Paradigma Baru Manajemen Gerejawi
Paradigma Baru Manajemen Gerejawi
Oleh Jonathan Parapak.
Pengantar
Manajemen secara sederhana adalah keseluruhan upaya, yang terkait dengan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian, pengawasan serta perbaikan, dari berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan tertentu dengan berdasar pada nilai-nilai dan kaidah-kaidah tertentu pula. Sumber daya yang biasanya menjadi perhatian adalah “manusia”, perangkat atau alat, modal/uang, methoda, iptek dan informasi.
Dalam suatu kegiatan ekonomi, tujuan yang umum adalah nilai tambah, laba atau suatu hasil tertentu dalam bentuk barang dan jasa. Apabila kita berbicara tentang manajemen gerejawi, maka pada umumnya lebih terfokus pada organisasi gerejawi dan pengelolaan berbagai aspek kehidupan bergereja. Para ahli lebih senang memakai penata- layanan, dengan fokus pada layanan yang ditata dengan baik supaya Tuhan dapat memakainya untuk menyatakan kehendakNya. Saya tak akan mempersoalkan semantik, tetapi hanya ingin menyatakan bahwa gereja pun ada tujuannya, ada yang ingin diwujudkan, yaitu, persekutuan, pelayanan, kesaksian dan pemberitaan injil, yang semuanya bermuara pada orang yang diselamatkan. Juga salah satu bentuk nilai tambah.
Kita juga harus menerima kenyataan bahwa pola manajemen/pengelolaan gerejawi telah banyak dipengaruhi oleh manajemen yang berkembang di dunia sekuler. Ada pengaruh yang baik, ada pula yang kurang tepat.
Saya sendiri berpegang pada pemahaman Alkitabiah, bahwa tak ada pemisahan dan pengkotakan antara yang rohaniah dan yang sekuler.
Semuanya kita persembahkan kepada Tunan sebagai ibadah yan ghidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Saya menulis makalah ini secara populer, untuk kiranya dapat direnungkan dalam rangka mengadakan evaluasi tentang manajemen gereja kita. Sebagian dari apa yang saya sajikan di sini, telah saya sampaikan di Sidang Raya PGI – di Caringan Bogor pada akhir tahun 2004, sebagai Ketua Tim Restrukturisasi PGI. Saya harus menegaskan bahwa tulisan ini adalah tulisan seorang awam, bukan ahli, oleh karena itu pasti banyak kekurangan dan kelemahannya.
Apa yang ingin dicapai oleh Gereja?
Kita harus mulai dengan pemahaman yang sama : “Apakah gereja itu?” Secara prinsip gereja adalah “persekutuan orang-orang yang sudah diselamatkan karena percaya pada dan menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamatnya, yang dikuduskan agar mencerminkan ciri-ciri Kristus dalam kehidupannya, dan dikirim ke dalam dunia sebagai kawan sekerja Allah untuk menjadi berkat. (ekklesia) Jadi jelas gereja bukan hanya gedung atau organisasi. Komponen utamanya adalah “orang-orang yang sudah diselamatkan dan berada dalam persekutuan.” Dari pemahaman ini, kita lihat sebagai persekutuan orang-orang percaya. Sudah bisa dibayangkan betapa pentingnya ada tatakrama persekutuan, aturan-aturan yangmenjadi pegangan bersama; ajaran yang merupakan landasan dan pegangan kebersamaan. Persekutuan ini juga pasti ada tujuan bersama. Kalau kita simak dari Kisah 2 : 41 – 47, maka ada beberapa hal pokok yang menjadi tujuan : (1) persekutuan yang semakin bertumbuh dalam Tuhan, tekun mempelajari Firman Tuhan bersama dan mengikuti petunjuk-petunjuknya. (2) Saling melayani dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk mendukung dalam memenuhi kebutuhan hidup (3) bersaksi/memberitakan Injil termasuk melalui gaya hidup yang sangat menawan.
Persekutuan ini adalah kawan sekerja Allah untuk menambahkan orang yang diselamatkan. Perbedaan budaya, latarbelakang dan status sosial tidak menjadi hambatan yang berarti karena kesatuan dalam Kristus menjadi perekat utama dari persekutuan yang bersuka cita dan memuji Tuhan. Pengembangan dari prinsip-prinsip dasar di atas adalah “adanya institusi gereja” seperti Gereja Katolik Roma, Gereja Presbyterian, Gereja Kristen Indonesia, Gereja Toraja dll.
