HOME
ALKITAB
Gereja Toraja TODAY
FORUM P.A.
BERBUAH
SEKOLAH ALKITAB
INJIL dan MELAYU
God's Word in CHINA
DOWNLOAD Bible
PPGT
Download Info Gerejawi
NEXT Generation
Renungan Harian
Kumpulan TULISAN
Majalah SULO
MENU ARTIKEL
SSAXXII
3 - 8 July 2006
26 Keputusan SSAXXII
BLOG SSAXXII
FOTO2 SSAXXII
Download SSA22 Doc.
FORUM
BUKU TAMU
Kampoeng TORAJA
GEREJA TORAJA TODAY
PEKAN SPIRITUALITAS
Yahoo YM
e-mail me

SSAXXII Menuju Dunia Baru


Spiritualitas

 

Spiritualitas

Th Kobong

Baru kali ini saya sempat lagi muncul. Namun saya tetap mengikuti diskusi mengenai perisapan Sidang Sinode Am (SSA) XXII Gereja Toraja. Ternyata sungguh banyak masalah yang kita hadapi sebagai gereja. Dari yang paling inti sampai yang detail. Agaknya sulit kita akan memecahkan semua masalah dengan satu SSA. Dengan demikian kita harus selektif dalam pembahasan kita. Oleh sebab itu ada baiknya kita mencoba mulai dengan masalah yang paling inti.

Pdt. Sulaiman Manguling memperingatkan kita bahwa masalah spiritualitas sudah menjadi masalah inti di SSA XX di Rantelemo dan BPS sudah ditugaskan untuk mengkajinya. Namun sampai sekarang rupanya belum ada hasil yang dicapai, sehingga spiritualitas tetap menjadi masalah yang menyibukkan kita. Pertanyaan masih tetap sekitar: apakah yang kita maksudkan dengan spritualitas yang utuh?

Menurut pemahaman saya, spiritrualitas adalah cara hidup berdasarkan suatu pandangan hidup. Itu adalah definisi yang sangat umum. Einstein punya cara hidup sendiri berdasarkan pandangan hidupnya sebagai seorang freethinker (lihat milis Francois Tomasoa). Demikian pula seorang Kristen mempunyai cara hidup berdasarkan pandangan hidup Kristen. Pandangan hidup Kristen pada gilirannya pun bermacam-macam, sesuai dengan keyakinan masing-masing pribadi, kelompok, golongan, dan persekutuan.

Secara umum dapat dikatakan, spiritualitas Kristen adalah: suatu upaya untuk hidup menurut Firman Allah (Injil), singkatnya: hidup dalam kemuridan (discipleship). Bisa juga dikatakan: cara hidup sebagai orang Kristen (orang percaya) untuk memenuhi panggilannya sebagai orang Kristen).

Sulit Memberi Nilai

Tentu orang Kristen banyak mengembangkan disiplin hidup masing-masing, atau per kelompok, dan persekutuan. Namun sering orang Kristen lebih suka dan lebih banyak memperdebatkan apa yang dimaksud dengan spiritualitas daripada setuju memraktikkannya. Dogmatik/ajaran lebih dominan daripada etika/praksis.

Memang sulit kita memberi nilai kepada spiritualitas seseorang seperti komentar Jonathan Para’pak atas pertanyaan-pertanyaan Theo Matasak. Kalau kita mau memberi nilai, itu tidak jauh dari mengadili dan menghakimi.

Spiritualitas seseorang paling banter kita bisa nilai dari apa yang nampak. Dengan demikian mungkin cara yang terbaik ialah bahwa seseorang harus membuktikan spiritualitasnya sendiri, apalagi kalau kita bicara soal spiritualitas yang utuh.

Untuk sementara saya hanya mau mengatakan bahwa pohon yang baik pasti mengeluarkan buah yang baik pula. Dari buahnyalah pohon itu dikenal (Mat.7:15-20).

Rajin mencari kerajaan Allah belum tentu benar-benar kerajaan Allah yang dinampakkan. Bisa saja kita bernubuat demi nama Tuhan, mengusir setan demi nama Tuhan, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama Tuhan pula. Tetapi bagaimana kalau Tuhan berkata: Sorry, ‘Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku kamu sekalian pembuat kejahatan!’ (Mat.7-21-23). Spiritualitas kita bisa menjadi bumerang. Ngeri bukan?

Berbicara mengenai spiritualitas yang utuh saya ingin merujuk kepada Paulus (Fil.4:8-9, mohon dibaca!). Semuanya itu adalah buah-buah kemuridan (discipleship) yang benar. Jelas kita hanya bisa menjadi murid kalau kita hidup dalam ketaatan (boleh kemuridan). Seseorang hanya bisa menjadi murid apabila ia belajar melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan Tuhan kepadanya (Mat.28:20). Itu hanya bisa diupayakan dalam disiplin rohani, dalam ketaatan dan komitmen kepada janji (pada waktu disidi, peneguhan majelis gereja, pengurapan/pentahbisan pendeta).

Kalau komitmen kepada janji kita pegang dan laksanakan, pasti kita bisa berbuah. Kita hanya bisa berbuah kalau kita tertanam dalam pokok anggur yang benar. Semua itu hanya bisa kita lakukan dengan pertolongan dan di bawah pimpinan Roh Kudus.

Apa yang coba saya katakan bukanlah soal baru. Bukannya Saudara-saudara tidak mengetahuinya. Masalahnya hanya satu: apakah kita memegang komitmen kita mendjadi murid Kristus. Disiplin adalah pertama-tama soal rohani, sebab ia diturunkan dari discipulus = murid dan khususnya sebagai murid Yesus Kristus. Tentu apa yang coba saya katakan di sini masih harus dijabarkan ke dalam berbagai disiplin rohani menyangkut ketaatan dan kesetiaan kita sebagai pendeta menjalankan pelayanan, sebagai penatua dan syamas, sebagai pemimpin OIG, bahkan sebagai anggota umat Allah yang harus menjadi berkat bagi dunia. Kualitas kerohanian kita, dan itulah yang dimaksud dengan spiritualitas, hanya dapat dikenali dari buah-buah iman.

Untuk sementara sekian saja dan kiranya bisa bermanfaat untuk diskusi kita selanjutnya. Salam.

____________ Th Kobong adalah mantan Ketua BPS Gereja Toraja, mantan Rektor STT INTIM Makassar, tinggal di Jakarta. Tulisan ini diangkat kembali dari milis yang ia tulis pada awal 2004.


[ First ] [ Prev ] [ Next ] [ Last ]