HOME
ALKITAB
Gereja Toraja TODAY
FORUM P.A.
BERBUAH
SEKOLAH ALKITAB
INJIL dan MELAYU
God's Word in CHINA
DOWNLOAD Bible
PPGT
Download Info Gerejawi
NEXT Generation
Renungan Harian
Kumpulan TULISAN
Majalah SULO
MENU ARTIKEL
SSAXXII
3 - 8 July 2006
26 Keputusan SSAXXII
BLOG SSAXXII
FOTO2 SSAXXII
Download SSA22 Doc.
FORUM
BUKU TAMU
Kampoeng TORAJA
GEREJA TORAJA TODAY
PEKAN SPIRITUALITAS
Yahoo YM
e-mail me

Bertumbuh Berakar dan Berbuah


sick bed.gif

Seni Berkunjung Kepada Orang Sakit

Sumber Bahan
Judul Buku/Buletin : Sahabat Gembala, Januari 2004
Penulis/Narasumber : --
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
Halaman : 9 -- 15


Penyakit dapat menyerang siapa pun. Tidak ada orang yang sudah siap menangkal penyakit yang bakal datang menyerangnya. Ada penyakit yang disebabkan virus yang menular, tetapi ada juga penyakit yang timbul karena perbuatan sendiri. Kalau sudah sakit, kita merasa tidak berdaya sama sekali. Kita mengeluh karena tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari. Hal yang paling merepotkan, kita baru merasakan bahwa kesehatan lebih berharga daripada segala-galanya.

Siapa pun dapat terkena serangan penyakit, baik penyakit yang ringan maupun yang berat tanpa pandang usia. Bayi di kandungan pun mungkin saja menderita sakit; bayi usia tahun pertama pun rentan terhadap penyakit sekali pun memiliki kekebalan tubuh yang diperolehnya dari ibunya. Anak-anak, remaja, orang dewasa dan orang tua sekali pun, dapat ditimpa penyakit. Bahkan dokter sekali pun mungkin saja tidak berdaya karena diserang penyakit.

Siapa yang mau mengunjungi anggota jemaat yang jatuh sakit dan terbaring lama di rumah sakit? Apakah pendeta saja? Gembala jemaat saja? Tentu saja jawabnya tidak! Pengertian "tua-tua jemaat" (terjemahan lama) atau "penatua" (terjemahan baru) mengandung makna "penggembalaan". Mereka yang diangkat menjadi tua-tua jemaat, sebagai penatua atau sebagai diaken, memiliki tanggung jawab dan komitmen yang jelas: wajib menggembalakan dan memelihara serta memerhatikan anggota jemaatnya. Jika kaum awam memiliki waktu yang cukup, mereka pun sudah sepantasnya memberi kekuatan rohani kepada sesamanya yang sedang terbaring di rumah sakit.

Komitmen (janji) adalah sesuatu yang harus diwujudkan secara konkret, kalau tidak, jabatan yang dituakan di dalam jemaat itu hanya sekadar harapan dan impian. Lukas dalam Kisah Para Rasul 20:28 berkata, "Hendaklah kalian menjaga diri dan (jagalah juga) seluruh jemaat yang telah diserahkan oleh Roh Allah kepadamu untuk dijaga; sebab kalian sudah diangkat menjadi pengawas jemaat Allah itu seperti gembala menjaga dombanya, karena Allah sudah menjadikan jemaat itu milik-Nya sendiri melalui kematian Anak-Nya sendiri" (BIS; kata-kata dalam tanda kurung ditambahkan penulis).

Rasul Petrus juga menguatkan pandangan yang dikemukakan Lukas dalam Kisah Para Rasul itu. Tugas penatua sebagai mitra pendeta atau gembala jemaat tidaklah ringan, namun dikerjakan dengan sukarela dan penuh pengabdian dan rasa syukur. Penatua yang diangkat itu bertindak sebagai pelayan-pelayan Allah yang sungguh-sungguh melayani. "Supaya kalian menggembalakan kawanan domba yang diserahkan Allah kepadamu. Gembalakanlah mereka dengan senang hati sebagaimana yang diinginkan oleh Allah, dan janganlah dengan berat hati. Janganlah pula melakukan pekerjaanmu guna mendapat keuntungan, melainkan karena kalian sungguh-sungguh ingin melayani" (1Petrus 5:2).