Di dalam Gereja Toraja, Tata Gereja merumuskan tujuan-tujuan yang ingin diwujudkan. Visi 2001 – 2006 adalah “ damai sejahtera bagi semua.” Kalau kita konsekwen dan konsisten dengan rumusan visi ini, maka wawasan Gereja Toraja sangat Alkitabiah, sangat mulia. Namun kita harus bertanya : “Mengapa visi indah ini, dipersempit, hampir-hampir hanya untuk etnis Toraja? Sudah banyak diskusi dan perdebatan mengenai ini, dan tidak akan dilanjutkan dalam makalah ringkas ini.
Manajemen Gereja Toraja.
Seperti diuraikan di atas, kalau berbicara tentang manajemen, kita akan bicara soal visi dan misi, soal organisasi, soal sumber daya manusia, soal modal/dana, soal iptek dan informasi yang dikelola dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalikan dan pengawasan untuk perbaikan. Gereja Toraja sudah menetapkan untuk menganut asas presbiterial-sinodal, yang mendorong kemandirian jemaat dalam satu kerjasama sinodal. Oleh karena itu fokus manajemen gerejawi yang secara prinsip dianut oleh Gereja Toraja adalah manajeman jemaat. Jemaatlah yang dalam lingkungannya memahami dimana dia berada, sehingga dapat merancang tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Misalnya saja tujuan “pertumbuhan rohaniah jemaat, pertumbuhan jumlah anggota, pelayanan, kesaksian dan pemberitaan kabar baik (injil). Jemaat dipimpin dan dilayani oleh pendeta bersama majelis yang jumlah dan tugasnya disesuaikan dengan tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Warga jemaatpun dilibatkan dalam berbagai pengelolaan pelayanan. Konstruksi organisasi jemaat relatif sederhana, dan hampir seluruh pengelolaan dilaksanakan oleh warga jemaat secara sukarela sesuai dengan panggilannya. Pendeta dan biasanya satu atau dua karyawanlah yang bekerja/melayani di kegiatan gerejawi secara penuh waktu. Perlu digaris bawahi bahwa tercapainya tujuan-tujuan yang disepakati adalah tanggung jawab bersama pendeta, majelis dan warga jemaat, karena Firman Tuhan membandingkan anggota jemaat dengan anggota tubuh Kristus dan menegaskan bahwa ada rupa-rupa karunia dan kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. (II Korintus 12 : 4-7)
Paradigma Baru Organisasi Gerejawi
Pada tingkat jemaat, sudah sangat berakar bahwa pendeta sebagai ketua majelis dan majelislah yang memimpin (bahkan sering dipakai memerintah) jemaat. Alkitab berbicara tentang Yesus Kristus sebagai kepala gereja. Dia sangat mengasihi gereja. Dia berkorban untuk gereja. Dengan konotasi pemimpin atau pemerintah jemaat, maka organisasi biasanya digambarkan dalam bentuk piramida organisasi, yang pada umumnya menekankan kewenangan, kekuasaan. Organisasi adalah alat untuk mencapai tujuan, Oleh karena “fokus tujuan” adalah jemaat dan masyarakat yang dilayani, maka organisasi seyogianya dibangun agar tujuan dapat dicapai dengan efektif, efisien.
Oleh karena itulah di Sidang Raya PGI yang lalu saya mengetengahkan piramida terbalik, sebagai bentuk organisasi yang lebih sesuai untuk gereja. Yang harus diutamakan adalah umat dan masyarakat yang dilayani, ditempatkan paling atas. Pendeta dan majelis, digambarkan paling bawah sehingga tergambar bahwa fokus utama tugas dan fungsi pendeta dan majelis adalah melayani. Pelayanan dalam persekutuan dan kepada masyarakat, dilaksanakan melalui bidang dan komisi yang harusnya melibatkan seluruh warga jemaat. Piramida terbalik (atau lebih mantap lagi – piramida datar), menggambarkan “kebersamaan yang kompak dari seluruh elemen” untuk menggelar pelayanan interen dan eksteren. Inilah yang saya ingin angkat sebagai paradigma baru organisasi gerejawi.
