi pelayan Gereja Toraja.

Bukan itu saja. Praktis di semua kota besar cukup banyak anggota majelis gereja yang bukan dari suku Toraja. Contoh lain yang membuktikan bahwa Gereja Toraja tidak sukuistis adalah kehadiran puluhan, mungkin ratusan ribu asal Gereja Toraja di Papua, di Sulawesi Tenggara, di Maluku, di Menado dan mungkin masih ada tempat-tempat yang lain, tetapi Gereja Toraja tidak menampakkan diri di sana. Hal itu dikarenakan komitmen oikoumenisnya. Di Kalimantan Timur ada puluhan ribu anggota Gereja Toraja, di Pulau Jawa, khususnya di Jakarta Gereja Toraja hadir. Apa sebabnya? Hal itu dimotivasi oleh pelayanan. Gereja Toraja merasa tidak bertanggung jawab untuk membiarkan anggota-anggotanya tidak terlayani lalu terserap oleh berbagai aliran yang tidak “seasas” dengan Gereja Toraja, seperti berbagai aliran Pentakosta dan Kharismatik. Oleh karena banyak yang telantar pelayanan kerohaniannya, Gereja Toraja terpaksa hadir di sana. Bahwa ciri ketorajaan Gereja Toraja nampak di sana, hal itu tidak mungkin disangkal dan hal itu adalah wajar karena hakikat gereja itu sendiri dan karena penghayatan kekerabatan ketorajaan.

Kita dapat menyimpulkan bahwa Gereja Toraja itu primer inklusif karena Injil itu inklusif, tetapi sekaligus juga eksklusif karena pengakuannya yang dihayati dalam konteks kebudayaan Toraja. Inklusifitas Gereja Toraja akan nampak apabila Gereja Toraja memahami dirinya sebagai umat Allah yang dipanggil untuk menjadi berkat bagi dunia. Inklusifitas itu akan nampak sejauh Gereja Toraja melaksanakan tugas pelayanannya (diakonia) kepada dunia, terutama kepada saudara-saudara Yesus yang lapar dan miskin, yang kena busung lapar, yang tidak bisa berobat, dsb.(Mat.25:31-46). Gereja Toraja itu eksklusif apabila hanya mau melayani saudara-saudara seiman, sekali pun itu didasarkan atas Gal.6:10b. Tetapi jangan kita lupakan bahwa 10b didahului oleh 10a: “….marilah kita berbuat baik kepada semua orang”. Memang hakikat Injil adalah sangat dialektis. Penghayatan dan pengamalan Injil pun, yang namanya iman, adalah sangat dialektis. Justru dialektika itu yang bisa membawa seseorang kepada kekayaan penghayatan iman di tengah-tengah berbagai kebudayaan. Ia bisa menghargai kebudayaan orang lain karena ia menghargai kebudayaannya sendiri sebagai wahana menyembah dan memuliakan Allah. Ia bisa menerima bahwa Allah menyatakan diri dalam berbagai kebudayaan, sehingga ia juga bisa menyembah dan memuliakan Allah di dalam kebudayaannya yang ditransformasi. Jika kita menerima pluralitas kebudayaan, otomatis kita juga menerima pluralitas agama yang merupakan sub-kebudayaan. Agama adalah ungkapan keyakinan dalam bentuk kebudayaan. Itulah sebabnya ada banyak bentuk keagamaan. Agama Kristen pun mengenal mungkin seribu satu ekspresi kekristenan. Masalah sukuisme dan eksklusifitas adalah manusiawi yang hanya bisa diatasi dalam pemahaman dan penghayatan, bahwa Allah mengasihi semua manusia dan memberikan kepada manusia kemampuan untuk berbudaya.

Judul tulisan ini aneh dan dalam bentuk pertanyaan yang belum terjawab. Saya dilahirkan di dalam kebudayaan “Toraja Kristen”, sebab orangtua, d.h.i ayah adalah seorang guru Injil dalam bakal Gereja Toraja. Namun saya tidak pernah menghayati yang namanya kebudayaan Toraja secara sadar, walau pun kenangan masa kanak-kanak pasti ada dan susah dilupakan. Di masa remaja dan muda saya dibesarkan dalam kebudayaan Barat dan itu pasti membawa banyak dampak dalam kehidupan berbudaya, walau pun saya tidak pernah merasa diri Balanda lotong seperti yang dilekatkan orang pada diri saya. Saya tidak hanya dibesarkan dalam suasana Barat, tetapi kepribadian saya di masa muda banyak ditempa oleh nasionalisme Indonesia, oleh sebab itu saya merasa diri orang Indonesia nasionalis. Dengan demikian kepribadian saya adalah Toraja karena kelahiran, Barat karena pendidikan dan pengalaman hidup, serta Indonesia karena ditempa oleh nasionalisme Indonesia. Latarbelakang inilah yang mewarnai sikap saya bergereja. Saya dibaptis di dalam bakal Gereja Toraja, disidi di dalam Nederlandse Hervormerde Kerk, dinikahkan di dalam Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat, ditahbiskan di dalam Gereja Toraja dan kini pendeta emeritus Gereja Toraja.