Kalau menurut tradisi masa lalu, diaken berdiri di tepi meja dan melayani orang yang datang ke perjamuan, mereka pun bertugas di luar pelayanan di Bait Allah, mengurus dan memelihara anggota jemaat yang terbaring karena sakit.

Bagaimana Keadaan Orang yang Sakit dan Terbaring di Rumah Sakit?

Psikolog pasien menjelaskan bahwa orang yang sakit amat bergantung kepada orang yang merawatnya. Karena ketidakberdayaan melakukan perawatan diri sendiri, mereka sangat memerlukan pertolongan perawat, dokter, dan orang yang ada di rumah sakit. Khusus mereka yang menderita penyakit yang kronis, mereka ini amat kesal melihat tubuhnya sewaktu-waktu terpaksa berbaring di rumah sakit. Ada kecenderungan rasa iba diri dalam pikiran dan perasaan mereka. Orang yang seperti itu perlu diperhatikan dengan seksama. Mereka sering merasa terpencil dan dikucilkan oleh masyarakat sekitar.

Ada suasana kejenuhan dalam diri mereka. Bahkan, seorang anak kecil yang masih duduk di SD suatu kali berkata kepada neneknya (waktu terbaring di tempat tidur dan keperluan makan minumnya harus dilayani neneknya), "Nek, maafkan aku ya, telah merepotkan nenek." Sang nenek merasa iba mendengar permintaan maaf dari cucunya yang masih kecil itu. Perasaannya yang halus mengatakan bahwa ia telah merepotkan orang lain. Banyak orang dewasa yang memiliki kepekaan seperti anak kecil ini. Namun demikian, pada hakikatnya mereka amat kesepian dan memerlukan perhatian orang lain.

Orang yang terbaring lama di ranjang rumah sakit umumnya membuat ia merasa seperti kehilangan sesuatu karena ia tidak dapat melakukan tugas dan kewajibannya sehari-hari. Ia tidak dapat membuat rencana yang harus dilakukan.

Kadang-kadang, ia merasa tidak berguna sama sekali -- jika diketahuinya bahwa penyakitnya agak parah dan berat, apalagi orang yang bekerja sebagai pegawai kantor.

Mereka merasa tercabut dari lingkungan, terlalu bergantung kepada perawat yang harus membantunya dan akan mudah tersinggung bila wajah perawatnya cemberut. Tidak mudah bagi pasien menyesuaikan diri dengan keadaan di rumah sakit. Kerabat dekat yang menjaga pun kerap kali menggerutu melihat pelayanan rumah sakit yang tidak sigap untuk memenuhi segala keperluannya.

Pasien berontak terhadap lingkungan karena penyakit yang dideritanya, sementara kerabat dekat yang membantu merawatnya pun turut merasa prihatin atas pelayanan rumah sakit yang dirasakan tidak memuaskan.

Gangguan lain yang menghinggapi mereka ialah sikap pasrah atas apa pun yang terjadi terhadap dirinya, ia sudah siap menerima keadaan yang buruk sekalipun -- suatu sikap putus asa dan rasa percaya diri yang sudah hilang. Mungkin saja terjadi disorientasi yang menimbulkan kegoyahan terhadap keyakinan yang dianutnya selama ini. Ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri mengapa penyakit itu justru menimpa dirinya.

Contoh yang lazim dialami pasien yang diberi tahu bahwa ia harus mengalami operasi. Berita operasi ini saja pun sudah membuat ia merasa rapuh. Setiap orang berusaha menghindari pembedahan, betapa pun kecilnya. Selain biayanya yang mahal (dan hal ini pun menekan pikiran pasien), rasa was-was terjadi dalam dirinya, jangan-jangan operasi ini tidak berhasil. Umumnya, orang lari kepada obat tradisional. Hal yang demikian membuatnya merasa bahwa ajalnya sudah dekat. Belum lagi kalau yang sakit tulang punggung dalam keluarga.



