HOME
ALKITAB
Gereja Toraja TODAY
FORUM P.A.
BERBUAH
SEKOLAH ALKITAB
INJIL dan MELAYU
God's Word in CHINA
DOWNLOAD Bible
PPGT
Download Info Gerejawi
NEXT Generation
Renungan Harian
Kumpulan TULISAN
Majalah SULO
MENU ARTIKEL
SSAXXII
3 - 8 July 2006
26 Keputusan SSAXXII
BLOG SSAXXII
FOTO2 SSAXXII
Download SSA22 Doc.
FORUM
BUKU TAMU
Kampoeng TORAJA
GEREJA TORAJA TODAY
PEKAN SPIRITUALITAS
Yahoo YM
e-mail me

Majalah SULO


“Dari Benih Terkecil Tumbuh Menjadi Pohon”

 

- Sebuah Apresiasi

Th Kobong

Untuk orientasi saya di dalam Gereja Toraja, saya mengikuti perjalanan keliling Pdt. A. Rumpa, Sekretaris KUGT di tahun 1962, ke daerah Palopo Utara, yang baru saja terbuka dengan adanya gencatan senjata antara TNI dan gerombolan Kahar Muzakkar. Berdasarkan pengalaman dari orientasi itu, saya menulis laporan kepada GZB di Belanda. Saya ditegur keras: “Anda anak baru kemarin sudah berani mengritik para zendeling yang datang ke Toraja bukan untuk mencari kepentingan diri sendiri”.

Saya menjawab: “Kalau ada orang Toraja yang bersyukur kepada zending, sayalah orang pertama (ini ada latarbelakangnya). Tetapi itu tidak berarti bahwa zending tidak boleh lagi dikritik”. Sejak itu hubungan saya dengan zending terputus sampai tahun 1968, di tahun 1969 baru pulih kembali. Dalam disertasi saya ada apresiasi khusus untuk Zendeling A.A. v.d. Loosdrecht (hlm.123-124 – manuskrip terjemahan) dalam bentuk ekskursus (baca dan jelaskan, terutama mengenai pembelaan A.C. Kruyt terhadap kritik pemerintah kolonial dan upaya Kruyt membelanya).

Literatur-literatur tentang GZB tidak pula luput dari apa yang dalam misiologi disebut romantisme para misionaris. Dalam literatur zending, paling tidak sampai 1942, jarang sekali nama-nama Indonesia, apalagi Toraja dimunculkan dalam laporan keberhasilan pekerjaan zending. Buku (disertasi) pertama yang mendobrak tradisi zending itu ialah disertasi Dr. B. Plaisier. Pendekatan beliau dalam mengapresiasi pekerjaan zending dari 1914 – 1942 bertolak dari partisipasi para pekerja di lapangan, yaitu para guru yang direkrut dari orang Indonesia bukan Toraja: Ambon, Manado, Sangir, Timor, Batak dan Jawa. Bukan itu saja, beliau mengapresiasi partisipasi penginjilan yang dilakukan oleh para guru Injil Toraja dan terutama oleh penginjil-penginjil “awam” seperti Pong Lengko, Kambuno, dan A. Dendang.

Dalam membedah buku Dari Benih Terkecil Tumbuh Menjadi Pohon DBTTMP) saya mempergunakan juga sebagai sumber utama buku Dr. Th. V.d. End, De Gereformeerde Zendingsbond 1901 – 1961, Nederland – Tanah Toraja. Kemudian terjemahannya dalam Bahasa Indonesia, Sumber-Sumber Zending Tentang Sejarah Gereja Toraja, 1901 – 1961. Ada surat-surat dalam bahasa Belanda yang tidak dimuat dalam terjemahan Bahasa Indonesia. Dari catatan-catatan di atas sudah dapat ditebak bagaimana sikap saya terhadap pekerjaan zending. Namun saya mau menggarisbawahi bahwa pendekatan saya mencoba seobjektif mungkin. Kata pengantar saya dalam Th. Van den End, Sumber-Sumber Zending Tentang Sejarah Gereja Toraja 1901 – 1961, sudah bisa mencerminkan sikap dan pendapat saya tentang buku DBTTMP. Kita harus belajar dari sejarah, yang positif kita pegang dan kembangkan, yang negatif kita tinggalkan.

Konteks Kolonial

Tentang Bab 1 tidak banyak yang bisa saya katakan, kecuali bahwa kita harus membacanya dalam konteks kolonial ketika itu. Bab ini bercerita tentang perjalanan. Terjemahan di halaman 5.b.3dst. sudah sangat diperhalus. (Ini contoh saja). V.d. Loosdrecht tentu tidak setuju dengan sikap para penumpang Eropa, namun ia dalam suratnya tetap mempergunakan istilah-istilah sangat merendahkan. Mau tidak mau ia adalah anak dari zamannya.

