Pembaruan/transformasi budaya melalui Injil
Pembaruan/transformasi budaya melalui Injil
Oleh Jonathan Parapak.
Belum lama ini di beberapa kecamatan di Toraja diperingati “Injil masuk Pangala’ dan Injil masuk La’bo’”. Yang menarik dalam peringatan ini adalah penampilan budaya dalam peringatan itu maupun dalam ibadah. Lagu-lagu dilantunkan dengan “Ondo Puang” – arak-arkan dilaksanakan dengan lettoan dll. Pada kesempatan persiapan panitia Injil masuk La’bo, saya bertanya “Apa dampak Injil masuk La’bo?” Yang diangkat adalah pendidikan lebih baik, putra-putri La’bo’ sudah banyak yang berpendidikan sampai bergelar doktor juga ada. Memang Injil, kabar baik, adalah berita keselamatan bagi orang yang bertobat dan menerima Kristus sebagai Juru Selamat, harusnya juga memperbaiki pendidikan dan kesejahteraan. Namun yang harus kita sadari adalah inti dari injil yang adalah berita keselamatan. Kalau kita amati Klasis La’bo’ sudah ada 13 jemaat. Mungkin rata-rata per jemaat antara 40 – 100 KK. Kalau dambil rata-rata 70 KK dan per KK 4 orang, maka jumlahnya sekitar 4000 orang. Pertanyaan mendasar adalah mereka 4000 orang ini, yang sudah memakai predikat Kristen, berapakah yang sungguh-sungguh lahir baru, yang hari demi hari bergaul dengan Tuhan, yang sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan sebagai Gembalanya, Tuhannya dan Juru Selamatnya? Apakah mereka memperlihatkan tanda pengenal pengikut Kristus, yaitu saling mengasihi sebagaimana Kristus telah mengasihi kita? (Yoh. 13 : 34,35). Apakah mereka mempunyai ciri anak-anak Bapa di Surga/pengikut Kristus dengan mengasihi dan mendoakan musuh? Ataukah mereka masih seperti orang yang tidak mengenal Kristus yang hanya baik kepada saudara-saudara dan teman-temannya? (Matius 5 :44-47) Keprihatinan tentang kualitas kehidupan spiritualitas warga ini,mendorong kita untuk bertanya “Apakah orang-orang La’bo’ sudah dijamah oleh Injil? Ataukah kita seharusnya bertekat untuk kembali memberitakan Injil di La’bo’ ?
Pertanyaan inilah yang mendorong panitia untuk mengadakan Kebaktian Penyegaran Iman dalam rangka memperingati Injil Masuk La’bo’. Kebaktian dimulai dengan pelayanan kesehatan yang dihadiri sekitar 500 orang, dilanjutkan dengan KPI yang dihadiri oleh sekitar 1,500 orang dan diakhiri dengan pemberian Alkitab bagi keluarg yang belum memiliki Alkitab (yang terdaftar 388). Pada waktu pulang, setiap keluarga dibekali dengan ikan, sebagai simbol pengutusan seperti pengikut Kristus yang pertama yang berprofesi penjala ikan.
Transformasi budaya
Kehadiran Injil, atau diterimanya Yesus Kristus sebagai Juru Selamat oleh orang-orang Toraja telah menyebabkan transformasi budaya dan kemasyarakatan. Perubahan dan transformasi ini berlangsung bukan tanpa tantangan. Gereja Toraja sudah beberapa kali mengadakan seminar tentang injil dan budaya, khususnya yang terkait dengan budaya yang pada intinya warisan “aluk todolo”. Dalam peringatan Injil masuk La’bo’, dipertanyakan ; “Bolehkah kita ma’bugi, asal kata-katanya memuliakan Tuhan? Pertanyaan ini sudah berulang kali dipertanyakan sehubungan dengan “ma’ badong” dll. Untuk merenungkan pertanyaan ini, ada baiknya kita ubah pertanyaannya : “ Dengan cara bagaimanakah kita memuji dan memuliakan Dia, yang berkenan kepadaNya?” Penelusuran Alkitab menunjukkan bahwa banyak sekali cara unutk menyembah, memuji dan memuliakan Tuhan, Intinya adalah ketulusan, kejujuran dan cinta kasih yang sungguh-sungguh mau menyembah, memuji dan memulikan Tuhan, tanpa ada kepentingan lain.
Kalau dasarnya itu, maka menyanyi sambil menari, menabur gendang, memakai gitar, piano atau organ tidak ada masalah. Menari serupa tapi tak sama dengan ma’ bugi’ atau ma’ badong tak ada masalah. Yang jadi masalah adalah motivasi orang yang melakkannya, perasaan, emosi dan pikiran orang yang melakukannya, serta dampaknya terhadap orang lain, jangan-jangan menjadi batu sandungan.