Efek Psikologis Lain Jika Lama Terbaring Sakit.

Penatua yang mengadakan kunjungan kepada orang sakit perlu memahami bahwa secara psikologis situasi si sakit membuat perasaannya agak mudah tersinggung. Ia lebih banyak mengandalkan perasaannya ketimbang pikiran atau rasionya. Ada rasa bersalah hinggap dalam dirinya dan dalam keadaan menderita mungkin sekali ia merenungkan Tuhan sambil mengakui dosa dan kesalahan yang disadari atau tidak disadarinya.

Apabila jenis penyakit yang diidapnya dapat timbul sewaktu-waktu, hal itu dapat menimbulkan kemunduran perilaku kekanak-kanakan (misalnya, mudah tersinggung, iba kepada diri sendiri, dan pada akhirnya membuat si sakit itu hanya memikirkan nasibnya yang malang). Ia menjadi egosentris, hanya memikirkan diri sendiri!

Hal lain yang mungkin terjadi secara psikologis ialah kemungkinan timbulnya proses penyesuaian diri terhadap penyakit dan lingkungannya. Ia mulai merasa senang berada di lingkungan rumah sakit, akrab dengan dokter dan perawat, setia meminum obat sesuai petunjuk yang diberikan dokter. Berapa pun banyaknya obat yang diberikan, ia taat memakannya. Pokoknya, ia menyerahkan perawatannya kepada orang lain secara penuh dan menyerahkan persoalan dirinya kepada orang lain. Ia benar-benar pasrah! Di dalam Yohanes 5:6 diceritakan Yesus bertemu dengan orang yang sudah puluhan tahun sakit di tepi kolam Betesda. Pertanyaan yang diajukan Yesus adalah sebagai berikut, "Maukah engkau sembuh?"

Secara sepintas mungkin pertanyaan ini biasa saja bagi kita. Tetapi kalau makna pertanyaan itu ditelusuri lebih dalam, tentulah bermakna lain! Kemungkinan sekali si sakit itu sudah menerima keadaan dirinya, ya begitulah, tanpa daya. Ia pasrah apa pun yang terjadi. Tampaknya, soal kesembuhan sudah jauh dari pikirannya. Ia telah larut dalam keadaannya sendiri. Oleh karena itu, Yesus mengajukan pertanyaan yang menggugah perasaannya dan membangkitkan kerinduannya yang normal. Jawabnya? Mengapa tidak? Ya, ia mau. Maka sembuhlah dia. Ia berjalan seketika dan tidak lumpuh lagi!



Apa Maksud Kunjungan Anda?

Orang yang sedang lemah fisiknya memerlukan kekuatan jasmani dan batiniah. Mereka perlu dibebaskan dari rasa putus asa, bingung, dan situasi yang tidak menentu. Maksud kunjungan kita atau Anda, pastilah menghiburnya. Sebagian dari makna "penatua" ialah menghibur, memberi kekuatan kepada orang yang hancur hatinya. Pikirkanlah alat penghibur yang sejati, yakni firman Allah. Pahamilah surat-surat yang dituliskan Rasul Paulus dan rasul-rasul yang lain, yang ditujukan kepada individu yang terdapat di dalam berbagai jemaat. Surat-surat teguran dan penghiburan yang disampaikan para rasul itu sesungguhnya sangatlah bersifat pribadi.

Jadikanlah firman Allah sebagai sabda yang hidup, yang amat relevan dengan penyakit yang dihadapinya. Hati yang menderita kesusahan dan kepedihan, hendaknya diarahkan kepada Anak Allah. Perhatikanlah nasihat yang terdapat di dalam 1Timotius 4:13; Titus 1:9; dan Roma 8:14-16. Hidupkan di dalam benak dan perasaannya rasa sukacita dalam Kristus yang pernah menderita bahkan sampai kematian sekalipun! Berikanlah kata penghiburan yang membawa damai sejahtera serta memulihkan hati dan pikirannya, yang memberi efek terhadap fisiknya.

