HOME
ALKITAB
Gereja Toraja TODAY
FORUM P.A.
BERBUAH
SEKOLAH ALKITAB
INJIL dan MELAYU
God's Word in CHINA
DOWNLOAD Bible
PPGT
Download Info Gerejawi
NEXT Generation
Renungan Harian
Kumpulan TULISAN
Majalah SULO
MENU ARTIKEL
SSAXXII
3 - 8 July 2006
26 Keputusan SSAXXII
BLOG SSAXXII
FOTO2 SSAXXII
Download SSA22 Doc.
FORUM
BUKU TAMU
Kampoeng TORAJA
GEREJA TORAJA TODAY
PEKAN SPIRITUALITAS
Yahoo YM
e-mail me

SSAXXII Menuju Dunia Baru


AKADEMIK PAPER SSA 22

 

IBADAH & LITURGI

A. Potret Ibadah Kita Kini

Terkait dengan persoalan ibadah, persoalan paling mendasar yang dihadapi kini ialah terjebaknya gereja dalam pelaksanaan ibadah-ibadah sebagai pemenuhan ritual formal belaka. Akibatnya, ibadah-ibadah yang dilakukan seringkali kehilangan visi dan sasaran terhadap hal yang hendak dicapai. Padahal di sisi lain, ibadah setidaknya harus bisa menjadi sebuah kesempatan bagi jemaat untuk merasakan persekutuan yang akrab dengan Tuhan, serta menjadi sarana untuk menumbuhkan iman warga jemaat.

Tanpa bermaksud menutupi buah-buah iman yang sudah nampak selama ini, harus jujur diakui, bahwa pelaksanaan ibadah-ibadah kita masih perlu mendapat banyak perhatian untuk memenuhi kedua harapan yang dikemukakan di atas. Kenapa demikian? Sebab kenyataan yang banyak dialami sekarang, ibadah tidak lagi menjadi sebuah hal yang dirindukan oleh jemaat. Suasana jalannya ibadah yang cenderung monoton dan apa adanya, ternyata kurang mampu untuk menciptakan suasana hati yang focus terarah pada Tuhan. Coba saja perhatikan, banyak sekali warga jemaat yang seringkali bernyanyi dengan mata dan pikiran yang nampak jelas terarah ke tempat lain.

Memang, sebagian besar warga gereja mungkin kurang cocok dengan suasana musik yang cenderung hingar bingar. Dalam sebuah kesempatan ibadah penyegaran iman yang suasana musiknya jauh lebih “ramai”, sejumlah warga gereja yang saya yakini memiliki penghayatan iman yang cukup dalam, nampak justru amat tidak menikmati suasana ibadah tersebut. Oleh sebab itu, sikap ikut-ikutan (latah) untuk tergesa-gesa menjiplak potret ibadah di sejumlah gereja-gereja yang lain, juga tidak akan menyelesaikan persoalan yang ada. Pada umumnya, yang lebih dibutuhkan adalah suasana ibadah yang benar-benar hidup, namun sekaligus juga khidmat. Yang menjadi persoalan, kita enggan untuk membenahi peribadahan kita dengan alasan, bahwa ibadah kita sekarang ini adalah sebuah model ibadah yang khidmat. Padahal, sesungguhnya, kesan yang jauh lebih menonjol dan mudah untuk ditangkap ialah kesan loyo dan nyaris tanpa ekspresi. Coba saja perhatikan: menyanyikan lagu-lagu untuk 2 – 3 ayat saja terkadang terasa berat dan membosankan. Belum lagi dengan khotbah, yang dimata warga jemaat seringkali dipandang tidak terlampau menyentuh persoalan kehidupan yang sesungguhnya.

Dari tengah-tengah kenyataan seperti itu, pertumbuhan iman apa yang mungkin bisa diharapkan dari seluruh warga jemaat? Secara sengaja pertanyaan ini diajukan, sebab harus diakui, bahwa ibadah hari minggu sesungguhnya merupakan sebuah sarana yang paling sentral dan menjangkau segenap warga jemaat. Bukankah sebagian besar warga jemaat praktis hanya mengalami suasana peribadahan dalam kebaktian hari minggu? Berapa persen dari seluruh warga jemaat yang ada, yang setia mengikuti kebaktian rumah tangga dan berbagai macam seminar yang kita lakukan? Bukankah hanya sebagian kecil saja?

B. Analisa Persoalan

Ada sederet persoalan yang mengakibatkan terciptanya situasi yang tersebut di atas, yakni

1) Kurangnya kesadaran akan pentingnya ibadah. Hal ini yang kemudian bermuara pada kurangnya minat dan harapan yang kuat untuk melaksanakan persiapan ibadah semaksimal mungkin, demi menciptakan masa ibadah satu (1) jam dalam seminggu yang benar-benar indah dan berkenan bagi Tuhan. Coba saja perhatikan, lagu-lagu untuk ibadah hari minggu amat sering dilatih dan dipersiapkan hanya beberapa saat menjelang ibadah. Tidak jarang, beberapa saat menjelang ibadah tiba-tiba ada saja berita mendadak : organis tidak bisa hadir dan lain sebagainya (ini juga terjadi di jemaat-jemaat perkotaan). Kalau mencoba melihat sejumlah gereja-gereja lain di sekitar, nampak jelas kurangnya persiapan yang dimaksudkan.

Di gereja-gereja tersebut, para pemain musik dan singer bahkan mempersiapkan diri minimal dua kali seminggu. Kurangnya kesadaran akan pentingnya ibadah, kemudian juga lantas bermuara pada kurangnya niat jemaat untuk mempersiapkan sarana-sarana penunjang kebaktian : seperti sound system dan alat-alat musik yang memang berkualitas. Persoalan sesungguhnya bukanlah pada soal pendanaan. Buktinya saja, banyak jemaat dengan gedung gereja yang besar dan saldo kas yang cukup besar, namun memiliki perangkat sound system dan alat musik yang terkesan sangat apa adanya (asal masih bunyi).