Transfomrasi ibadah yang sepertinya sudah diadopsi sepenuhnay dari pola ibadah di Barat, memakai lagu-lagu dan nyanyian Mazmur dan nyanyian rohani, bagi orang muda, mungkin sepenuhnya menikmati dan menjiwai, namun bagi orang tua yang kehidupan agamanya yang lama diliputi oleh ma’bugi, ma’badong, ma’ pesung, belum tentu dapat menjiwai dan memahaminya.
Manusia memang tidak bisa berubah sekejap mata. Manusia diajak menanggalkan manusia lama dan memakai manusia baru yang terus menerus dibarui (Kol. 3 : 9 – 10), berarti ada proses penyesuaian yang harus ditempuh.
Oleh karena itulah kita juga harus menerima bahwa kemajemukan, pluralisme budaya itu indah dan merupakan kekayaan. Kemajemukan itu bukan akan berkurang melainkan bertambah, oleh karena itu kita harus menerima adanya ruang yang luas bagi Allah berkarya dan mewujudkan budaya (seluruh pikiran, kata perilaku dan karya manusia) yang di dalamnya manusia menyembah, memuji dan memuliakan Tuhan.
Kalau kita pahami budaya secara luas, maka seyogianya kita mengangkat beberapa hal yang perlu pula mendapat perhatian. Kalau kita lihat tongkonan sebagai slaah satu penonjolan budaya Toraja, maka Dr. Theo Kobong telah mengemukakan transformasi Tongkonan ke dalam gereja, di aman pada dasarnya gereja adalah Tongkonan Kristus sebagai sumber ajaran agama, sumber kehidupan dan dasar persekutuan.
Banyak orang mengatakan “orang Toraja rajin”. Secara prinsip “rajin itu” adalah sikap melakukan suatu pekerjaan dengan sebaik-baiknya (Kol. 3 : 17). Namun kalau kita ukur produktivitas masyarakat Toraja, mungkin kita akan dapati angka yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan masyarakat Cina. Yang ingin diangkat adalah perlunya transformasi yang terkait dengan produktivitas dan kreativitas. Hal ini sangat kita perlukan dalma menghadapi dunia baru dan era baru, era ilmu pengetahuan dan teknologi.
Budaya kekerabatan Toraja yang juga berakar pada Tongkonan, ada budaya yang positif dan perlu dipelihara. Namun ada aspek negatif dari budaya ini yang perlu ditransformasi yakni aspek eksklusif. Aspek ini, bahkan sepertinya didukung oleh Gereja Toraja yang berorientasi suku. Dalam dunia global, kita diberi kesemptan untuk hadir, berkarya, melayani di mana saja, dengan suku dan bangsa mana saja, sehingga kita harus cerdas dalam membina hubungan, berkomunikasi dan bekerja sama.
Pergumulan-pergumulan yang masih hidup.
Perbincangan di antara warga jemaat, khususnya kalangan muda,masih banyak mempertanyakan “rambu solo yang wah”, salah satu pameran kemewahan dan gengsi, bahkan mungkin tak peduli lagi dengan lingkungan hidup. Pembuatan tau-tau, walaupun tidak diupacarakan lagi , banyak mengundang polemik. Banyak di antara kita sepertinya “semua ini adalah perdebatan teologis!” Menurut hemat saya bukan lagi keraguan teologis, tetapi ketidakpatuhan kepada dasar-dasar Firman. Jelas kalau Firman menyatakan salah “Kalau pesta pora! Salah kalau lebih mengutamakan orang mati daripada orang hidup! Salah kalau kita mengutamakan gengsi manusia! Salah kalau kita mengutamakan harta benda, gengsi, show daripada kerajaan Allah (Mat. 6 :33).
Tantangan yang sangat realistis, adalah keterlibatan gereja dalam acara-acara yang mungkin kalau secara pikiran dan pemahaman jernih dari firman Tuhan, sudah sulit untuk dikatakan berkenan kepada Tuhan. Memang tidak mudah dan bahkan tak boleh menghakimi. Olehnya itu yang dapat dilakukan adalah mendorong pemahaman firman, contoh-contoh konkrit untuk diteladani, sehingga kita bukanlah “pelaku utama transofrmasi” melainkan kawan sekerja Allah yang diperkenan untuk ikut serta dalam pembaruan budaya. Semoga kita semua siap dipakai, sebagai garam dan terang dalam transformasi budaya.
|