Tujukan mata rohaninya kepada derita dan pengharapan yang dijanjikan Yesus Kristus kepada umat yang ditebus-Nya bahwa kadang-kadang penyakit itu dibiarkan Tuhan menimpa kita untuk menyadarkan kita terhadap kelemahan dan pengenalan dosa yang kita lakukan. Mungkin saja penyakit yang kita derita dapat memajukan rohani dan iman kita atau menjadi berkat kepada orang lain yang mungkin terbaring sakit bersama kita.

Jika ada pertanyaan, mengapa penyakit ini menimpaku, janganlah penatua atau gembala jemaat mereka-reka sebab-musababnya. Itu bukan urusan Anda. Gembala jemaat tidak mungkin memberitahukan penyebab penyakit menimpa anggota jemaatnya. Arahkan dan biarkanlah si sakit mencari jawab untuk diri sendiri dalam terang salib sehingga ia mengucap syukur dalam keadaan sulit sekali pun.

Patutlah kita menyadari bahwa penyakit dapat memberi pelajaran kepada kita supaya kita merendahkan diri kepada Tuhan. Biarkanlah si sakit melihat dirinya dalam terang Allah dan bersyukur atas segala sesuatu yang menimpa dirinya. Rasul Paulus menulis kepada orang Roma (Roma 5:3, 4) bahwa kesengsaraan telah membuatnya tahan uji, yang menghasilkan pengharapan yang mulia kelak. Ketahuilah, bahwa Yesus bukan saja menyembuhkan orang dari penyakit yang dideritanya, di dalam Alkitab dikisahkan banyak orang yang dilepaskan dari kekuasaan Iblis.

Bahkan, orang sehebat Rasul Paulus pun tidak luput dari penyakit yang diderita dan selalu mengingatkannya kepada tubuh yang baka kelak, yang akan diterimanya pengganti tubuh yang fana ini. Paulus berontak melawan penyakitnya, tetapi ia tetap di dalam imannya (baca 2Korintus 12:7)!



Kapan Saatnya Kita Berdoa?

Doa mengubah kita di hadapan Tuhan. Doa membuka hati kepada-Nya dan mendengarkan bisikan sebagai jawaban atas doa-doa kita. Tetapi kita harus menyadari bahwa kita diberi bukan karena doa-doa kita, melainkan karena kita berada di dalam jalan doa kita. Tuhan mengetahui yang terbaik bagi setiap orang dan setiap orang harus menjalani hidupnya dan memahami jawaban doa dalam jalan kehidupannya. Bukankah Tuhan mengetahui apa yang kita perlukan, jauh sebelum kita memohonkannya kepada-Nya?

Berpalinglah kepada-Nya (Yakobus 5:13-18) dengan berseru pada waktu kesesakan seperti yang dilakukan Raja Daud (Mazmur 50:15) serta mintalah maka akan diberi kepadamu (Matius 7:7); karena demikianlah Tuhan akan menjawab doa orang yang berdoa kepada-Nya dengan sepenuh hati dan pikiran, kuasa penyembuhan hanya berasal dari Tuhan. Tuhan menggunakan obat untuk memulihkan kesehatan (Yesaya 38:21) karena firman Allah itu lebih berkuasa daripada pisau bedah. Tuhan memberkati obat dan menuntun tangan dokter untuk membedah dan membuang akar penyakit.

Doa yang dijawab Tuhan adalah doa yang dilayangkan dengan sikap rendah hati!



Saat Berkunjung

Penatua atau gembala jemaat yang penuh simpati, yang bertindak bijaksana, akan mendekatkan dirinya kepada si sakit seraya mencondongkan kupingnya kepada keluhan dan perkataan si sakit.

Ia berusaha membuat pasien atau si sakit merasa gembala jemaatnya benar-benar memerhatikan dirinya. Janganlah memberikan kesan terburu-buru kepada si sakit. Sekali pun kunjungan kepada si sakit tidak perlu lama-lama, tetapi usahakanlah suasana akrab dan waktu yang memadai diberikan kepadanya sehingga sikap itu sendiri sudah menjadi penghiburan baginya. Duduklah di sampingnya dan dengarkan keluhannya. Orang yang tidak mau mendengar si sakit, lebih baik jangan mengadakan kunjungan sama sekali.

