SUATU HARAPAN dan DOA
Berubahlah oleh Pembaruan Budimu:
Quovadis SSA XXII Gereja Toraja?
Jonathan Parapak
Sidang Sinode Am (SSA) Gereja Toraja telah dilaksanakan secara rutin sekali setiap 5 tahun. Sesuai dengan Tata Gereja Toraja, SSA adalah persidangan tertinggi gereja yang berkantor pusat di Rantepao, Sulawesi Selatan itu. Dengan demikian, sangat wajar semua warga mengharapkan SSA berlangsung dengan hikmat Ilahi, dalam suasana spiritualitas yang tinggi, yang bergumul mencari kehendak Tuhan dan pencerahan Tuhan bagi Gereja Toraja.
Tata cara persidangan seharusnya menampilkan wujud buah Roh yang penuh kasih, kelemahlembutan, penguasaan diri, agar semua yang terjadi dan dihasilkan membawa kemuliaan bagi Allah Bapa kita. Tentu banyak lagi harapan warga jemaat yang indah-indah mengenai SSA, namun bagaimanakah realitas dalam pengalaman kita?
Ada yang mengatakan, SSA kita (sudah) tak ubahnya dengan musyawarah nasional (munas) partai politik, penuh interupsi yang tak sopan. Perdebatan bukan lagi bagi kemuliaan Tuhan, tetapi mungkin untuk kepentingan kita, kelompok kita, masa depan kita dan sebagainya. Kita tidak lagi bergumul tentang apa yang Tuhan kehendaki, tetapi apa yang kita kehendaki. Kita “bertanding” untuk posisi ketua umum, seperti partai politik memperebutkan posisi penting, kalau perlu dengan uang.
Apakah sorotan-sorotan ini beralasan? Mari kita wawas diri. Namun tidaklah cukup untuk wawas diri. Kita harus bertekad bahwa ada pembaruan untuk kemuliaan nama Tuhan. Amat membesarkan semangat bahwa semua unsur telah sepakat untuk SSA XXII yang akan datang, akan merupakan SSA pembaruan. Pembaruan bukan saja dalam format pelaksanaan, cara persidangan, tetapi pembaruan yang lebih mendasar. SSA XXII akan menggumuli apa kehendak Tuhan untuk Gereja Toraja 5-10 tahun mendatang. Apa-apa yang perlu dibarui, baik dalam hal SSA, maupun dalam kehidupan Gereja Toraja secara menyeluruh. Dalam kaitan itu, Panitia Pelaksana dan Panitia Pengarah SSA XXII telah berusaha mengajak seluruh komponen Gereja Toraja menggumuli, apa yang perlu dibarui baik dalam pelaksanaan SSA maupun dalam kehidupan Gereja Toraja secara menyeluruh dan mendasar.
SSA Pembaruan
Tema SSA XXII yang telah dipilih adalah:Berubahlah oleh Pembaruan Budimu ( Roma 12:2 ) dan Subtema: Mewujudkan Pembaruan yang Membawa Damai Sejahtera bagi Semua. Baik tema maupun subtema mengajak kita untuk membuat komitmen pembaruan bukan hanya seluas-luasnya, tetapi juga seutuhnya. Dalam pembahasan, pergumulan, studi dan doa, telah mengemuka berbagai aspek yang kiranya perlu jadi prioritas pembaruan dalam Gereja Toraja. Prioritas itu antara lain, aspek spiritualitas warga jemaat, para pelayan dan para pemimpin dalam gereja; aspek kelembagaan, jangan sampai tugas pokok gereja terpasung oleh lembaga, yang seharusnya menjadi alat untuk mencapai apa yang Tuhan inginkan; aspek persidangan gerejawi yang lebih menampilkan persidangan bisnis, dan organisasi daripada pelayanan dan kerohanian; aspek pelayanan dan kualitas serta kesejahteraan para pelayan. Ada kesan, keterpanggilan para pelayan tidak lagi suatu faktor utama kependetaan, tetapi hanya merupakan salah satu tempat kerja. Dalam aspek pekabaran Injil, sebagai gereja suku, juga terpanggil untuk menyampaikan Injil kepada semua bangsa, tanpa pilih suku bangsa, mewujudkan damai sejahtera bagi semua. Aspek pelayanan gerejawi, yang terkesan hanya melayani anggotanya, kurang peduli pada sesama warga Gereja Toraja, apa lagi warga masyarakat lainnya; aspek ibadah, yang oleh sebagian jemaat dirasakan monoton dan kurang menumbuh-kembangkan kehidupan spiritual utuh; aspek pendidikan yang dulu merupakan jurus pelayanan Gereja Toraja yang luas, kini mau ke mana pendidikan di dalam gereja ini? Demikian pula dengan pelayanan kesehatan; aspek adat dan budaya yang terus menjadi pergumulan banyak warga jemaat. Banyak warga gereja lebih patuh pada apa “ kata adat, budaya” daripada apa kata Firman Tuhan; aspek sikap terhadap politik dan lingkungan.
