| |
SPIRITUALITAS
A. Makna Spiritualitas & Potret Kita Kini
Ada begitu banyak paham tentang makna spiritualitas. Namun demikian, secara garis besar, spiritualitas dapat dipahami sebagai sebuah keyakinan akan nilai-nilai hidup yang kemudian bermuara dan berwujud pada cara hidup seseorang. Karena itu, tidaklah salah jika dikatakan, bahwa kualitas cara hidup seseorang sesungguhnya banyak sekali ditentukan oleh kualitas spiritualnya, yakni kualitas keyakinannya terhadap nilai-nilai hidup yang ia yakini. Secara sederhana, spiritualitas kristiani pun sesungguhnya dapat dipahami demikian, yakni sebagai keyakinan tentang nilai-nilai kristiani yang kemudian juga berwujud pada cara-cara hidup kristiani. Filipi 1 : 21, sebagai contoh, dapat dipahami sebagai sebuah spiritualitas kristiani yang hidup dalam diri Paulus. Ia demikian yakin dan teguh terhadap sebuah nilai hidup, yakni “bagiku hidup adalah Kristus”! Hal tersebutlah yang kemudian berwujud dalam segenap cara hidupnya, yakni memberi hidup yang sepenuh-penuhnya bagi kemuliaan Tuhan. Hidup bagi Kristus membuat Paulus tak pernah gentar, ketika hidupnya diperhadapkan dengan sederet pergumulan yang begitu membebani.
Yang lalu menjadi pertanyaan, apakah kehidupan kristiani sekarang ini, khususnya kehidupan warga Gereja Toraja, sudah jelas memperlihatkan sebuah spiritualitas kristiani yang memang kokoh dan mendalam? Apakah nilai-nilai yang dihidupi oleh Yesus Kristus, juga sudah menjadi nilai-nilai yang kita hidupi?
Jikalau cara hidup semata-mata hanya diukur pada kesetiaan pelaksanaan sejumlah ritual peribadahan, mungkin sebagian orang akan mengatakan tidak ada yang perlu dipersoalkan dengan spiritualitas warga Gereja Toraja. Namun demikian, bukankah ciptaan baru, yakni ciptaan yang mencerminkan spiritualitas yang kokoh, bukanlah soal ritual, soal sunat atau tidak bersunat dan bukan soal berbagai ritual lainnya seperti baptis percik atau selam (bnd. Gal.6 : 15)? Karena itu tidak mengherankan, jika kepada orang-orang yang merasa dirinya begitu kristiani, karena telah bernubuat, mengusir setan dan membuat mujizat, Tuhan Yesus bahkan dengan begitu keras pernah menegur : “Enyahlah kalian pembuat kejahatan” (Mat. 7 : 22-23). Spiritualitas kristiani ternyata mencakup segenap cara hidup warga jemaat.
Terkait dengan hal tersebut di atas, tidak dipungkiri tentu saja ada kehidupan sejumlah warga Gereja Toraja dari berbagai lapisan dan profesi yang cukup patut untuk diteladani karena cara hidupnya yang memang berpadanan dengan nilai-nilai yang diperkenalkan oleh Yesus Kristus melalui hidupNya. Namun demikian, secara umum juga harus diakui, betapa masih banyak cara-cara kehidupan warga jemaat yang amat berseberangan dengan nilai-nilai kristiani. Indikasinya cukup jelas, di saat Kristus memperlihatkan nilai hidup dari kasih yang mendalam, banyak warga gereja yang justru saling melukai dan membinasakan lewat perjudian, korupsi dan perpecahan dalam keluarga.
Ketika Kristus memperlihatkan nilai kehidupan yang mengampuni, banyak warga gereja yang justru terjebak dalam upaya untuk saling fitnah dan menjatuhkan. Ketika kristus memperlihatkan nilai dari memberi hidup bagi orang lain, banyak warga gereja yang justru cenderung memuaskan nafsu pribadi dan mengarahkan hidupnya pada pesta pora. Dan di saat Kristus memperlihatkan sebuah hidup yang melayani, banyak warga gereja yang justru berebut mencari kedudukan, kuasa, kehormatan dan “pengakuan”.
Hal yang lalu paling menyedihkan, ialah “figur-figur panutan” dalam gereja dan masyarakat Toraja terkadang hanya terarah pada sebuah criteria, yakni apakah yang bersangkutan punya kuasa dan punya uang? Akibatnya, sosok-sosok sederhana dari seorang ayah dan ibu dalam keluarga, yang mungkin patut diteladani karena kualitas hidupnya yang mengagumkan, lantas tenggelam di tengah-tengah kehidupan yang kini asyik dengan “nilai-nilainya” yang baru. Seorang rekan pemuda Toraja pernah berujar, “sekarang ini, agar bisa dihargai, tak perlu pusing harus begini atau harus begitu! Yang penting, ialah memiliki uang sebanyak-banyaknya, tanpa peduli dengan cara hidup seperti apapun itu diperoleh.
Masyarakat dan warga Gereja Toraja terus berubah, namun tidak semuanya bergerak ke arah yang lebih baik dan berkenan bagi Tuhan. Kadang kala ada juga sebagian yang cenderung berjalan menuju ke arah yang makin berseberangan dengan Tuhan.
B. Analisa Persoalan
Sebenarnya apa yang terjadi? Nilai-nilai yang diperkenalkan oleh Kristus ternyata kadang menjadi benda asing atau barang yang langka untuk ditemukan dalam kehidupan pengikut-pengikut Kristus sendiri.