Jangan beritahukan obat yang Anda rasa diperlukannya (atau bersikap seperti dokter) karena obat-obat dokter sudah diberikan kepadanya sesuai dengan penelitian atas penyakitnya. Jangan tinggalkan si sakit dalam keadaan bingung dan bertanya-tanya atas saran Anda. Jangan pula siapkan konsep dari rumah mengenai si sakit! Bacalah ayat yang cocok dengan situasi yang dihadapinya, jangan panjang- panjang. Bacalah dengan jelas, tetapi perlahan diiringi dengan doa yang singkat.

Layangkanlah doa syukur atau syafaat. Doakan perawat yang merawatnya dan dokter yang memberi obat kepadanya. Usahakanlah agar kehadiran Anda pada jam kunjungan dengan izin petugas di rumah sakit. Bila Anda hendak melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk menghibur si sakit, perhatikanlah lingkungan setempat, apakah baik berdoa atau hanya menyalaminya saja. Si sakit yang tidak perlu diajak bicara, jangan paksa bicara apalagi dengan berkata, "Apakah Anda masih mengenal saya?" Jangan paksa si sakit mengingat siapa Anda bila kondisinya tidak memungkinkan untuk berbicara.

Anggukan yang penuh dengan simpati, dapat menguatkan rohani si sakit. Ingatlah bahwa Yesus pun merasakan apa yang dirasakannya!

dove.gif

Karakter.jpg

Memahami Kepribadian Orang Lain

Sumber Bahan
Judul Buku/Buletin : Sahabat Gembala, April 1993, Tahun XV
Penulis/Narasumber : Yopie F.M. Buyung
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
Halaman : 34 - 41


Hubungan antar manusia sering kali mengalami gangguan oleh karena perbedaan kepribadian. Komunikasi yang efektif terjadi bila salah satu pihak dari mereka yang terlibat dalam proses komunikasi itu dapat memahami kepribadian masing-masing. Di dalam konteks pelayanan kita, tanpa adanya pemahaman akan kepribadian orang yang kita layani, pelayanan itu akan berjalan pincang dan tidak efektif.

Tulisan ini tidak bermaksud membawa pembaca kepada suatu sikap menilai dan menghakimi orang lain, melainkan memberikan suatu pemahaman tentang keadaan orang lain yang kiranya bermanfaat dalam berkomunikasi dan di dalam membimbing orang lain. Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk mendorong kita pada usaha untuk mengubah orang lain, tetapi bagaimana memahaminya.


Pengertian

Kepribadian atau "personality" merupakan sifat dan tingkah laku yang membedakannya dengan orang lain. Kepribadian seseorang dibentuk dan terbentuk oleh faktor internal dan eksternal. G.W All port (1897) yang menyelesaikan Ph.D-nya di bidang Psikologi pada tahun 1922 di Harvard University, mengemukakan bahwa, "personality is the dynamic organization within the individual those psychological system that determine his unique adjustment to his environtment." (Kepribadian adalah organisasi dinamis yang ada pada seseorang di dalam suatu sistem kejiwaan yang menentukan keunikan penyesuaian dengan lingkungannya).

Dari pemahaman tersebut kita dapat melihat bahwa kepribadian itu adalah suatu organisasi yang tersusun dari banyak unsur yang saling ketergantungan. Ketergantungan ini mempunyai sistem pengaturan dalam hubungan fungsional. Sistem pengaturan inilah membuat kepribadian itu menjadi kesatupaduan pola-pola pengaturan tingkah laku.

Kemudian dikatakan bahwa kepribadian itu bersifat dinamis. Berarti, kepribadian itu adalah sesuatu yang berubah dan berkembang membentuk suatu sikap dan tindakan tertentu. Perubahan ini sesuai dengan waktu dan pengalaman yang dilaluinya. Dari sini kita bisa memahami mengapa seseorang bisa berubah, misalnya dari seorang yang tadinya berpendirian teguh menjadi seorang yang plin-plan. Bisa saja hal ini terjadi jika pada saat ia berpendirian teguh, maka pengalaman pahitnya yang diterimanya. Dan itu terjadi berulang-ulang. Atau, bisa sebaliknya, orang yang tadinya plin-plan menjadi seorang yang teguh pendiriannya. Karena ia belajar bahwa kalau bersikap plin-plan maka kesulitanlah yang dialaminya. Lalu ia pun mengubah sikapnya.

