HOME
ALKITAB
Gereja Toraja TODAY
FORUM P.A.
BERBUAH
SEKOLAH ALKITAB
INJIL dan MELAYU
God's Word in CHINA
DOWNLOAD Bible
PPGT
Download Info Gerejawi
NEXT Generation
Renungan Harian
Kumpulan TULISAN
Majalah SULO
MENU ARTIKEL
SSAXXII
3 - 8 July 2006
26 Keputusan SSAXXII
BLOG SSAXXII
FOTO2 SSAXXII
Download SSA22 Doc.
FORUM
BUKU TAMU
Kampoeng TORAJA
GEREJA TORAJA TODAY
PEKAN SPIRITUALITAS
Yahoo YM
e-mail me

SSAXXII Menuju Dunia Baru


Salomo.jpg

MENGUBAH DIRI SENDIRI

I Raja-raja 3:4 -15

3:8 Demikianlah hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih, suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya.

3:9 Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yanjahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?"

3:10 Lalu adalah baik di mata Tuhan bahwa Salomo meminta hal yang demikian.



MENGUBAH DIRI SENDIRI

I Raja-raja 3:4 -15

R.P. Borrong

Mengapa perikop ini dipilih?

Sidang sinode Am (SSA) adalah forum para pemimpin gereja. Salomo adalah pemimpin. Maka cerita tentang Salomo relevan dengan SSA ini. Sebagai para pemimpin/pelayan, kita perlu belajar tentang apa yang seharusnya menjadi prioritas dalam kehidupan, khususnya dalam pelayanan kita. Dalam perikop ini Salomo telah memilih “hikmat” sebagai prioritas dari sekian pilihan yang bisa dipilihnya.

Menentukan prioritas dalam kehidupan dan pelayanan kita bukan perkara gampang. Terlalu banyak kepentingan pribadi dan keluarga yang mendorong kita memilih prioritas yang keliru. Perubahan apapun, khususnya perubahan diri sendiri, sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh pilihan prioritas dalam hidup dan pelayanan kita.

Belajar Memilih

Suatu ketika Dewa Wisnu memutuskan memberi tiga pilihan pada seorang penyembah yang selalu bermohon kepadanya. ”Sudah kuputuskan, aku akan memberikan tiga hal, apapun yang kau minta. Sesudah itu, tidak ada sesuatupun yang akan kuberikan kepadamu lagi”. Penyembah itu segera mengajukan permintaan pertama: agar isterinya mati sehingga ia dapat menikah lagi dengan wanita yang lebih baik. Permohonannya segera terkabul. Ketika teman-temannya melayat dan mulai menyebut kebaikan sanga istri yang baru meninggal itu, ia mulai mengenangkan kembali kebaikan-kebaikan isterinya. Ia sadar bahwa dulu ia buta terhadap kebaikan isterinya. Ia segera mengajukan permohoan kedua: agar isterinya hidup kembali.

Kini tinggal satu kesempatan. Dan ia tidak mau melakukan kesalahan konyol lagi. Ia minta nasihat banyak temannya. Ada yang menyarankan agar ia minta hidup abadi, kesehatan atau uang? Tapi apa gunanya semua itu? Untuk apa hidup kekal kalau sakit-sakitan? Untuk apa sehat kalau tak punya uang? Untuk apa punya uang kalau tidak punya teman? Ia bingung dan segera menghadap W8ismu minta nasihat. Wisnu menasihatka: ” mintalah hati yang damai, entah apapun yang terjadi dalam hidupmu” (disadur dari buku, A.de Mello. SJ, Burung Berkicau).