Dengan paradigma baru ini, kita tidak terlalu penting lagi memperdebatkan apakah yang menjadi ketua majelis harus pendeta ataukah non pendeta yang memang terpanggil dan telah diperlengkapi oleh Tuhan untuk tugas-tugas mulia itu. Pertanyaan terpenting yang harus kita angkat adalah “siapakah yang terpanggil” dan paling baik diperlengkapi dengan kompetensi yang tepat. Kalau demikian, kriteria ketua bukan lagi “pendeta” tetapi kalau ada awam/ non pendeta yang terpanggil, memiliki visi-misi ilahi, siap menyediakan waktu, memiliki kompetensi teologis dan manajemen gerejawi yang sudah terbukti melalui track record, maka tidakkah dia yang diberi kesempatan ? Pada akhirnya yang harus kita lihat adalah kualitas layanan, kesaksian dan pemberitaan serta perkembangan jemaat sebagai faktor evaluasi.
Jemaat, yang secara Presbiterial, mandiri dan otonom, tidak boleh hanya menjadi pulau tersendiri. Dia harus berada dalam persekutuan jemaat-jemaat, serhingga wawasan, pelayanan dan kesaksiannya menjadi lebih luas. Persekutuan jemaat-jemaat inilah yang membentuk klasis, sehinga pergumulan dan kesempatan pelayanan dan kesaksian dapat ditangani bersama. Dari pengamatan di lapangan sekitar 10 sampai 20 jemaat bersekutu dalam satu klasis. Dalam konteks paradigma baru, perhimpunan atau persekutuan dalam klasis inilah, yang mengkoordinasikan pelayanan, kesaksian dan pemberdayaan warga gereja yang lebih luas, sehingga berkembang kebersamaan, pertumbuhan dan pemberdayaan warga gereja serta kerjasama dalam menghadapi tantangan dan masalah. Dalam konteks inilah disarankan agar klasis diberdayakan dan menjadi koordinator, pelaksana kegiatan antar jemaat, bahkan antar gereja dan antara gereja dengan pemerintah dan masyarakat sekitarnya.
Dalam konteks sistem Presbiterial-Sinodal, jemaat-jemaat itulah yang berhimpun dalam satu sinode. Dalam konteks paradigma baru, yang menjadi fokus dari sinode adalah jemaat, warga jemaat dan masyarakat. Oleh karena itu konsep piramida terbalik (atau datar) ini, sangat relevan untuk juga secara prinsip menjadi pola organisasi. Dengan demikian gambar organisasi sinode Gereja Toraja, misalnya akan menampilkan Ketua BPS paling bawah, sebagai yang paling bertanggung jawab untuk pelayanan seluruh jemaat dan masyarakat. Kalau penekanan sebagai pelayan yang terpanggil dan yang paling kompeten dan diberi karunia yang tepat oleh Tuhan untuk tanggung jawab pelayanan tersebut, merupakan kriteria untuk Ketua BPS, maka kita mulai memasuki era baru manajemen gereja.
Paradigma piramida terbalik (datar) ini telah diterima dan dilaksanakan dalam menyusun gambar struktur organisasi Jemaat Kota Gereja Toraja, Jakarta.
Tuliasn ringkas ini dibatasi oleh ruang untuk dapat membahas secara rinci organisasi BPS. Salah satu aspek, paradigma baru adalah menetapkan “anggota yang dipilih” (Ketua Umum, ketua I, II, II) dalam fungsi dan tugasnya bersifat kolegial, sehingga pengambilan keputusan, pentepan strategi, pengendalian program dan biaya, menjadi tanggung jawab kolegial. Hal ini dapat merupakan cerminan kebersamaan persekutuan dalam pelayanan.
Good church Governance (Tata-pamong)
“Governance” lagi marak dibicarakan dan disoroti di dunia bisnis. Fokus utama adalah transparansi, akuntabilitas, partisipasi dan kesetaraan. Pada tatanan jemaat, prinsip “good church governance” ini masih harus mendapat perhatian. Aspek transparansi dalam pengambilan keputusan, serta pertanggung jawaban keuangan dan pelaksanaan program masih harus diperbaiki. Disiplin administrasi pada umumnya masih lemah sehingga menyulitkan verifikasi (apalagi kalau akan diaudit atas dasar prinisp-prinsip akuntansi yang benar.)