Urutan-urutan ritual peribadahan mungkin bisa dihafal dan dikemukakan dengan sebaik mungkin, namun nilai-nilai kehidupan yang Kristus ajarkan, ternyata belum sepenuhnya berintegrasi ke dalam diri dan kehidupan warga gereja. Beberapa hal yang menjadi penyebab :
1) Dari dalam gereja, perhatian terhadap upaya-upaya untuk mendalami nilai-nilai kristiani terasa belum maksimal. Terkadang perhatian kita banyak sekali tersita dengan kegiatan-kegiatan seremonial yang meriah, namun sesungguhnya miskin nilai dan makna. Akibatnya, dalam masa-masa perayaan gerejawi seperti natal, muncul sejumlah ironi yang seharusnya membuat setiap warga gereja berintrospeksi. Tidakkah ironis, di saat Natal mewartakan kasih, pertengkaran sengit justru banyak terjadi di tengah keluarga, panitia-panitia natal dan sejumlah persekutuan lainnya. Di saat Natal mewartakan kepedulian bagi yang lemah, ada warga jemaat yang justru terkadang sibuk memuaskan dirinya sendiri.
2) Jangkauan pelayanan yang amat terbatas, juga menjadi penyebab kondisi di atas. Di Toraja sendiri, mudah sekali untuk menangkap kesan, bahwa ada cukup banyak warga gereja yang seolah-olah hidup di luar gereja. Yang terjangkau barulah sebatas pada mereka yang memang rajin ke gereja, sedangkan yang tidak rajin, justru semakin jauh terabaikan.
3) Dari luar gereja, muncul “nilai-nilai kehidupan” baru yang tidak mampu dibendung oleh gereja dan karena itu nampak lebih menarik, serta memikat hati warga jemaat, seperti kuasa, kehormatan dan kekayaan. Hal-hal ini tentu saja bukanlah sebuah hal yang salah, sebab kuasa, hormat dan kekayaan pun adalah pemberian Tuhan. Namun demikian, yang kadang terjadi, ialah tergantikannya posisi Kristus sebagai yang paling utama dengan hal-hal tersebut. Tidak jarang nama Kristus memang diikutsertakan, meskipun sesungguhnya kehadiran Kristus baginya tidak lebih dari “sarana” untuk mencapai harapan pribadinya.
Dalam keadaan seperti ini, sebuah pertanyaan Paulus dalam upayanya menyelami makna hidupnya di hadapan Tuhan, patut untuk direnungkan :
Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. (Gal. 1 : 10)
C. Alternatif Pemecahan
Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan upaya untuk meningkatkan spiritualitas warga jemaat :
1) Mendorong setiap warga jemaat untuk membangun hubungan yang lebih akrab dengan Tuhan, baik melalui doa-doa pribadi, maupun melalui pembacaan Firman Tuhan. Membangun kesadaran seperti ini memang bukan perkara yang mudah. Namun, secara sederhana, misalnya dapat dimulai dengan membagikan buku-buku renungan harian yang sudah ada (atau berdasarkan bahan bacaan harian dalam membangun jemaat), lalu sesekali waktu diupayakan untuk menanyakan bahan bacaan tersebut dari mimbar dalam kebaktian-kebaktian hari minggu/ rumah tangga.
2) Membangun karakter figur-figur teladan di tengah masyarakat berdasarkan hal-hal yang memang sejalan dengan kehendak Tuhan. Hal tersebut bisa dimulai dengan memberikan / mempercayakan sebuah tanggung jawab kepada seseorang, tanpa harus melihat pada berbagai status yang melekat di balik dirinya.
3) Menggiatkan pelaksanaan ibadah-ibadah keluarga yang meskipun dilakukan dengan amat sederhana, namun teratur dan dapat melibatkan semua unsur dalam keluarga : ayah, ibu dan anak. Selain membina keutuhan keluarga, ibadah-ibadah semacam ini diharapkan bisa menempatkan sejumlah orang tua dalam sebuah kesadaran diri sebagai figur-figur panutan dalam keluarga masing-masing.
4) Peningkatan kualitas ibadah-ibadah yang diselenggarakan dalam jemaat.
5) Meningkatkan kualitas spiritualitas para pelayan sendiri. Hal ini penting sehubungan dengan faktor keteladanan.
6) Meningkatkan kemampuan para pengajar nilai-nilai kristiani, baik di kalangan pendeta dan segenap majelis gereja, maupun di kalangan guru-guru agama.
7) Lebih memperluas jangkauan pelayanan, demi terlayaninya seluruh lapisan warga jemaat (termasuk mereka yang mungkin masih amat enggan untuk datang ke gereja).
D. Saran Keputusan
1) Menggiatkan segenap warga jemaat agar secara teratur membangun hubungan yang akrab dengan Tuhan (melalui doa dan membaca alkitab), baik secara pribadi maupun secara bersama-sama. Hal-hal teknis bisa dilaksanakan sesuai dengan kondisi jemaat masing-masing.
2) Menetapkan pelaksanaan ibadah-ibadah keluarga dalam tiap-tiap jemaat.
3) Mengedepankan faktor spiritualitas dalam menetapkan pejabat-pejabat gerejawi, serta tenaga-tenaga pelayan lainnya dalam jemaat.
4) Menetapkan program pembinaan tenaga-tenaga pengajar Iman Kristen, dan menugaskan BPS terpilih untuk melaksanakannya secara baik dan teratur.
Pdt. Alfred Anggui - Penulis adalah Pendeta Muda Gereja Toraja yang sungguh ingin melihat perubahan Spiritual Jemaat melalui Pembaruan Ibadah TANPA keluar dari koridor Tata Gereja Toraja (redaksi)
|