Di Inggris saya senang beribadah di dalam Anglican Church (Gereja Inggris), terutama Low Church yang injili dan cukup Calvinistis dalam teologinya, saya cukup lama beribadah dalam Gereja Evangelis Jerman yang Lutheran. Pengalaman oukoumenis saya cukup memadai. Boleh dikatakan bahwa tidak ada kecanggungan pada saya untuk beribadah di dalam gereja yang bukan Gereja Toraja, kecuali dalam kelompok-kelompok Pentakosta dan Kharismatik. Di Jakarta saya sering berkhotbah di luar Gereja Toraja. Bahkan di Toraja saya pernah ikut melayani dalam misa Katolik dan pernah pula di Mainz (Jerman), bersama dengan almarhum Pastor Tongli dan seorang Pastor dari Flores melayani misa. Mengapa semuanya ini saya sebutkan? Untuk menjawab pertanyaan judul tulisan ini.

Dengan ini saya ingin mengatakan bahwa saya bisa menemukan dan mendengarkan firman Allah dalam ibadah-ibadah gereja lain, walau pun bisa saja ada doktrin-dotrin yang tidak sesuai dengan keyakinan saya. Namun yang penting ialah kesamaan yang hakiki dan bukan perbedaan ciptaan manusia. Pertanyaan belum terjawab sepenuhnya. Mengapa saya tetap setia kepada Gereja Toraja? Jawabnya sebuah elips yang berfokus ganda. Fokus pertama ialah ajaran dan tradisi Gereja Toraja yang membesarkan saya. Itu tidak berarti bahwa di dalam gereja lain saya tidak menemukan ajaran yang benar. Fokus kedua ialah kebudayaan dan mungkin itulah yang lebih kental, terutama jika saya mencoba menghayati persekutuan kekerabatan baik darah daging, mau pun kekerabatan keluarga Allah yang namanya Gereja Toraja. Itu pula tidak berarti bahwa di dalam gereja lain saya tidak menemukan persekutuan Kristiani. Pengalaman hidup sudah cukup membuktikan hal itu. Namun bersekutu dalam suasana Toraja Kristen memberikan kepuasan rohani plus, karena ada nilai-nilai Injil yang dihayati dalam suasana ketorajaan. Saya adalah eksklusif, kalau saya menganggap Gereja Toraja benar sendiri. Saya adalah sukuistis, kalau tidak bisa dan tidak mau bergaul dengan orang bukan Toraja dan bukan Gereja Toraja. Jika itu sikap rohani saya, maka saya mengkhianati Pengakuan Iman Rasuli: “aku percaya adanya gereja Kristen yang kudus dan am”, bahkan mengkhianati Pengakuan Gereja Toraja sendiri. Kesimpulan, ketorajaan tidak boleh merusak persekutuan Kristen yang am dan sebaliknya kekristenan tidak harus menolak kebudayaan yang tidak bertentangan dengan Injil. Sikap itulah yang seharusnya kita kembangkan. Janganlah kita saling menilai karena masalah kebudayaan, melainkan marilah kita saling menerima sebagai manusia-manusia yang tetap diberikan Allah kemampuan mengembangkan kebudayaan sebagai pola hidup.

Pluralitas kebudayaan hendaknya kita hayati sebagai pemberian Allah yang harus kita pergunakan memuliakan Allah. Itulah tugas transformasi yang harus berlangsung terus-menerus, karena kebudayaan itu adalah dinamis. Gereja Toraja di satu sisi menampakkan eksklusifitasnya, namun bila ia tidak inklusif, maka ia mengkhianati hakikatnya.



Plaza Aminta, 17 Januari 2006


   

[ First ] [ Prev ] [ Next ] [ Last ]