HOME
ALKITAB
Gereja Toraja TODAY
FORUM P.A.
BERBUAH
SEKOLAH ALKITAB
INJIL dan MELAYU
God's Word in CHINA
DOWNLOAD Bible
PPGT
Download Info Gerejawi
NEXT Generation
Renungan Harian
Kumpulan TULISAN
Majalah SULO
MENU ARTIKEL
SSAXXII
3 - 8 July 2006
26 Keputusan SSAXXII
BLOG SSAXXII
FOTO2 SSAXXII
Download SSA22 Doc.
FORUM
BUKU TAMU
Kampoeng TORAJA
GEREJA TORAJA TODAY
PEKAN SPIRITUALITAS
Yahoo YM
e-mail me

SSAXXII Menuju Dunia Baru


TUHAN JESUS Kepala Gereja.jpg

Surat dari Pdt. DR. Th. Kobong STh.

ANTISIPASI SUATU KEPRIHATINAN

Beberapa catatan mengantisipasi kemungkinan- kemungkinan yang tidak kita harapkan

1. Kita boleh bersyukur bahwa persiapan-persiapan yang telah digulirkan selama kurang lebih 3 tahun sudah hampir selesai. Jemaat-jemaat sudah merumuskan usul-usul untuk diselesaikan di klasis, kalau itu tidak selesai di jemaat.

Kemudian di tahun 2004 klasis-klasis tentunya sudah menyelesaikan usul-usul jemaat dan yang tidak sanggup diselsaikan klasis itu menjadi usul-usul klasis ke wilayah. Wilayah sudah selesai bersidang di tahun 2005. Hal-hal yang tidak terselesaikan di wilayah sudah diusulkan untuk masuk ke persidangan sinode am. TP3 sudah bekerja keras merumuskan rantap dan rantus dalam koordinasi Tim Pengarah dan dilengkapi oleh hasil-hasil pemikiran Panitia Pelaksana.

Tentu semuanya itu berjalan di bawah tanggungjawab BPS.

Wilayah-wilayah sudah menentukan para utusan dan utusan cadangan masing-masing berdasarkan situasi dan aspirasi jemaat-jemaat dan klasis-klasis. Rantap dan rantus, hasil kerja TP3 dan badan-badan terkait, sudah selesai pula disosialisakan di keempat wilayah.

Yang paling penting sekarang ialah persiapan para utusan dan juga utusan cadangan.

Inilah proses studi yang coba kita jalankan sebagai unsur pembaruan dalam cara kita bersinode. Kita tetap berada dalam alur presbiterial sinodal. Pembaruan substansial agaknya baru akan terjadi sesudah SSAXXII dan itu akan merupakan pula pembaruan terus-menerus. Bagaimana kita merumuskan teologi yang dianut Gereja Toraja, bagimana kita membarui cara-cara kita beribadah agar ibadah itu tidak sekadar merupakan kumpulan ritus yang mendorong kearah formalisme belaka. Firman Allah hendaknya mendorong kita kearah pembaruan cara kita beribadah agar kita jangan ditelan oleh ritualisme dan formalisme.

Mari kita mencoba mendalami apa yang dikatakan nabi Yesaya1:10-17;58:6-7; Amos5:21-14; Ibadah adalah jantung kehidupan bergereja/berjemaat.

Oleh sebab itu liturgi harus benar-benar menyentuh kehidupan rohani jemaat. Mungkin banyak hal yang akan menjadi ketetapan dan keputusan SSAXXII berdasarkan rantap dan rantus yang sudah distudi dan siap pakai, namun masih banyak hal yang perlu distudi lebih lanjut, misalnya keterlibatan Gereja Toraja dalam masalah-masalah kemasyarakatan, masalah lingkungan hidup, pluralisme, dsb. Hal-hal inilah yang hendaknya diperhatikan dan dipelajari oleh para utusan dan utusan cadangan.

Ini keprihatinan saya yang pertama. Jangan kita cepat kecewa apabila pembaruan yang kita harapkan belum kunjung nyata.

2. Kalau berita-berita burung (bukan isu) yang terdengar benar, maka ada keprihatinan kedua, yaitu entusiasme warga jemaat yang ingin menghadiri SSAXXII. Itu merupakan suatu tanda yang positif.

