HOME
ALKITAB
Gereja Toraja TODAY
FORUM P.A.
BERBUAH
SEKOLAH ALKITAB
INJIL dan MELAYU
God's Word in CHINA
DOWNLOAD Bible
PPGT
Download Info Gerejawi
NEXT Generation
Renungan Harian
Kumpulan TULISAN
Majalah SULO
MENU ARTIKEL
SSAXXII
3 - 8 July 2006
26 Keputusan SSAXXII
BLOG SSAXXII
FOTO2 SSAXXII
Download SSA22 Doc.
FORUM
BUKU TAMU
Kampoeng TORAJA
GEREJA TORAJA TODAY
PEKAN SPIRITUALITAS
Yahoo YM
e-mail me

Bertumbuh Berakar dan Berbuah


Angry.gif

Kemarahan

Sumber Bahan
Judul Buku/Buletin : TELAGA - Kaset T027A (e-Konsel Edisi 060)
Penulis/Narasumber : Pdt. Dr. Paul Gunadi, Ph.D.


Kemarahan sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Bagaimana caranya supaya kemarahan kita itu tidak membuahkan dosa? Alkitab cukup banyak memberikan pedoman bagi kita untuk mengatasi kemarahan dan juga untuk bisa mengendalikan diri dari kemarahan itu. Simak ringkasan diskusi tentang Kemarahan bersama Pdt. Paul Gunadi berikut ini.

T : Kemarahan itu sudah menjadi bagian di dalam kehidupan kita ini dan saya percaya kita pasti pernah marah. Ada yang marahnya disimpan atau diungkapkan secara meledak-ledak tetapi satu hal yang kita tahu dia sedang marah atau kita sedang marah. Di dalam Alkitab sendiri kita juga pernah membaca bagian yang mengatakan Tuhan Yesus juga pernah marah, tetapi kita juga tahu bahwa kemarahan itu bisa menjadi suatu dosa yang Tuhan tidak kehendaki. Nah, bagaimana sebenarnya pandangan kita sebagai orang Kristen tentang kemarahan?

J : Kita perlu menyadari bahwa kemarahan itu sendiri adalah suatu reaksi emosional dan tidak harus identik dengan dosa. Cara kita melampiaskan kemarahan bisa akhirnya membuahkan dosa. Jadi sekali lagi kemarahan itu sendiri belum tentu mengandung unsur dosa, namun pelampiasannya atau pengekspresiannya yang bisa akhirnya membuahkan dosa.

T : Bagaimana contoh ekspresi kemarahan yang bisa disebut dosa dan kemarahan yang tidak disebut dosa?

J : Di Efesus 4:26, Firman Tuhan berkata: "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa." Kemarahan bisa menjadi dosa sewaktu kemarahan yang kita ekspresikan akhirnya benar-benar menghina orang, menjatuhkan, dan merusakkan orang. Kita menghancurkan orang dengan kemarahan kita.

T : Nah, justru yang sering terjadi adalah pada saat marah, kita tidak bisa mengontrol diri.

J : Hal itu betul. Seringkali kemarahan ini diidentikkan dengan tingkat kematangan rohani. Kita seolah-olah beranggapan bahwa orang yang mudah marah adalah orang yang tidak dewasa secara rohani. Namun sebenarnya tidak sesederhana itu. Saya ingin mengajak kita semua untuk melihat masalah marah ini dari berbagai sudut dan melihatnya sebagai suatu fenomena yang kompleks. Kita perlu mengerti alasan mengapa sebagian orang lebih mudah marah dibandingkan yang lainnya atau mengapa sebagian orang lebih susah marah dibandingkan orang yang lainnya. Hal ini tidak selalu ditentukan oleh tingkat kedewasaan rohani seseorang.

Alasan-alasannya antara lain:

1. Adanya pengaruh dari faktor biologis atau faktor fisik. Ada orang-orang tertentu yang memang mempunyai daya reaksi yang sangat cepat. Orang-orang yang reaktif seperti ini juga mudah memberikan reaksi emosional termasuk kemarahan. Hal ini memang sudah dibawa sejak lahir. Orang-orang yang biasa disebut high strong (gampang marah) ini memang secara biologis adalah orang-orang yang kelihatannya hangat. Temperamen mereka memang sepertinya bergelora. Ada juga orang-orang yang termasuk tipe plegmatik -- tipe yang memang santai, tidak terlalu terlibat di dalam dunia atau dalam kontak dengan orang lain. Nah orang yang bertipe plegmatik ini akan lebih mudah menguasai kemarahannya, karena dia memang tidak terlalu terlibat dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya.