Pemahaman Teks

Gibeon adalah pusat ibadah orang Israel di masa Salomo. Di Gibeon didirikan Kemah Suci untuk TUHAN (I Tawarikh 16:39) dan kesanalah Salomo pergi untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. Di Gibeon, Salomo mendapat visi (penglihatan). TUHAN menawarkan apa saja yang Salomo suka: ”mintalah apa yang hendak kuberikan kepadamu” (ayat 5). Salomo minta ”hati yang paham” - lebh shomea (ayat 9). Kata ini sinonim dengan kata majemuk: ”hati yang penuh hikmat dan pengertian” - lebh chakham we nabhon ( ayat 12).

Lebh Shomea atau lebh chakham biasanya disebut saja sebagai hikmat atau chokhmah. Chokhmah yang diminta Salomo ini bukan sekedar kompetensi intelektual melainkan kompetensi moral (kemampuan membedakan baik dan jahat) dan kemampuan membuat keputusan-keputusan adil, semacam judicial wisdom. Dalam perikop berikutnya memang diberi contoh chokhmah sebagai judicial wisdom (I Raja 3:16-25). Sebagai pemimpin, kompetensi seperti itu menjadi kebutuhan mutlak untuk dapat memimpin dengan baik. Maka chokhmah menjadi prioritas Salomo.

Sebenarnya kata chakham dan chokhmah secara harafiah bisa diterjemahkan sebagai mengetahui atau mengerti. Rakyat biasa bisa memiliki chokhmah dalam arti itu. Namun dalam konteks bacaan di atas maknanya sangat khusus. Chokhmah artinya arif dan bijaksana. Chokhmah dalam arti itu dimaknai sebagai kompetensi dan kualitas moral dan rohani. Dalam masyarakat Timur Tengah Kuno, kompetensi seperti itu biasanya hanya dimiliki oleh dewa dan raja. Chokhmah adalah kualitas seorang raja (band. I Raja 10:3) yang melampaui kekayaan dan kekuasaannya.

Literatur sastra Ibrani menggaris-bawahi bahwa chokhmah merupakan sesuatu yang paling berharga bagi manusia, melampaui emas dan permata (baca misalnya Ayub 28:12-19; Amsal 20:15). Karena itu memilih hikmat sebagai prioritas merupakan pilihan tepat. Apalagi karena hikmat memang tidak diperoleh dengan usaha manusia melainkan sebagai pemberian dari TUHAN (Ayub 28:20-28, khusuws ayat 23 dan 28).

Salomo memilih untuk meminta chokhmah dan pilihan itu jitu. Chokhmah adalah sesuatu yang paling penting melampaui sumber wibawa raja lainnya. Karena Salomo memilih chokhmah maka kepadanya ditambahkan segala yang diperlukan oleh seorang raja di dunia: kekayaan, kemuliaan dan umur panjang (ayat 13-14). Semua pemberian tambahan itu juga dibutuhkann untuk menopang tugasnya sebagai pemimpin. Salomo menjadi sangat terkenal, disegani dan berwibawa justru karena chokhmah yang diberikan oleh TUHAN itu benar-benar fungsional dan operasional dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin umat.

Pertanyaan untuk diskusi: Apa yang menjadi prioritas dalam hidup saudara? Apakah prioritas itu sudah mendukung tugas saudara sebagai pelayan/pemimpin? Adakah yang saudara perlu ubah dan barui dengan pilihan prioritas saudara? Tuliskan jawaban sauadara dalam kertas yang disiapkan!

Mengubah diri dengan pilihan

Sufi Bazayid bercerita tentang dirinya demikian: “waktu masih muda aku ini revolusioner dan aku selalu berdoa: TUHAN berilah aku kekuatan untuk mengubah dunia!”. “Ketika aku sudah separuh baya dan sadar bahwa setengah hidupku sudah lewat tanpa mengubah satu orangpun, aku mengubah doaku menjadi: TUHAN berilah aku rahmat untuk mengubah semua orang yang berhubungan denganku, keluarga dan kawan-kawanku, dan aku akan merasa puas”. “

“Sekarang ketika aku sudah menjadi tua dan saat kematianku sudah dekat, aku mulai melihat betapa bodohnya aku. Doaku satu-satunya sekarang adalah: TUHAN, berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri. Seandainya sejak semula aku berdoa begitu, maka aku tidak begitu menyia-nyiakan hidupku”. (dikutip dari buku, A.de Mello. SJ, Burung Berkicau).