Kita semua berharap, warga gereja telah dilibatkan seluas mungkin dalam menggumuli berbagai aspek pembaruan, mendoakannya dan ikut membahasnya dalam sidang jemaat, sidang majelis jemaat, sidang klasis dan sidang sinode wilayah.
Yang menjadi perhatian Panitia Pelaksana, selain hal-hal penting di atas adalah proses persiapan dan pelaksanaan SSA itu sendiri. Dalam proses persiapan, Panitia Pelaksana telah ikut serta secara mendalam menggumuli materi pembaruan yang mengemuka, telah mengajak berbagai pihak untuk memberi masukan, dan telah menyebarluaskan hasil-hasil pergumulan, pemikiran yang berkembang ke berbagai jemaat, klasis dan warga jemaat.
Dengan demikian diharapkan, materi yang akan dibahas di SSA XXII nanti adalah hasil perenungan, pergumulan, pembahasan yang dicerahi oleh Firman Tuhan dan dilakukan dalam persekutuan yang mencari kehendak Tuhan. Panitia sangat mengharapkan, SSA yang akan datang merupakan persidangan gerejawi yang sangat hikmat, karena dipimpin oleh Roh Kudus, dan mengambil keputusan yang memuliakan Allah.
Pembaruan
Dari sudut pandang pelaksanaan, Panitia Pelaksana telah mendoakan, menggumuli dan mempelajari waktu, materi dan tata cara persidangan SSA. Sesudah banyak bergumul, berdoa dan berkonsultasi, disarankan agar waktu pelaksanaan SSA diperpendek dari 10 hari menjadi 5 hari. Pembaruan ini akan menghasilkan penghematan yang besar, disiplin persidangan yang kita harus pertanggungjawabkan kepada Tuhan dan warga gereja kita, serta cara kerja mempersiapkan SSA XXII yang lebih baik lagi.
Bagian dari pembaruan ini adalah mempersiapkan semua peserta agar datang ke SSA dengan hati dan pikiran yang ingin memuliakan Tuhan, mendalami materi, dan siap memberikan pandangan untuk mengambil keputusan dengan hikmat Ilahi. Selain itu, hal-hal yang bersifat administratif dapat diselesaikan oleh panitia di luar sidang sehingga menghemat waktu sidang.
Pengesahan kredensial misalnya dapat diperiksa oleh panitia khusus dan dilaporkan dalam sidang hanya untuk disahkan. Tata tertib yang biasanya mengambil banyak waktu, diusahakan dibahas dan dipersiapkan oleh sidang sinode wilayah (SSW), dan hanya disahkan di dalam SSA. Sementara pemilihan pejabat BPS, sebaiknya lebih merupakan peristiwa rohani daripada peristiwa lobi (lobby) atau politik uang (money politics). Kita kiranya dapat belajar banyak dari apa yang baru saja terjadi di Vatikan. Mereka yang mengindikasikan ambisi duniawi dengan cara duniawi sebaiknya tak dicalonkan. Yang sangat diperlukan adalah seluruh warga berdoa agar Tuhan mengirim orang terpilih yang Tuhan sudah siapkan, dipanggil dan terpanggil, telah menampilkan kehidupan holistik (menyeluruh, totalitas) yang patut jadi contoh, pemimpin spiritual yang tangguh dan andal, mereka yang telah terbukti banyak menjadi berkat dalam pelayanannya dan didukung oleh warga jemaat.
Panitia Pelaksana sangat mengharapkan bahwa SSA XXII ini merupakan tahapan pembaruan yang penting untuk masa depan Gereja Toraja yang adalah milik Yesus Kristus. Panitia mengharapkan agar perilaku persidangan baik dalam penyampaian pikiran, gagasan, dan pandangan sungguh-sungguh adalah perilaku kristiani, dan apapun yang menyimpang dari pola dan perilaku kristiani tidak dibiarkan terjadi dalam persidangan.
Atas dasar paparan di atas, dalam Rapat Gabungan Panitia Pelaksana, Panitia Pengarah, BPS, BPK Pulau Jawa telah diputuskan untuk menyelenggarakan SSA XXII di Jakarta, tepatnya di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah, 4-8 Juli 2006.
Panitia menyadari, banyak utusan yang akan datang dari daerah terpencil yang mungkin belum pernah datang ke Jakarta. Oleh karena itu Pantia Pelaksana akan mempersiapkan panitia khusus yang akan membantu utusan yang memerlukan akomodasi 1-2 hari sebelum dimulainya SSA, di rumah keluarga Toraja yang ada di sekitar Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok.