2. Faktor bentukan lingkungan. Kalau kita melihat orangtua menyatakan ketidaksetujuannya melalui kemarahan dan kita menyaksikan ini berulang-ulang kali, kemungkinan besar metode penyampaian ketidaksetujuan itu yakni dengan kemarahan akan terekam dalam benak kita dan akan menjadi satu dengan sistem kita. Karena kita terus-menerus menyaksikan orangtua mengumbar kemarahan tatkala mereka tidak setuju dengan apa yang sedang dikerjakan dan akhirnya hal itu membekas dalam benak kita. Setelah dewasa kita pun cenderung untuk marah ketika kita tidak setuju atau tidak sepakat atau merasa tidak nyaman.

3. Situasi kehidupan sekarang ini pun bisa membuat kita menjadi seorang yang pemarah. Contohnya adalah keadaan yang sekarang sedang kita alami yaitu krisis ekonomi, keadaan politik yang begitu tidak menentu. Krisis-krisis ini sangat menekan kita. Kebanyakan dari kita bisa menanggung tekanan atau stres untuk suatu jangka waktu tertentu. Tatkala melewati batas itu hidup kita mulai tergoncang, keseimbangan kita mulai terganggu dan kita pun mudah marah.

T : Apakah ada bagian Alkitab yang mengingatkan kita supaya kita tidak mudah marah?

J : Di Efesus 4:26, dengan langsung Alkitab mengatakan bahwa kita akan marah, karena marah adalah bagian kehidupan manusiawi kita, tidak perlu kita ingkari. Ayat ini memberi kita 3 pedoman. Pertama, jangan berdosa, artinya jangan kita merobek-robek orang karena kemarahan kita. Kedua, jangan matahari terbenam sebelum padam amarahmu, artinya jangan menyimpan dendam, bereskan masalahnya secepat mungkin meskipun belum tentu akan segera selesai. Ketiga, jangan berikan kesempatan kepada iblis. Jangan sampai kita dibisiki oleh iblis untuk melakukan hal-hal yang salah dan berdosa di hadapan Tuhan.

Sumber :
[[Sajian di atas, kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. #27A yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan. -- Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat e-Mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-konsel@xc.org > atau: < TELAGA@sabda.org > ]]


love Jesus.gif

heart_broken.jpg

Bahaya-bahaya Kepahitan yang Tak Terampuni

Sumber Bahan
Judul Buku/Buletin : The Healthy Christian Life - Kehidupan Kristen yang Sehat
Penulis/Narasumber : Frank Minirth, Paul Meier, Richard Meier
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 2003
Halaman : 113 - 118


Ayat Hafalan: Matius 6:14-15; Efesus 4:31-32

Kadang-kadang orang berkata dengan marah, "Dia tidak pantas untuk mendapatkan pengampunan dari saya. Apa yang ia telah lakukan sama sekali tidak dapat diampuni. Faktanya, ia cuma seorang yang tolol." Mungkin benar bahwa orang ini tidak pantas memperoleh pengampunan Anda, namun pertanyaan yang riil adalah: Apakah Anda merindukan kesehatan mental dan fisik? Apakah Anda menginginkan damai di pikiran Anda? atau Apakah Anda menginginkan konsekuensi logis akibat memendam iri hati dan mengabadikan kepahitan Anda?

Marilah kita mulai dengan mengamati amarah itu sendiri. Amarah adalah sebuah reaksi emosional yang membutuhkan energi. Amarah itu sendiri pada dasarnya tidak buruk, karena hal itu dapat bersifat sangat konstruktif. Alkitab mengatakan, "Di dalam amarahmu (boleh saja marah), jangan berbuat dosa ..." (Efesus 4:26). Hal itu memberitahukan kepada kita tentang apa yang kita dapat lakukan dengan amarah yang dapat menjadi buruk.

Anda biasanya merasakan amarah yang benar ketika hak-hak pribadi yang Allah berikan kepada Anda itu terancam atau diganggu. Satu contoh, apabila Anda merasa hak Anda untuk dianggap sebagai pasangan yang eksklusif dalam suatu relasi diganggu oleh ketidaksetiaan dari pasangan pernikahan Anda.

