HOME
ALKITAB
Gereja Toraja TODAY
FORUM P.A.
BERBUAH
SEKOLAH ALKITAB
INJIL dan MELAYU
God's Word in CHINA
DOWNLOAD Bible
PPGT
Download Info Gerejawi
NEXT Generation
Renungan Harian
Kumpulan TULISAN
Majalah SULO
MENU ARTIKEL
SSAXXII
3 - 8 July 2006
26 Keputusan SSAXXII
BLOG SSAXXII
FOTO2 SSAXXII
Download SSA22 Doc.
FORUM
BUKU TAMU
Kampoeng TORAJA
GEREJA TORAJA TODAY
PEKAN SPIRITUALITAS
Yahoo YM
e-mail me

Bertumbuh Berakar dan Berbuah


Post Power Syndrome.gif

Post Power Syndrome

Sumber Bahan
Judul Buku/Buletin : Kkaset TELAGA No. #086A
Penulis/Narasumber : Pdt. Dr. Paul Gunadi, Ph.D.


Tak lama setelah memasuki usia paro baya, masa pensiun akan segera datang menyusul. Bagi Anda yang terbiasa menjalani kesibukan di kantor dan memimpin orang lain, kemungkinan tanpa disadari Anda akan merasakan gejala-gejala yang disebut "Post Power Syndrome". Apa dan bagaimanakah gejala ini dapat terjadi? Bapak Heman Elia, M.Psi akan menjelaskannya dalam tanya jawab berikut ini. Silakan menyimak!

Bagian ini tentu cukup dikenal, cukup sering dibaca oleh kita semua, namun jiwa atau inti dari apa yang Tuhan Yesus katakan ini sangat penting. Khususnya bagi kita yang suatu saat mungkin akan kehilangan kekuasaan dalam bentuk apa pun. Supaya kita lebih tahan menghadapi gejala-gejala yang bisa merusak kita lebih jauh.

T : Sebenarnya apa yang dimaksud dengan post power syndrome itu?

J : Arti dari "syndrome" itu adalah kumpulan gejala. "Power" adalah kekuasaan. Jadi, terjemahan dari post power syndrome kira-kira adalah gejala-gejala pasca kekuasaan. Gejala ini umumnya terjadi pada orang-orang yang tadinya mempunyai kekuasaan atau menjabat satu jabatan, namun ketika sudah tidak menjabat lagi, seketika itu terlihat gejala-gejala kejiwaan atau emosi yang kurang stabil. Gejala-gejala itu biasanya bersifat negatif, itulah yang diartikan post power syndrome.

T : Kumpulan dari gejala-gejala apa sajakah syndrome itu?

J : Bisa dibagi menjadi beberapa gejala:

1. Gejala fisik, misalnya orang-orang yang mengalami post power syndrome, kadangkala tampak menjadi jauh lebih cepat tua dibanding pada waktu dia menjabat. Tiba-tiba rambutnya menjadi putih semua, berkeriput, menjadi pemurung, dan mungkin juga sakit-sakitan, menjadi lemah tubuhnya.

2. Gejala emosi, misalnya cepat tersinggung, merasa tidak berharga, ingin menarik diri dari lingkungan pergaulan, ingin bersembunyi dan sebagainya.

3. Gejala perilaku, misalnya malu bertemu dengan orang lain, lebih mudah melakukan pola-pola kekerasan atau menunjukkan kemarahan baik di rumah atau di tempat yang lain.

T : Apakah yang menyebabkan syndrome-syndrome itu muncul di dalam diri seseorang?

J : Sebetulnya, secara umum syndrome ini bisa kita katakan sebagai masa krisis dan kalau digolongkan krisis ini adalah semacam krisis perkembangan. Dalam arti, pada fase-fase tertentu di dalam kehidupan kita, kita bisa mengalami krisis-krisis semacam ini. Pada gejala post power syndrome ini, khususnya adalah krisis yang menyangkut satu jabatan atau kekuasaan, terutama akan terjadi pada orang yang mendasarkan harga dirinya pada kekuasaan. Kalau misalnya dia tidak mendasarkan dirinya pada kekuasaan, gejala ini tidak tampak menonjol.

T : Tindakan-tindakan apa yang harus kita lakukan untuk mencegahnya?

J : Yang PERTAMA, pada saat kita melakukan sesuatu atau sebelum menjabat, kita perlu belajar menyadari bahwa segala sesuatu itu adalah karunia dari Allah termasuk kekuasaan dan jabatan. Tugas kita adalah hanya sebagai alat yang dipakai Allah untuk melakukan pekerjaan-Nya. Jadi, kita tidak boleh mengangkangi kuasa yang telah diberikan Allah untuk menjadi milik kita yang harus kita pertahankan sepenuhnya. Kita sedang melakukan pekerjaan yang Allah percayakan pada kita melalui kuasa yang dikaruniakan-Nya kepada kita.