Bab II, halaman 47 – 89 masih berada dalam bayang-bayang Poso. Dari Poso ia menulis, tgl 7 April 1914: “Di sini kami setiap hari bertemu dengan orang Toraja serta mempelajari bahasa dan adat kebiasaan mereka”. (Dok.24, BB – tidak ada dalam DBTTMP, juga tidak ada dalam terjemahan BI, Th. V.d. End). Pengalaman beberapa bulan di Poso membuatnya menarik kesimpulan-kesimpulan yang tidak sesuai dengan situasi Toraja yang sebenarnya. Sebagai kesan-kesan pertama tentang Rantepao, Ny. V.d. Loosdrecht menulis, tgl.25 Mei 1914, jadi baru saja 16 hari di tempat: “Dipandang dari segi moral, rakyat di sini masih di taraf yang rendah sekali sehingga penyakit yang ditakuti itu banyak sekali terdapat di sini. Maka itu kami harus sangat berhati-hati dalam menerima murid-murid karena kebanyakan anak lelaki yang berumur 13 tahun telah bergaul dengan seorang perempuan dan sebaliknya. Dalam surat asli tertera: “….. want de meeste jongens van 13 jaar hebben al een vrouw, en omgekeerd”. Dikatakan lebih lanjut bahwa hal ini tidak mengherankan karena mereka mencontoh kepala sekolah landbouw (bukan Toraja) yang hampir tiap bulan mempunyai istri muda Toraja.

Halaman 90 – 100 bisa dianggap peralihan dari suasana yang dipengaruhi Poso (luar Toraja), kepada pelaksanaan pekerjaan zending yang sebenarnya di Tana Toraja. Surat Ny. Ida v.d. Loosdrecht tertanggal 23 Mei 1914 dari Rantepao mengandung beberapa hal yang agak janggal. Surat itu ditulis sesudah berada 14 hari di Rantepao dengan judul “Tiba di Rantepao”. Beliau menulis: “Kalian bisa memahami betapa saya penasaran ingin segera melihat Rantepao lagi”, padahal beliau sebelumnya tidak menemani suaminya berkunjung selama seminggu di bulan November 1913.

Di halaman 98 beliau melukiskan panorama yang sangat indah: “Pada hari yang sangat cerah kalian bisa melihat pohon-pohon kelapa di sana sini di puncak-puncak gunung. Di sanalah orang-orang Toraja tinggal, di Gunung Sesean yang tinggi”. Mungkin saja ada, tetapi belum pernah saya melihat pohon kelapa di gunung Sesean.

“Mama, mama bertanya bagaimana mengatakan Tuhan itu kasih” dalam bahasa Toraja. Kami ingin sekali bisa memberitahukannya kepada Mama, tetapi itu mungkin membutuhkan waktu sekitar satu tahun!”. Kalimat ini bertentangan dengan apa yang kita bayangkan dalam perkunjungan Van de Loosdrecht untuk pertama kali ke Rongkong/Kanandede, yang ia mulai tgl. 3 Agustus 1914. Ketika itu Van de Loosdrecht belum lagi cukup tiga bulan di Rantepao, tetapi ia sudah bisa memberitakan Injil kepada orang Kanandede mulai dari penciptaan, Adam, air bah, bapak-bapak leluhur, Abraham, Ishak dan Yakub, Musa sampai kepada Yesus Kristus dengan mujizat-mujizat-Nya, Yesus yang menderita, mati dan bangkit, dsb.

Namun ia sadar bahwa “sebaiknya ia tidak memberikan bahan terlalu banyak sekaligus; kalau tidak, cerita kami tentu tidak akan dimengerti”. Bagaimana mungkin ia bercerita pada satu malam saja tentang hampir seluruh sejarah Alkitab dalam bahasa Kanandede yang bagi orang Toraja Rantepao pun akan sulit. Bagi para pembaca di Belanda hal itu memang luar biasa dan sangat mengagumkan.

Di halaman 101 – 111 kita membaca banyak tentang pendirian sekolah-sekolah. Strategi yang dikembangkan Van de Loosdrecht memang merupakan sukses besar. Perkembangan dan pertumbuhan Gereja Toraja kemudian tidak bisa dibayangkan dengan benar tanpa melihat perkembangan di bidang pendidikan. Mungkin bisa dikatakan bahwa pertumbuhan pra-Gereja Toraja terutama adalah hasil penginjilan di bidang pendidikan. Kita melihat bahwa Van de Loosdrecht dalam beberapa bulan saja sudah berhasil mendirikan belasan sekolah, walaupun ia juga menghadapi banyak tantangan, baik dari para pemuka Toraja, maupun dari dalam, yaitu para guru sekolah.