Kami juga menyarankan agar utusan wilayah bisa berangkat bersama dari Makassar atau kota lain, sehingga bisa mendapatkan tiket pesawat murah, apabila dipesan jauh sebelum waktu berangkat. Sebagai contoh Makassar–Jakarta PP, variasai harga antara Rp 600.000 sampai Rp 2.200.000. Panitia menyadari kemampuan keuangan dari berbagai jemaat yang ada dalam Gereja Toraja. Oleh karena itu panitia mengharapkan kerja sama di tingkat wilayah dan klasis untuk ikut membantu biaya perjalanan utusan. Panitia juga sudah berusaha mencari tempat yang cocok untuk SSA XXII, dengan harga yang masih terjangkau. Untuk menginap 5 hari di Padepokan akan memerlukan biaya setiap utusan minimum Rp 750.000. Oleh karena itu, biaya yang akan dibebankan kepada setiap utusan adalah Rp 750.000, dan bagi mereka yang keuangannya tak memungkinkan Rp 500.000. Biaya lain termasuk sekretariat, pembukaan akan diusahakan oleh Panitia. Bagian dari pembaruan yang kita harus gumuli adalah bagaimana menyelenggarakan SSA yang pelaksanaannya sudah dirancang dengan baik. Pendanaannya pun sudah dipersiapkan secara rutin.
Persiapan Utusan
Secara umum banyak yang berpendapat bahwa keberhasilan suatu SSA akan sepenuhnya tergantung pada Panitia Pelaksana, Panitia Pengarah dan BPS. Memang betul bahwa panitia perlu bekerja keras untuk menyukseskan SSA. Tetapi kalau kita simak secara cermat, panitia adalah aparat pendukung saja. Keberhasilan SSA sangat tergantung pada para utusan. Oleh karena itu amatlah penting bagi jemaat, klasis, SSW, memilih utusan yang tepat, mempersiapkan utusannya dengan baik agar mereka siap memasuki persidangan dengan hikmat Ilahi, sudah mendoakan, menggumuli dan mempersiapkan apa yang Tuhan telah berikan kepada jemaat, klasis, SSW untuk dibahas dan diputuskan di SSA.
Kami harapkan mereka yang ditetapkan akan menjadi utusan, segera aktif mencari bahan, berdiskusi, berdoa, bergumul sehingga secara spiritual siap memasuki SSA dan secara prosedural siap mengambil keputusan terbaik yang memuliakan Tuhan. Kami harapkan semua utusan yang sudah ditetapkan di SSW akan ikut diskusi di internet Mailist SSA22. Pengalaman SSA yang lalu adalah membanjirnya utusan cadangan dan peninjau yang kadang ikut memperkeruh suasana. Kami harapkan kalau kita tetap membuka kesempatan untuk utusan cadangan, merekapun harus dipersiapkan, dan betul-betul hadir hanya sebagai cadangan, atau peninjau. Sebaiknya persidangan gerejawi tidak terintervensi oleh mereka yang belum berdoa, belum mendalami masalah, belum bergumul di hadapan Tuhan, sehingga keputusan yang diambil terjadi dalam suasana persekutuan yang indah.
Sosialisasi dan Hasil SSA
Salah satu hal yang kadang menyedihkan dan mengecewakan adalah selesainya suatu SSA dan laporannya dibuat, maka selesailah semuanya, termasuk laporannya yang rapi tersimpan. Kami mengharapkan Panitia Pelaksana SSA akan terus berupaya membantu BPS Gereja Toraja yang akan datang untuk mengunjungi jemaat, dan klasis menyampaikan dan mendiskusikan hasil-hasil SSA XXII agar dipahami, dijemaatkan dan menjadi inspirasi untuk meningkatkan pelayanan dan kesaksian.
Selain itu, para anggota Panitia Pelaksana dapat pula menjadi motivator terlaksananya hasil-hasil SSA. Oleh karena itu SSA XXII kiranya perlu mencermati aspek sosialisasi dan penjemaatan berbagai keputusan yang akan diambil di SSA XXII. Hemat penulis, sudah waktunya pula diadakan secara serius harmonisasi berbagai keputusan dari SSA yang lalu, dan pemutahiran berbagai aturan dan kebijakan yang dianut Gereja Toraja.
Kita semua semestinya banyak berdoa dan berupaya agar SSA XXII yang akan datang merupakan wahana yang Tuhan pakai untuk menggetarkan semangat pembaruan di tengah-tengah jemaat Gereja Toraja. Kita semua, jemaat, panitia, BPS sebaiknya bergandengan tangan, berkomitmen untuk memberi yang terbaik agar SSA XXII dipakai Tuhan untuk membarui gereja-Nya, jemaat-Nya, dan kita semua sehingga kita dilayakkan sebagai kawan sekerja Allah dalam ladang Tuhan, tidak hanya dalam lingkup Gereja Toraja tetapi dalam pelayanan dan kesaksian yang lebih luas bagi kemuliaan nama Tuhan.
Jakarta Mei 2005.
- Penulis adalah Ketua Umum Pantia Pelaksana SSA XXII. Tulisan ini dibuat khusus untuk menyongsong Sidang Sinode Am XXII Gereja Toraja di Jakarta 4-8 Juli 2006.
|