Marah yang benar lainnya adalah pada saat keyakinan pribadi Anda diganggu atau terancam. Tuhan Yesus marah beberapa kali, sebagaimana dicatat di dalam Alkitab. Ia menyembuhkan seorang pria pada hari Sabat orang Yahudi. Orang Farisi mengkritik Dia, karena mereka pikir Ia telah melanggar peraturan penting tentang tidak bekerja pada hari Sabat. Yesus melihat sekeliling mereka dengan marah dan Ia menyatakan keyakinan-Nya: "Sabat dibuat untuk manusia, bukan manusia untuk Sabat." (baca Markus 2:27-3:6).

Kapankah terakhir Anda marah? Apakah itu karena hak atau keyakinan pribadi yang diganggu atau terancam? Apa yang Anda lakukan dengan amarah Anda sejak kejadian itu? Anda dapat berbuat dosa dengan amarah Anda ketika Anda melakukan dua ekstrem -- meledak atau bungkam.

´Meledakkan´ amarah adalah mencampuradukkan amarah yang baik dengan motif pembalasan dendam. Hal ini akan menghasilkan sebuah tindakan baru yang disebut ´permusuhan´ dimana jalan penyelesaiannya dengan penganiayaan fisik atau dengan bertindak kasar (seperti membanting pintu atau menyetir mobil dengan ceroboh atau gegabah), lalu memperlihatkan amarah. Kita juga memperlihatkan amarah dengan kata- kata kita, penggunaan ungkapan merendahkan, menyebut nama, berteriak, kejengkelan, ancaman-ancaman, sindiran, dan bahkan "perilaku bungkam" yang bermusuhan. Kita memegang´ cambuk´ di tangan kita, lalu berbicara, dan membalas musuh-musuh kita. Kita menginginkan dia disakiti setimpal (lebih) dengan dia menyakiti kita.

Ekstrem yang lainnya adalah "bungkam." Gaya ini meliputi sikap membisu terhadap perasaan marah kita dan terus menyimpan iri hati atau ketidakrelaan. Maka kemarahan itu menjadi kepahitan. Hal ini mempengaruhi kesehatan kita. Selain itu juga dapat berubah menjadi depresi dan bahkan membawa kepada pikiran untuk bunuh diri. Semua ini mendukacitakan Tuhan, karena ini merintangi persekutuan kita dengan-Nya. Motif menyimpan iri hati, sama halnya dengan suatu permusuhan yang terbuka -- pembalasan dendam. Kita mengatakan, "Saya tidak akan bersikap baik pada orang itu sampai saya melihat bahwa bagaimanapun juga, dialah yang menyebabkan saya menderita. Saya akan menjauh darinya. Saya akan mencibiri dan menghina dia." Hal ini mungkin tidak terjadi secara langsung pada orang lain, tetapi ini akan ´menghabisi´ kesehatan Anda sendiri, keseimbangan emosional dan semangat Anda.

Waspadalah terhadap bahaya-bahaya pembalasan dan kepahitan. Yang salah dengan pembalasan sebagai satu motif adalah bahwa bukan tanggung jawab kita untuk menjadi agen Allah dalam menghukum musuh- musuh kita. Allah memerintahkan kita untuk jangan pernah membalas kejahatan dengan kejahatan terhadap semua orang (Roma 12:17-18). "Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan" (ayat 19).

Anda mengadakan perhitungan, dan hak-hak Anda memang penting. Seseorang perlu bangkit untuk Anda, namun Allah-lah yang akan melakukannya. Alihkanlah kepada-Nya di dalam doa. Jangan mempermainkan Allah dengan menuntut pembalasan sendiri. Allah mendirikan pemerintahan, maka rencana-Nya itu termasuk penyerahan orang tersebut kepada hukum. Namun biasanya konflik-konflik antar manusia berada pada dasar yang lebih personal.

Amarah itu sendiri adalah sebuah emosi yang ´netral´. Apa yang kita lakukan dengan amarah itu yang menentukan apakah itu akan menjadi kekuatan yang positif atau negatif di dalam hidup kita. Amarah yang bernilai dapat menjadi satu tanda bahwa sesuatu yang konstruktif dapat muncul dari sebuah situasi. Amarah yang tidak bernilai -- tatkala hak pribadi seseorang itu sungguh-sungguh merupakan suatu tuntutan yang mementingkan diri atau yang perfeksionistik -- biasanya berdampak negatif dan karena itu tidak seharusnya dituntut, tetapi diserahkan kepada Allah.


[ First ] [ Prev ] [ Next ] [ Last ]