Perjalanan ke Rongkong secara khusus diberitakan di halaman 130 – 145, sudah disinggung di atas dalam rangka kemampuan Van de Loosdrecht menceritakan hampir seluruh sejarah Alkitab dalam satu pertemuan. Bagi para pembaca di Belanda tentu semuanya itu sangat mengagumkan. Dan kita pun kagum akan kemampuan Van de Loosdrecht dan istrinya melukiskan situasi yang mereka alami. Lukisan keindahan alam begitu memesona, sehingga seolah-olah kita bisa melihatnya. Kita seolah-olah ikut dalam rombongan perjalanan serta merasakan sulitnya perjalanan itu.

Bidang Pendidikan

Bab 3, halaman 184 – 198, lebih banyak bercerita tentang bidang pendidikan di wilayah Makale. Dari kegiatan-kegiatan Van de Loosdrecht di bidang persekolahan kita bisa melihat betapa rajinnya beliau mendirikan dan membina sekolah-sekolah dan memang kita bisa melihat hasil yang luar biasa, walau pun di sana sini ada juga hambatan-hambatan, misalnya guru-guru yang tidak terlalu taat kepada petunjuk dan peraturan yang diberikan oleh Van de Loosdrecht (lihat Doc.37, Th. V.d. End).

Namun tidak bisa disangkal bahwa baptisan pertama yang dilayankan adalah hasil pekerjaan para guru pemerintah itu dengan motivasi tertentu. Baptisan pertama telah dilayankan oleh Kijftenbelt (Doc. 22, BB), atau oleh F.E.T. Kelling di tahun 1913 (Doc.37, hlm.129/130), sebelum Van de Loosdrecht memulai pekerjaannya di tahun 1914. Ia tiba dari Poso pada tgl. 9 Mei 1914.

Bab 4, halaman 199 – 205, laporan tahunan sesudah berada satu setengah tahun di Toraja. Tentu yang dilaporkan adalah hasil pekerjaan yang sudah kita bisa lihat dalam bab-bab sebelumnya. Yang paling menonjol ialah hasil pekerjaan melalui persekolahan.

Bab V, halaman 215 – 234, adalah kelanjutan dari pekerjaan dan pengalaman-pengalaman sehari-hari Van de Loosdrecht dan isteri, yang tetap bermakna untuk dibaca.

Apakah yang dapat kita petik dari DBTTMP? Biji sesawi itu sudah menjadi pohon Gereja Toraja, yang merupakan tempat perteduhan dan perlindungan, terutama di zaman gerombolan di saat-saat yang sulit. Pohon itu sudah menjadi tempat burung-burung bersarang dan berkembang biak, namun pohon itu juga perlu dibersihkan dari benalu-benalu yang menghambat pertumbuhannya. Pertumbuhan itu kita usahakan melalui pembinaan dan pembersihan. Setiap ranting yang tidak berbuah dipotong, dan yang berbuah dibersihkan agar ia berbuah lebat.

Salah satu usaha yang dilakukan ialah apa yang dipersiapkan Panitia Pelaksana SSA XXII, Panitia Pengarah, TP3, BPS dan terutama para utusan dan utusan cadangan. Hanya dengan pembaruan budi para anggota Gereja Toraja bisa mengeluarkan buah-buah iman yang lebat.

Banyak yang bisa kita pelajari dari keteladanan A.A. v.d. Loosdrecht dan Istri. Tentu kita tidak mau mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang pantas dikultuskan. Hal itu kiranya dijauhkan dari Gereja Toraja. Namun A.A. v.d. Loosdrecht telah mengorbankan hidupnya bagi pertumbuhan Gereja Toraja. Gereja Toraja belum lahir ketika ia sudah tiada, namun benih yang terkecil sudah menjadi pohon besar. Kelebihan-kelebihan Van de Loosdrecht tentu banyak, namun ada juga kelemahan-kelemahannya. Kelebihannya kita bisa lihat dari kerajinannya menjalankan tugas. Apa yang diceritakan melalui surat-surat yang diwariskan kepada kita menimbulkan kekaguman pada kita. Beliau hampir-hampir tidak mengenal lelah. Beliau sering tidak berada di rumah bersama istri, ia meinggalkan istri berhari-hari, bahkan bermingu karena tugas.