Tidak seorangpun dapat menjamin bahwa pilihan prioritas dalam hidupnya sudah tepat. Pilihan prioritas sangat dipengaruhi oleh idealisme, visi dan kepentingan hidup setiap orang. Ada orang memilih prioritas atas dasar kekuasaan. Ada yang mendasarkannya atas materi. Ada pula yang mendasarkannya pada keyakinan berlebihan pada kemampuan diri. Alasan-alasan itu, dan berbagai alasan lainnya, mungkin tak pernah kita sadari dan tak pernah pula kita evaluasi. Namun sebagai pemimpin, kita menyadari bahwa sebenarnya setiap saat kita perlu mengevaluasi apakah pilihan prioritas dalam hidup dan pelayanan kita sudah tepat.

Sebenarnya ukuran keberhasilan dalam hidup dan pelayanan ditentukan oleh tepatnya prioritas pilihan kita. Kita seringkali membiarkan begitu lama status quo. Status quo dipertahankan karena keyakinan, tetapi tidak jarang pula tanpa keyakinan. Mungkin hanya karena kita tidak peduli pada hasil karya kita. Mungkin juga karena kita tidak punya visi mengenai tugas yang kita sedang kerjakan. Mungkin kita sekedar bekerja saja. Atau kita bekerja sekedar cari makan, yang penting imbalannya. Atau kita sedang cari aman saja, tidak peduli qapa akibatnya.

Pelajaran berharga dapat kita timba dari pesan Bazayid. Terlalu ideal, tak njelas Kita tidak boleh terlalu terlambat mengubah diri dan orientasi hidup kita. Apa yang menjadi obsesi pribadi kita? Menjadi pendeta atau pemimpin gereja yang terkenal karena khotbah kita hebat? Atau karena gelar kita banyak dan tinggi? Ataupun karena kedudukan kita penting? Atau karena income yang kita peroleh cukup baik? Apa yang memuaskan kita? Apa yang menjadi ukuran keberhasilan kita?

Pertanyaan yang begitu banyak di atas ini tidak untuk dijawab semua saat ini. Sebagian besar akqan dijawab dalam proses pekerjaan kita sesudah SSA ini. Kalau kita kembali kepada teks bacaan di atas, maka yang perlu mendapat perhatian kita adalah akibat kalau kita salah pilih. Seandainya Salomo tidak memilih chokhmah, mungkin ia tidak pernah dicatat sebagai raja yang berhasil, walaupun banyak juga kegagalannya. Semua pemimpin pasti ada kekuarangannya. Tetapi semua pemimpin bertanggung jawab untuk meminimalkan kekurangannya, antara lain dengan selalu mengevaluasi kinerja dan hasil karyanya. Inilah yang menuntut perubahan dari setiap orang.

Pertanyaan untuk diskuasi. Apa yang perlu saudara ubah menyangkut orientasi pelayanan saudara? Apakah saudara merasa tidak perlu ada yang diubah? Apakah ada sesuatu yang perlu diubah berkenan dengan doa, cara kerja, prioritas atau yang lain? Silakan memikirkan apa saja yang perlu diubah pada kebiasaan pribadi yang mungkin merugikan saudara dan pelayanan saudara. Apa yang saudara harapkan dihasilkan oleh perubahan yang akan saudara lakukan: bagi saudara sendiri, bagi orang lain, bagi Gereja Toraja! Setelah yakin apa yang perlu saudara ubah, dan akibat yang saudara harapkan, tuliskanlah jawaban saudara pada kertas yang disediakan dan menempelkannya pada tempat yang sudah ditentukan.

Selamat berdiskusi!

[ First ] [ Prev ] [ Next ] [ Last ]