Yang banyak disoroti adalah peran, tugas pokok, fungsi dan akuntabilitas BPS. Secara sistematik dan tata pamong (governance), SSA adalah persidangan gerejawi tertinggi, dalam mana seluruh warga jemaat terwakili. Lembaga inilah yang menetapkan aspek-aspek strategis terpenting dari kehidupan bergereja. BPS, sebagai institutsi adalah pelaksana seluruh aspek yang ditugaskan oleh SSA. Oleh karena SSA adalah perwakilan jemaat-jemaat, maka dalam konteks piramida terbalik, BPS menjadi pelayan jemaat-jemaat dalam berbagai aspek. Pertanyaan muncul, apakah pelayan BPS harus juga mengikuti urutan jenjang. Maksudnya melalui BPSW, yang sepertinya, di satu pihak hanya bentukan SSW dan di pihak lain tidak ada kaitannya dengan BPS dan BPK. Mungkin ini salah satu sebab mengapa cukup banyak jemaat dan klasis sudah mengusulkan agar BPSW dan SSW ditiadakan, selain mengurangi biaya, juga memperpendek birokrasi, bahkan ada kesan BPSWnya tidak jelas akuntabilitasnya. Pertanyaan yang sama dapat dilontarkan untuk BPK dan Sidang Klasis. Namun kalau ditinjau dari sudut pandang kebersamaan, persekutuan dan pembinaan warga, serta hubungan dengan masyarakat dan pemerintah, BPK dan Klasis malah perlu diperkuat, diberdayakan, dan menjadi koordinator pembinaan dan pemberdayaan warga gereja dilingkungan klasis.
Manajeman Sumber Daya.
Aspek yang sangat penting adalah “manusia”, para pelayan Tuhan, baik pendeta maupun non pendeta, bahkan setiap anggota jemaat sebagai bagian dari tubuh Kristus. Manajemen ini terkait dengan persiapan (rekrutmen), penugasan, pemberdayaan (pelatihan dan pendidikan), kesajahteraan dan purna bakti. Terkesan bahwa banyak aspek yang belum ditangani dengan baik. Rekrutmen misalnya, terkesan semua tammatan STT akan menjadi pendeta. Kalau pakai kriteria perusahaan General Electric, di setiap kelompok hanya sekitar 20% yang benar-benar terpilih untuk tugas berat yang kreatif. Oleh karena itu, harus kita terima bahwa tidak semua lulusan STT cocok untuk jadi pendeta. Aspek penugasan, panggilan, rotasi cukup rumit dan memerlukan perencanaan dan penanganan yang baik. Belum lagi aspek kesejahteraan dan purna bakti, harus sungguh-sungguh diperhatikan.
Pemberdayaan warga gereja sesuai dengan karunianya masing-masing terus menerus menjadi tantangan. Jangan sampai potensi karunia Tuhan tidak dikembangkan karena warga jemaat beranggapan bahwa segala-galanya adalah tugas dan tanggung jawab pendeta dan majelis. Pola pikir pemberdayaan untuk kepentingan bersama perlu dihayati, agar pengembangan sumber daya manusia tidak dimotivasi gengsi pribadi atau menimbulkan sikap sombong dan persaingan.
.
Aspek pengelolaan dana dan aset, menjadi pergumulan banyak warga. Dana kita terserap ke gedung yang mungkin hanya dipakai 2 – 3 kali seminggu. Administrasinya pun belum mantap. Kalau kita lihat di Rantepao, banyak sekali ruangan sekolah, gereja dll. yang hampir tidak terpakai sore hari. Dapatkah fasilitas ini diberdayakan?
Aspek keuangan sangat dominan dalam kehidupan Gereja Toraja. Gereja kita kadang disebut gereja les, yang datangnya bertubi-tubi. Ini suatu indikasi yang kurang sehat.
Penutup.
Menulis tentang manajemen gerejawi, sulit dilaksanakan dalam suatu makalah ringkas. Saya merasakan aspek-aspek teologis belum terangkat dalam makalah ini. Tuhanlah yang empunya gereja, yang menuntun, menggembalakan domba-dombanya. Tuhan berkenan memakai warga gereja sebagai kawan sekerja Allah. Oleh karenanya semua yang dilakukan dalam manajemen gereja haruslah berkenan pada dan memuliakan Tuhan.
|