Ketahanannya menghadapi tantangan dapat dilihat dari lukisan-lukisan perjalanan mereka dari Tentena melalui Wotu, Malili, Palopo ke Rantepao. Juga dapat kita lihat dari perjalanan kelilingnya di daerah pelayanannya. Kita hanya bisa kagum. Apa rahasianya? Pertanyaan itulah yang perlu kita simak dari membaca DBTTMP.

Bagi saya yang patut dicontoh ialah imannya yang dinampakkannya melalui dedikasinya dalam bentuk kerajinannya melaksanakan tugas yang diembannya. Demikian pula istrinya. Apa yang patut diteladani dari dia? Bagi saya dan mudah-mudahan juga bagi para istri pendeta atau suami pendeta, dia adalah seorang istri pelayan (pendeta) yang patut diteladani. Dalam seluruh buku DGTTMP saya tidak pernah menemukan suatu keluhan. Padahal sangatlah manusiawi apabila seseorang merasa sendirian dan dihinggapi rasa kesepian ketika ia berada seorang diri dalam situasi yang asing baginya. Bahkan putrinya bersaksi bahwa ibunya tidak pernah bercerita tentang masalah-masalah pribadi yang dialaminya.

Epilog yang ditulis oleh putrinya merupakan kesaksian yang melukiskan pergumulan nyonya Ida Van de Loosdrecht sebagai seorang pahlawan iman. Mungkin hal-hal inilah yang perlu kita renungkan dan hayati. Bukan itu saja. Spiritualitas inilah yang hendaknya kita usahakan.

Dalam khotbah saya pada Yubileum 50 tahun Gereja Toraja saya mengatakan bahwa orang-orang tua kita yang memimpin bakal Gereja Toraja di zaman pendudukan Jepang dan sesudahnya di zaman Kahar Muzakkar adalah orang-orang yang berpendidikan tidak seperti kita sekarang ini.

Pendidikan mereka sederhana, paling tamat SD ditambah pendidikan guru 2 tahun di Barana’ dan yang kemudian ditambah lagi 2 tahun pendidikan guru Injil untuk menjadi guru Injil. Namun mereka berhasil membahterakan bakal Gereja Toraja menjadi Gereja Toraja yang mandiri melalui berbagai badai, badai Jepang, badai Kahar Muzakkar, dll. dalam keadaan yang serba sulit di kala mereka bertugas. Namun bakal Gereja Toraja sudah menjadi pohon yang besar dan rindang, tempat bernaung kebanyakan orang Toraja.

Kini Gereja Toraja sebagai pohon besar semakin sulit mencari jalan keluar dari berbagai persoalan, padahal para pemimpinnya sudah praktis semua S1, sudah banyak S2 dan bahkan S3. Tetapi Gereja Toraja sudah ibarat pohon besar yang kurang buahnya atau sepat, mungkin pula busuk. Di manakah akar permasalahannya?

Menjawab pertanyaan itu saya hanya mau melihat kembali kepada Van de Loosdrecht dan para zendeling yang lain, misalnya Van Weerden yang berpendidikan sangat rendah, ia tidak tamat SD. Ia diasuh oleh neneknya di rumah, kemudian ia masuk tentara (marechausseé), sesudah itu ia mengikuti pendidikan zending di Rotterdam. Namun Van Weerden mampu memandirikan jemaat Salutallang di Rongkong dalam waktu sesudah ia bekerja 10 tahun sebagai zendeling (misionaris). Ia dikagumi.

Kita patut bersyukur karena kepada kita minimal diberikan bahan untuk direnungkan. Kita patut bercermin ke dalam awal sejarah kita untuk bisa memahami diri kita yang semakin menjadi dewasa, mandiri dan besar. Namun perkembangan ke arah kemandirian bisa juga salah arah apabila kita meninggalkan sejarah. Kita bisa berkata dengan Sukarno: Jasmerah! Kalau kita tidak berakar dengan baik dalam sejarah kita, maka kita bisa saja diombang-ambingkan oleh segala macam pengajaran dan perilaku yang menyimpang dari yang dikehendaki oleh Allah. Kita bisa membarui dan memperbanyak ritus keberagamaan kita, namun mungkin tidak berkenan kepada Allah. Mencari kehendak Allah adalah tugas yang tidak terelakkan dalam perkembangan arus globalisasi di segala bidang, terutama di bidang kerohanian.