Namun tidak bosan-bosannya saya mengatakan bahwa persidangan sinode itu bukan pesta iman dalam artian bersuka cita di hadirat Allah dengan ungkapan syukur yang warna-warni. Kalau itu yang kita inginkan, maka kemungkinan kita akan menurunkan bobot ketetapan dan keputusan yang akan dihasilkan oleh SSAXXII.

Berikanlah kesempatan kepada para utusan dan utusan cadangan untuk bergumul dengan masalah-masalah kontemporer yang dihadapi Gereja Toraja mengemban tugas panggilannya di tengah-tengah dunia yang berubah serba cepat. Mereka harus bergumul mencari kehendak Tuhan dan itu adalah pesta iman dalam bentuk lain. Keinginan warga jemaat menghadiri SSAXXII untuk mengetahui apa gerangan yang diperbincangkan di SSAXXII merupakan tanda yang sangat positif.

Namun untuk itu kita harus menempuh jalan yang lain.

3. Untuk mengakomodasi entusiasme warga jemaaat yang ingin tahu, itu wajib direspons oleh gereja, dalam hal ini BPS y.a.d. Pernah saya munculkan semacam gereja padang (di Jerman Kirchentag selama seminggu, atau bisa juga dalam bentuk Zendingsdag di Belanda, tetapi jangan hanya sehari) selama beberapa hari. Bapak Para’pak juga pernah mengatakan agar Gereja Toraja mengadakan suatu event di Toraja, yang disponsori Gereja Toraja, ke mana orang-orang Toraja yang merasa diri terkait dengan Gereja Toraja mudik ke Toraja. Pada event itulah kita bisa berpesta pora sebagai anak-anak Allah.

Pada event itulah Gereja Toraja bisa mengevaluasi hasil SSAXXII dan kalau itu bisa menjadi tradisi, maka setiap hasil persidangan sinode bisa diketahui dan dievaluasi..

Event semacam itu bisa saja didesign, apa yang mau diseminarkan, dikonsultasikan, diceramahkan, dll. Kalau itu bisa kita lakukan, maka hal itu akan jauh lebih besar hasilnya bagi keseluruhan Gereja Toraja. Kalau dibutuhkan, kita bisa berpesta seminggu atau lebih. Itu baru pesta!

4. Keprihatinan saya yang ketiga ialah tentang siapa-siapa yang akan memimpin persidangan SSAXXII. Bapak Pieter Batti’, François Tomasoa c.s., getol sekali memperjuangkan Pak Para’pak menjadi Ketua moderamen (Ketua sidang) dengan menunjuk kepada kualitas Pak Para’pak. Itu tentu tidak kita ragukan sedikitpun dan saya setuju.

Namun kita harus sadar bahwa ada rambu-rambu yang patut kita patuhi. Kalau rambu-rambu itu mau diubah atau dibarui, mengapa tidak, tetapi itu ada alurnya. Kalau ada jalan untuk menjadikan Pak Para’pak utusan, atau paling tidak utusan cadangan yang kemudian bisa menggantikan utusan lain, maka itu bisa ditempuh. Kalau itu tidak bisa, maka minimal Pak Para’pak dijadikan penasihat yang bisa memberi nasihat diminta ataupun tidak diminta.

Apresiasi Pak Pieter Batti’, François Tomasoa c.s. tidak ada orang yang meragukannya, namun kita harus pula patuh kepada peraturan dan itu adalah salah satu wujud spiritualitas. Jalan keluar dari persoalan ini sebenarnya ada di tangan MG Jemaat Kota dan itu pasti bisa dijalani, belum terlambat.

5. Masing-masing kita harus bertanya kepada diri sendiri: sudah sampai di manakah kesiapan saya memasuki persidangan SSAXXII, saya sebagai Panitia Pelaksana, saya sebagai TP3, Tim Pengarah, BPS dan terutama saya sebagai utusan dan utrusan cadangan, untuk bisa ikut mengambil keputusan yang dikehendaki Tuhan? Semuanya itu dikembalikan kepada spiritualitas yang kita miliki.

Inilah beberapa catatan yang kiranya menjadi perhatian kita bersama. Kalau ada yang salah atau tidak berkenan di hati, silakan dikoreksi. Terima kasih.

Th. Kobong

[ First ] [ Prev ] [ Next ] [ Last ]