Yang KEDUA, kita juga harus selalu menyadari bahwa kekuasaan itu tidak bersifat permanen dan kita harus menyiapkan diri apabila suatu ketika kuasa itu lepas dari diri kita. Apabila tiba-tiba kita kehilangan kekuasaan, tetapi kita mempunyai persiapan sebelumnya, maka kita akan lebih tahan menghadapi krisis ini.

Yang KETIGA, sebaiknya selama berkuasa, kita tidak memikirkan bagaimana mempertahankan kekuasaan, tetapi kita memikirkan untuk melakukan kaderisasi. Justru karena dengan kita melatih dan mendidik, maka nantinya kita dihargai, karena kita telah melakukan suatu regenerasi dan melakukan pendidikan, tugas mendidik orang lain, bukan karena kekuasaan yang kita miliki.

Yang KEEMPAT, kita perlu belajar rendah hati, seperti juga Yohanes Pembaptis yang mengutamakan nama Kristus daripada dirinya sendiri. Ucapan Yohanes Pembabtis yang terkenal adalah demikian "Ia, maksudnya Kristus, harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil," Yohanes 3:30. Kita harus selalu menyadari bahwa nantinya itu bukan nama kita, tetapi nama Tuhan.

Yang KELIMA, sebanyak mungkin menanamkan kebaikan selama kita berkuasa. Kalau kita banyak menyakiti hati orang, kita banyak menindas orang, waspadalah bahwa gejala post power syndrome ini dekat dengan kita. Tujuan utama kekuasaan bukan agar kita dihargai orang, tetapi supaya kita berbuat banyak bagi kesejahteraan orang lain.

T : Kalau sampai seseorang itu terkena post power syndrome tanpa persiapan dan sebagainya, langkah-langkah apa yang sebaiknya harus segera dilakukan?

J : PERTAMA, tentunya akan terkejut, shock. Tapi kita harus belajar menerima kenyataan ini, kalau tidak, maka kita akan terus berada di dalam keadaan yang menderita.

KEDUA, kita harus mengakui bahwa ada orang lain yang berkuasa yang menggantikan kita. Kita sudah tidak boleh menuntut orang lain untuk mentaati instruksi kita.

KETIGA, kita perlu mencari kegiatan lain yang berarti bagi kita, yang masih bisa kita lakukan untuk mengisi hidup kita supaya kita tidak terus meratapi kehilangan kita.

KEEMPAT, kita juga mengucap syukur atas kesempatan yang pernah kita nikmati dan saat ini yang telah Tuhan sediakan juga bagi kita.

T : Apa yang firman Tuhan katakan dalam hal ini?

J : Dalam Matius 20:25-28,

Yesus berkata:
"Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata, "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."


Raja DAUD dalam Masa Tuanya...

King David-old.jpg  

Granfather & Grandson.jpg

Lima Langkah Menuju Masa Pensiun yang Kreatif

Sumber Bahan
Judul Buku/Buletin : Krisis Tengah Baya
Penulis/Narasumber : Jim dan Sally Conway
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
Halaman : 70 - 72


Usia tengah baya ialah saat untuk mulai mengajukan pertanyaan mengenai gaya hidup dan kegiatan dalam tahun-tahun di masa yang akan datang. Jika mungkin, setiap orang seharusnya tidak perlu dan tidak pernah pensiun. Tetapi, agar ia tidak usah dipensiunkan, ia harus membuat rencana sejak saat ini untuk mengadakan peralihan yang diperlukan dari pekerjaannya sekarang memasuki "masa pensiun yang kreatif."

1. Pilihlah tempat untuk tinggal

Seseorang yang sedang menolong orangtuanya mengambil keputusan di mana mereka akan tinggal, akan mendapat suatu pegangan untuk keputusannya sendiri kelak. Di mana ia akan tinggal bukan hanya berarti daerah di suatu negara atau di luar negeri, melainkan juga rumah macam apa yang akan ditempati.

Suatu solusi yang kreatif atas masalah ini mungkin adalah mencari atau membeli sebuah rumah kecil. Pemukiman khusus bagi orang- orang yang sudah pensiun merupakan suatu contoh yang baik untuk masa pensiun yang kreatif. Sudah menjadi pengharapan yang tidak tertulis bahwa orang-orang yang tinggal di daerah tersebut akan bekerja lebih keras lagi untuk menanam pohon-pohon atau rumput, mengecat tembok, membuat jalan, dan menolong-orang yang baru masuk. Dalam proyek yang berkembang dan berkesinambungan, selalu ada pekerjaan yang harus dikerjakan dan akibatnya, orang akan terus merasa penting dan berguna.