Sesudah membaca DBTTMP, kesimpulan saya ialah bahwa riwayat hidup A.A. v.d. Loosdrecht bersama Istri memberikan teladan kepada kita untuk diikuti dalam melaksanakan tugas pelayanan kita sebagai para pelayan Tuhan, bukan saja sebagai pendeta, tetapi juga bagi setiap anggota yang merasa terbeban untuk ikut melayani sebagai majelis gereja, pengurus OIG, bahkan sebagai anggota umat Allah yang diberikan tugas untuk menjadi berkat bagi dunia. Bapak-bapak misionaris pertama serta para guru Injil dan mereka yang kemudian diangkat menjadi pendeta zending, pendeta Toraja dan para pekerja zending di awal sejarah Gereja Toraja, berpendidikan tidak terlalu tinggi.

Tidak sama seperti para pendeta dan pemimpin jemaat-jemaat Gereja Toraja dewasa ini. Namun kita merasa kecil kalau kita bercermin kepada iman dan dedikasi mereka yang membuat mereka berhasil dalam pelayanan mereka. Hasil pekerjaan mereka inilah yang dipercayakan kepada kita sekarang. Apabila kita mengikuti jejak mereka, berdedikasi seperti mereka, maka pasti Gereja Toraja akan lebih memenuhi lagi tugasnya untuk membawa damai bagi semua.

(Tulisan ini disampaikan di Depok baru-baru ini, dalam bedah buku “Dari Benih Terkecil Tumbuh Menjadi Pohon”, Kisah Anton dan Alida van de Loosdrecht, Misionaris Pertama ke Toraja).


   

Paradigma Baru Manajemen Gerejawi

 

Paradigma Baru Manajemen Gerejawi



Manajemen secara sederhana adalah keseluruhan upaya, yang terkait dengan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian, pengawasan serta perbaikan, dari berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan tertentu dengan berdasar pada nilai-nilai dan kaidah-kaidah tertentu pula. Sumber daya yang biasanya menjadi perhatian adalah “manusia”, perangkat atau alat, modal/uang, metoda, iptek dan informasi.

Dalam suatu kegiatan ekonomi, tujuan yang umum adalah nilai tambah, laba atau suatu hasil tertentu dalam bentuk barang dan jasa. Apabila kita berbicara tentang manajemen gerejawi, pada umumnya lebih terfokus pada organisasi gerejawi dan pengelolaan berbagai aspek kehidupan bergereja. Para ahli lebih senang memakai penatalayanan, dengan fokus pada layanan yang ditata dengan baik supaya Tuhan dapat memakainya untuk menyatakan kehendak-Nya.

Saya tak akan mempersoalkan semantik, tetapi hanya ingin menyatakan bahwa gereja pun ada tujuannya, ada yang ingin diwujudkan, yaitu persekutuan, pelayanan, kesaksian dan pemberitaan Injil, yang semuanya bermuara pada orang yang diselamatkan di samping salah satu bentuk nilai tambah.

Kita juga harus menerima kenyataan bahwa pola manajemen/pengelolaan gerejawi telah banyak dipengaruhi oleh manajemen yang berkembang di dunia sekuler. Ada pengaruh yang baik, ada pula yang kurang tepat.

Penulis sendiri berpegang pada pemahaman Alkitabiah, bahwa tak ada pemisahan dan pengkotakan antara yang rohaniah dan yang sekuler. Semuanya kita persembahkan kepada Tunan sebagai ibadah yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Saya menulis makalah ini secara populer, untuk kiranya dapat direnungkan dalam rangka mengadakan evaluasi tentang manajemen gereja kita. Sebagian dari apa yang saya sajikan di sini, telah saya sampaikan pada Sidang Raya PGI – di Caringin Bogor akhir 2004, sebagai Ketua Tim Restrukturisasi PGI. Saya harus menegaskan bahwa tulisan ini adalah tulisan seorang awam, bukan ahli, oleh karena itu pasti banyak kekurangan dan kelemahannya.

Apa yang Ingin Dicapai?

Kita harus mulai dengan pemahaman yang sama : “Apakah gereja itu?” Secara prinsip gereja adalah “persekutuan orang-orang yang sudah diselamatkan karena percaya pada dan menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamatnya, yang dikuduskan agar mencerminkan ciri-ciri Kristus dalam kehidupannya, dan dikirim ke dalam dunia sebagai kawan sekerja Allah untuk menjadi berkat. Jadi jelas gereja bukan hanya gedung atau organisasi. Komponen utamanya adalah “orang-orang yang sudah diselamatkan dan berada dalam persekutuan.”