Perhatian nampak sangat banyak terfokus pembangunan fisik gedung gereja. Tanpa bermaksud menganggap gedung gereja tidak penting, bukankah diri warga jemaat inilah gereja yang sesungguhnya, yang harus dibangun terlebih dahulu? Jika kondisi tetap seperti ini, dalam sepuluh tahun ke depan, kita mungkin akan berhasil mendirikan banyak gedung gereja. Namun jangan heran jika di dalam gedung gereja tersebut akan lebih banyak terlihat kursi-kursi yang kosong.

2) Hal lain yang penting diperhatikan, ialah kurang kesediaan untuk secara terbuka belajar dari gereja-gereja sekitar. Tentu saja kita tak boleh mengambil begitu saja hal-hal baru yang berkembang di luar, mengingat Gereja Toraja tentu punya corak dan karakter tersendiri. Namun demikian, persoalan manajemen ibadah, cara-cara membawakan liturgi dan perbendaharaan lagu-lagu patut untuk diperhatikan. Dalam hal ini, sejumlah liturgi yang kita miliki sebenarnya sudah cukup baik, dan karena itu tidak perlu dibebani lagi dengan istilah “liturgi kreatif” yang kadangkala malah membingungkan warga jemaat. Yang paling penting adalah cara bernyanyi, serta mengemas dan membawakan liturgi sehingga terhindar dari kesan kaku dan monoton!

3) Terkait dengan soal khotbah, perlu mendapat pembenahan utamanya dalam soal tekhnik atau kemampuan dalam menyajikan khotbah! Pesan atau inti isi khotbah sering sudah cukup mendalam, namun tidak mampu disampaikan dengan kemasan yang baik! Karena itu, kesediaan untuk terus belajar dan memperlengkapi diri tentu juga amat penting dalam hal ini.

C. Alternatif Pemecahan

1) Membangun kesadaran bersama di kalangan majelis gereja tentang pentingnya ibadah. Berangkat dari kesadaran tersebut, diharapkan bisa dilaksanakan persiapan-persiapan ibadah secara maksimal. Dalam hal ini, pengurus tingkat Klasis bisa mengupayakan dan menawarkan ke jemaat-jemaat, cara-cara mengemas dan membawakan liturgi.

Kehadiran Liturgis (pemimpin liturgi) di luar pendeta patut dipertimbangkan, utamanya jika ada anggota majelis gereja yang memang diberi talenta khusus dan bernyanyi dan berbicara.

2) Lagu-lagu sebaiknya disiapkan oleh majelis gereja setempat dan bukan oleh pendeta yang datang melayani. Hal ini penting, tidak hanya untuk memudahkan persiapan, melainkan juga dalam memperhitungkan kemampuan jemaat dalam bernyanyi, serta terkait dengan upaya yang sistematis untuk menambah perbendahaan lagu-lagu yang dikuasai oleh jemaat. Lagu yang terkait dengan pemberitaan firman, bisa dikonsultasikan langsung dengan pelayan atau dengan mengacu pada tema membangun jemaat.

3) Sarana-sarana penunjang dipayakan semaksimal mungkin sesuai dengan kondisi jemaat masing-masing, termasuk untuk jemaat-jemaat terpencil yang belum terjangkau listrik. (Alat-alat musik akustik menjadi pilihan dalam hal ini)

4) Keterbukaan secara aktif,namun kritis untuk menggunakan lagu-lagu di luar NR, KJ, Mazmur dan PKJ. Lagu-lagu yang popular di luar buku-buku nyanyian yang ada sebaiknya disikap secara proaktif/kritis berdasarkan pengakuan Gereja Toraja, untuk kemudian dipertimbangkan/ diterima sebagai nyanyian jemaat. Hal ini dikemukakan berdasarkan kenyataan, ada begitu banyak lagu-lagu rohani kaset yang popular dan syairnya merupakan kutipan langsung terhadap ayat-ayat alkitab.

5) Penggunaan lagu-lagu mazmur sebaiknya jangan lagi menjadi sebuah keharusan, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan jemaat-jemaat. Kerinduan untuk memelihara tradisi, selain kurang sejalan dengan semangat Reformasi Gereja oleh Marthin Luther dan tokoh-tokoh lainnya, juga tidak mampu lagi menjawab persoalan kebutuhan warga jemaat akan lagu-lagu gerejawi.

6) Badan Pekerja Sinode menyiapkan program-program tertentu (termasuk soal berkhotbah) secara berkala dan teratur untuk terus berupaya meningkatkan kemampuan dan kualitas para pendeta.

D. Saran Keputusan

1) Ibadah-ibadah dalam jemaat dipersiapkan dengan sebaik mungkin berdasarkan makna ibadah yang sesungguhnya, yakni sebagai sebuah wadah persekutuan yang indah bersama Tuhan dan segenap jemaatNya, yang pada gilirannya mampu meningkatkan kualitas iman warga jemaat.

2) Mengupayakan pemain-pemain musik dan pemimpin Liturgi dalam tiap-tiap jemaat.

3) Mempercayakan kemungkinan penggunaan lagu-lagu di luar buku nyanyian resmi yang disepakati, kepada majelis gereja setempat.

4) Menetapkan program peningkatan ketrampilan berkhotbah kepada para pelayan, khususnya pendeta, dan menugaskan BPS untuk melaksanakannya.



Pdt. Alfred Anggui


[ First ] [ Prev ] [ Next ] [ Last ]