2. Gaya hidup

Gaya hidup merupakan sebuah keputusan lain yang akan mempengaruhi ukuran dan lokasi tempat tinggal itu. Jika satu pasangan berencana untuk tinggal di dalam satu rumah dengan pekarangan yang cukup luas, mereka perlu mempersiapkan sejak dini untuk gaya hidup seperti itu. Tetapi pasangan itu merencanakan untuk hidup lebih sederhana, mereka juga perlu untuk belajar hidup dengan sederhana sebelum mereka sampai pada waktu dimana mereka harus hidup demikian.

3. Uang

Uang akan menjadi masalah utama dan perencanaan secara hati-hati pada usia tengah baya sangatlah menentukan. Setelah seseorang mengambil keputusan di mana ia akan tinggal dan gaya hidup seperti apa yang akan dijalaninya, kemudian ia perlu memperhitungkan jumlah tabungan, investasi, rencana pensiun, dan jaminan sosial yang diperolehnya. Ia harus memperhitungkan berapa banyak uang yang akan diperolehnya dari semua perencanaan ini dan dengan inflasi yang berkepanjangan, apa yang akan dimilikinya bila saatnya tiba.

Tanpa merasa terlalu pesimistis, penting untuk diingat bahwa ia harus memeriksa sumber-sumber keuangan dimana ia mempercayakannya. Misalnya, kebanyakan uang pensiun tidak dapat dipindahkan dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Jika seseorang memutuskan untuk pindah pada karier lain, maka ia akan kehilangan banyak tahun pensiunnya.

Menabung merupakan contoh lain dari sumber keuangan dengan rasa aman yang palsu. Seseorang dapat merasa berbesar hati bahwa ia mendapat bunga 6 atau 7 persen dari simpanan jangka panjangnya. Apa yang tidak diperhitungkannya untuk jangka waktu pendek adalah bahwa ia harus membayar pajak pendapatan dari penghasilan itu ditambah ia kehilangan sebagian lain karena inflasi, sehingga tabungannya semakin berkurang daya belinya.

Sumber-sumber yang berwujud uang bagaimanapun juga harus dihubungkan dengan inflasi, sehingga jika orang itu membutuhkannya, mereka akan dapat memberli seperti dahulu dengan apa yang akan mereka beli sekarang.

4. Bekerja

Bekerja seharusnya bukan merupakan pilihan, tetapi seharusnya merupakan bagian dari rencana jangka panjang. Bekerja mungkin bukan untuk tujuan untuk mendapatkan uang, tetapi setiap orang harus terus menyumbangkan bagiannya kepada masyarakat.

Ketika orang yang lebih tua ditanya, "Jika Anda mewarisi uang yang cukup untuk hidup cukup mewah pada sisa umur hidup Anda, apakah Anda masih mau bekerja?" Tanggapannya secara serempak adalah, "Ya".!

5. Suatu program mengenai langkah-langkah kecil

Setelah mengikuti penilaian di bidang-bidang ini, suami dan istri itu harus membuat garis besar suatu program mengenai langkah- langkah kecil yang menjurus kepada sasaran yang terpenting. Bagian dari rencana ini mungkin adalah memakai waktu libur untuk menyelidiki berbagai daerah di Indonesia, di mana mereka mempertimbangkan untuk tinggal. Mereka mungkin mulai berbicara dengan teman-teman lain mengenai kemungkinan untuk memusatkan sumber-sumber keuangan mereka untuk tahun-tahun yang akan datang. Mungkin mereka mengalihkan investasi mereka atau mencari investasi baru. Pendidikan lanjut atau latihan kejuruan mungkin dibutuhkan untuk memperoleh ketrampilan baru untuk tahun-tahun masa pensiun yang kreatif. Perencanaan jangka panjang seharusnya juga mencakup anak-anak dan keluarga mereka sehingga hubungan dan komunikasi berkala dapat dipertahankan.

Sampai tahap ini, orang juga harus mempertimbangkan dampak dari kematian yang tidak disangka-sangka. Apa yang akan dilakukan oleh istrinya jika suaminya meninggal lebih dahulu (yang biasanya terjadi menurut statistik)? Bagaimana hal ini akan mempengaruhi tahun-tahun sebelum pensiun dan langkah-langkah dan arah khusus apa yang harus diambil oleh jandanya?

Rencana pensiun dapat diubah dalam tahun-tahun berikutnya, tetapi jika tidak Anda rencanakan sama sekali, Anda hanya akan hanyut ke masa pensiun, dan mungkin memasuki suatu keadaan kacau yang menyebabkan frustasi.


[ First ] [ Prev ] [ Next ] [ Last ]