Dari pemahaman itu, kita lihat sebagai persekutuan orang-orang percaya. Sudah bisa dibayangkan betapa pentingnya ada tatakrama persekutuan, aturan-aturan yang menjadi pegangan bersama; ajaran yang merupakan landasan dan pegangan kebersamaan. Persekutuan ini juga pasti ada tujuan bersama. Kalau kita simak dari Kisah 2 : 41 – 47, ada beberapa hal pokok yang menjadi tujuan: (1) persekutuan yang semakin bertumbuh dalam Tuhan, tekun mempelajari Firman Tuhan bersama dan mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya. (2) Saling melayani dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk mendukung dalam memenuhi kebutuhan hidup. (3) Bersaksi/memberitakan Injil termasuk melalui gaya hidup yang sangat menawan.

Persekutuan ini adalah kawan sekerja Allah untuk menambahkan orang yang diselamatkan. Perbedaan budaya, latar belakang dan status sosial tidak menjadi hambatan yang berarti karena kesatuan dalam Kristus menjadi perekat utama dari persekutuan yang bersuka cita dan memuji Tuhan. Pengembangan dari prinsip-prinsip dasar di atas adalah “adanya institusi gereja” seperti Gereja Katolik Roma, Gereja Presbyterian, Gereja Kristen Indonesia, dan Gereja Toraja.

Di dalam Gereja Toraja, Tata Gereja merumuskan tujuan-tujuan yang ingin diwujudkan. Visi 2001 – 2006 adalah “ damai sejahtera bagi semua.” Kalau kita konsekuen dan konsisten dengan rumusan visi ini, maka wawasan Gereja Toraja sangat Alkitabiah, sangat mulia. Namun kita harus bertanya: “Mengapa visi indah ini, dipersempit, hampir-hampir hanya untuk etnis Toraja? Sudah banyak diskusi dan perdebatan mengenai ini. Hal itu tidak akan dilanjutkan dalam makalah ringkas ini.

Manajemen Gereja Toraja

Seperti diuraikan di atas, kalau berbicara tentang manajemen, kita akan bicara soal visi dan misi, soal organisasi, soal sumber daya manusia, soal modal/dana, soal iptek dan informasi yang dikelola dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian dan pengawasan untuk perbaikan.

Gereja Toraja sudah menetapkan untuk menganut asas presbiterial-sinodal, yang mendorong kemandirian jemaat dalam satu kerja sama sinodal. Oleh karena itu fokus manajemen gerejawi yang secara prinsip dianut oleh Gereja Toraja adalah manajeman jemaat. Jemaatlah yang dalam lingkungannya memahami tempat dia berada, sehingga dapat merancang tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Misalnya saja tujuan “pertumbuhan rohaniah jemaat, pertumbuhan jumlah anggota, pelayanan, kesaksian dan pemberitaan Kabar Baik (Injil). Jemaat dipimpin dan dilayani oleh pendeta bersama majelis yang jumlah dan tugasnya disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai. Warga jemaat pun dilibatkan dalam berbagai pengelolaan pelayanan. Konstruksi organisasi jemaat relatif sederhana, dan hampir seluruh pengelolaan dilaksanakan oleh warga jemaat secara sukarela sesuai dengan panggilannya. Pendeta dan biasanya satu atau dua karyawanlah yang bekerja/melayani pada kegiatan gerejawi secara penuh waktu.

Perlu digarisbawahi bahwa tercapainya tujuan yang disepakati adalah tanggung jawab bersama pendeta, majelis dan warga jemaat, karena Firman Tuhan membandingkan anggota jemaat dengan anggota tubuh Kristus dan menegaskan bahwa ada rupa-rupa karunia dan kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama (II Korintus 12 : 4-7).

Paradigma Baru

Pada tingkat jemaat, sudah sangat berakar bahwa pendeta sebagai ketua majelis dan majelislah yang memimpin (bahkan sering dipakai memerintah) jemaat. Alkitab berbicara tentang Yesus Kristus sebagai kepala gereja. Dia sangat mengasihi gereja. Dia berkorban untuk gereja. Dengan konotasi pemimpin atau pemerintah jemaat, organisasi biasanya digambarkan dalam bentuk piramida organisasi, yang pada umumnya menekankan kewenangan, kekuasaan. Organisasi adalah alat untuk mencapai tujuan. Karena “fokus tujuan” adalah jemaat dan masyarakat yang dilayani, organisasi seyogianya dibangun agar tujuan dapat dicapai dengan efektif, efisien.

Oleh karena itulah di Sidang Raya PGI yang lalu saya mengetengahkan piramida terbalik sebagai bentuk organisasi yang lebih sesuai untuk gereja. Yang harus diutamakan adalah umat dan masyarakat yang dilayani, ditempatkan paling atas. Pendeta dan majelis, digambarkan paling bawah sehingga tergambar bahwa fokus utama tugas dan fungsi pendeta dan majelis adalah melayani. Pelayanan dalam persekutuan dan kepada masyarakat, dilaksanakan melalui bidang dan komisi yang seharusnya melibatkan seluruh warga jemaat. Piramida terbalik (atau lebih mantap lagi – piramida datar), menggambarkan “kebersamaan yang kompak dari seluruh elemen” untuk menggelar pelayanan intern dan ekstern. Inilah yang saya ingin angkat sebagai paradigma baru organisasi gerejawi.

Dengan paradigma baru ini, kita tidak terlalu penting lagi memperdebatkan apakah yang menjadi ketua majelis harus pendeta ataukah nonpendeta yang memang terpanggil dan telah diperlengkapi oleh Tuhan untuk tugas-tugas mulia itu. Pertanyaan terpenting yang harus kita angkat adalah “siapakah yang terpanggil” dan paling baik diperlengkapi dengan kompetensi yang tepat. Kalau demikian, kriteria ketua bukan lagi “pendeta” tetapi kalau ada awam/ nonpendeta yang terpanggil, memiliki visi-misi ilahi, siap menyediakan waktu, memiliki kompetensi teologis dan manajemen gerejawi yang sudah terbukti melalui track record, tidakkah dia yang diberi kesempatan? Pada akhirnya yang harus kita lihat adalah kualitas layanan, kesaksian dan pemberitaan serta perkembangan jemaat sebagai faktor evaluasi.

Jemaat, yang secara presbiterial, mandiri dan otonom, tidak boleh hanya menjadi pulau tersendiri. Dia harus berada dalam persekutuan jemaat-jemaat, serhingga wawasan, pelayanan dan kesaksiannya menjadi lebih luas. Persekutuan jemaat-jemaat inilah yang membentuk klasis, sehinga pergumulan dan kesempatan pelayanan dan kesaksian dapat ditangani bersama.

Dari pengamatan di lapangan sekitar 10 sampai 20 jemaat bersekutu dalam satu klasis. Dalam konteks paradigma baru, perhimpunan atau persekutuan dalam klasis inilah, yang mengkoordinasikan pelayanan, kesaksian dan pemberdayaan warga gereja yang lebih luas, sehingga berkembang kebersamaan, pertumbuhan dan pemberdayaan warga gereja serta kerja sama dalam menghadapi tantangan dan masalah. Dalam konteks inilah disarankan agar klasis diberdayakan dan menjadi koordinator, pelaksana kegiatan antarjemaat, bahkan antargereja dan antaragereja dengan pemerintah dan masyarakat sekitarnya.

Dalam konteks sistem presbiterial-sinodal, jemaat-jemaat itulah yang berhimpun dalam satu sinode. Dalam konteks paradigma baru, yang menjadi fokus dari sinode adalah jemaat, warga jemaat dan masyarakat. Oleh karena itu konsep piramida terbalik (atau datar) ini, sangat relevan untuk juga secara prinsip menjadi pola organisasi. Dengan demikian gambar organisasi Sinode Gereja Toraja, misalnya akan menampilkan Ketua BPS paling bawah, sebagai yang paling bertanggung jawab untuk pelayanan seluruh jemaat dan masyarakat. Kalau penekanan sebagai pelayan yang terpanggil dan yang paling kompeten dan diberi karunia yang tepat oleh Tuhan untuk tanggung jawab pelayanan tersebut, merupakan kriteria untuk Ketua BPS, maka kita mulai memasuki era baru manajemen gereja. Paradigma piramida terbalik (datar) ini telah diterima dan dilaksanakan dalam menyusun gambar struktur organisasi Jemaat Kota Gereja Toraja, Jakarta.

Tulisan ringkas ini dibatasi oleh ruang untuk dapat membahas secara rinci organisasi BPS. Salah satu aspek, paradigma baru adalah menetapkan “anggota yang dipilih” (Ketua Umum, ketua I, II, III) dalam fungsi dan tugasnya bersifat kolegial, sehingga pengambilan keputusan, penetapan strategi, pengendalian program dan biaya, menjadi tanggung jawab kolegial. Hal ini dapat merupakan cerminan kebersamaan persekutuan dalam pelayanan.

Good Church Governance

“Governance” lagi marak dibicarakan dan disoroti di dunia bisnis. Fokus utama adalah transparansi, akuntabilitas, partisipasi dan kesetaraan. Pada tatanan jemaat, prinsip “good church governance” ini masih harus mendapat perhatian. Aspek transparansi dalam pengambilan keputusan, serta pertanggung jawaban keuangan dan pelaksanaan program masih harus diperbaiki. Disiplin administrasi pada umumnya masih lemah sehingga menyulitkan verifikasi (apalagi kalau akan diaudit atas dasar prinisp-prinsip akuntansi yang benar).

Yang banyak disoroti adalah peran, tugas pokok, fungsi dan akuntabilitas BPS. Secara sistematik dan tata pamong (governance), SSA adalah persidangan gerejawi tertinggi, yang di dalamnya seluruh warga jemaat terwakili. Lembaga inilah yang menetapkan aspek-aspek strategis terpenting dari kehidupan bergereja. BPS sebagai institutsi adalah pelaksana seluruh aspek yang ditugaskan oleh SSA. Oleh karena SSA adalah perwakilan jemaat-jemaat, dalam konteks piramida terbalik, BPS menjadi pelayan jemaat-jemaat dalam berbagai aspek. Pertanyaan muncul, apakah pelayan BPS harus juga mengikuti urutan jenjang. Maksudnya melalui BPSW, yang sepertinya, di satu pihak hanya bentukan SSW dan di pihak lain tidak ada kaitannya dengan BPS dan BPK. Mungkin ini salah satu sebab mengapa cukup banyak jemaat dan klasis sudah mengusulkan agar BPSW dan SSW ditiadakan, selain mengurangi biaya, juga memperpendek birokrasi, bahkan ada kesan BPSW-nya tidak jelas akuntabilitasnya.

Pertanyaan yang sama dapat dilontarkan untuk BPK dan Sidang Klasis. Namun kalau ditinjau dari sudut pandang kebersamaan, persekutuan dan pembinaan warga, serta hubungan dengan masyarakat dan pemerintah, BPK dan Klasis malah perlu diperkuat, diberdayakan, dan menjadi koordinator pembinaan dan pemberdayaan warga gereja di lingkungan klasis.

Manajeman Sumber Daya

Aspek yang sangat penting adalah “manusia”, para pelayan Tuhan, baik pendeta mau pun nonpendeta, bahkan setiap anggota jemaat sebagai bagian dari tubuh Kristus. Manajemen ini terkait dengan persiapan (rekrutmen), penugasan, pemberdayaan (pelatihan dan pendidikan), kesajahteraan dan purna bakti. Terkesan bahwa banyak aspek yang belum ditangani dengan baik. Rekrutmen misalnya, terkesan semua tamatan STT akan menjadi pendeta. Kalau pakai kriteria perusahaan General Electric, di setiap kelompok hanya sekitar 20% yang benar-benar terpilih untuk tugas berat yang kreatif. Oleh karena itu, harus kita terima bahwa tidak semua lulusan STT cocok untuk jadi pendeta. Aspek penugasan, panggilan, rotasi cukup rumit dan memerlukan perencanaan dan penanganan yang baik. Belum lagi aspek kesejahteraan dan purna bakti, harus sungguh-sungguh diperhatikan.

Pemberdayaan warga gereja sesuai dengan karunianya masing-masing terus-menerus menjadi tantangan. Jangan sampai potensi karunia Tuhan tidak dikembangkan karena warga jemaat beranggapan bahwa segala-galanya adalah tugas dan tanggung jawab pendeta dan majelis. Pola pikir pemberdayaan untuk kepentingan bersama perlu dihayati, agar pengembangan sumber daya manusia tidak dimotivasi gengsi pribadi atau menimbulkan sikap sombong dan persaingan.

Aspek pengelolaan dana dan aset, menjadi pergumulan banyak warga. Dana kita terserap ke gedung yang mungkin hanya dipakai 2 – 3 kali seminggu. Administrasinya pun belum mantap. Kalau kita lihat di Rantepao, banyak sekali ruangan sekolah, gereja dll yang hampir tidak terpakai sore hari. Dapatkah fasilitas ini diberdayakan?

Aspek keuangan sangat dominan dalam kehidupan Gereja Toraja. Gereja kita kadang disebut gereja les, yang datangnya bertubi-tubi. Ini suatu indikasi yang kurang sehat.

Pada bagian akhir tulisan ini, penulis menyatakan bahwa menulis tentang manajemen gerejawi, sulit dilaksanakan dalam suatu makalah ringkas. Saya merasakan aspek-aspek teologis belum terangkat dalam makalah ini. Tuhanlah yang empunya gereja, yang menuntun, menggembalakan domba-dombanya. Tuhan berkenan memakai warga gereja sebagai kawan sekerja Allah. Oleh karenanya semua yang dilakukan dalam manajemen gereja haruslah berkenan pada dan memuliakan Tuhan.



Jonathan Parapak adalah pakar teknologi komunikasi, Ketua Umum Panitia Pelaksana SSA XXII di Jakarta, Juli 2006.


[ First ] [ Prev ] [ Next ] [ Last ]