Dari definisi Allport tentang kepribadian, ia menyebut sistem kejiwaan. Jadi, aspek jasmani dan rohani saling bertautan dalam satu sistem. Selain itu, kepribadian itu terikat dengan lingkungan. Setiap individu mempunyai kekhasannya di dalam berinteraksi dengan lingkungan. Dengan demikian, kepribadian itu bila didefinisikan adalah sebagai pola tingkah laku yang khas bagi seseorang yang menyebabkan orang itu dapat dikenali dari perilakunya. Dan oleh karena itu, tidak mungkin ada dua orang yang sama. Mirip, tetapi tidak bisa sama.

Sering kali orang menyamakan antara temperamen, watak dan kepribadian. Namun, Dr. Tim La Haye dalam bukunya "Temperamen Anda Dapat Diubah" (Diterjemahkan dari dari buku Spirit Controlled Temperament), memberikan perbedaan di antara ketiganya. Dikatakannya bahwa temperamen merupakan gabungan dari ciri-ciri pembawaan yang secara tidak sadar mempengaruhi tingkah laku seseorang. Ciri-ciri ini diturunkan berdasarkan kebangsaan, ras (orang Batak berbeda dengan orang Jawa), seks (beda antara pria dan wanita) dan faktor- faktor keturunan lain. Ciri-ciri ini diteruskan oleh gen (plasma pembawa sifat). Beberapa ahli ilmu jiwa mengemukakan bahwa kita lebih banyak mendapat gen kakek dan nenek kita daripada gen orang tua kita. Hal ini nyata pada beberapa anak yang lebih mirip dengan kakek atau nenek daripada dengan kedua orang tuanya. Ciri-ciri temperamen itu tidak dapat ditentukan lebih dahulu, sama seperti mata, rambut dan ukuran tubuh.

Watak seseorang menyatakan keadaan yang sebenarnya. Barangkali inilah yang disebut sebagai "manusia batiniah yang tersembunyi". Watak adalah hasil dari temperamen pembawaan seseorang yang dibentuk oleh pendidikan pada masa kanak-kanak, pendidikan di sekolah, sikap dasar, agama, prinsip-prinsip dan motivasi. Kadang-kadang watak itu disebut sebagai "jiwa" manusia yang terdiri atas pikiran, emosi dan kehendak.

Sedangkan kepribadian, menurut La Haye, adalah ekspresi yang keluar dari diri kita, yang mungkin sama dengan watak kita atau mungkin juga tidak, bergantung pada ketulusan kita. Sering kali kepribadian itu merupakan suatu topeng yang baik dari watak yang buruk atau yang lemah. Banyak orang pada masa bertindak berdasarkan apa yang menurut pikirannya patut dilakukan, bukan berdasarkan keadaan dirinya yang sebenarnya. Inilah rumus dari kekacauan mental dan rohani. Hal ini terjadi bila seseorang mengikuti rumus-rumus manusia tentang tingkah laku yang baik itu, maka akibatnya ialah kekacauan mental dan rohani.


Tipe Kepribadian

Perbedaan kepribadian atau tipe-tipe kepribadian yang melekat pada setiap orang telah menarik perhatian para ahli sejak dahulu kala. Sebenarnya penjelasan Alkitab mengenai tipe-tipe kepribadian ini telah ada jauh sebelum penelitian ilmiah. Alkitab menjelaskan tentang perbedaan antara pria dan wanita yang merupakan perbedaan tipe kepribadian yang sangat jelas. Perkembangan selanjutnya memberikan kepada kita suatu penguraian yang lebih terperinci mengenai tipe-tipe kepribadian orang.

Di dalam bidang kedokteran pada zaman Yunani kuno, Hippocrates telah melakukan suatu usaha penelitian di dalam tipologi kepribadian. Ia menyimpulkan bahwa temperamen (darah, flegma, empedu hitam, empedu kuning) berhubungan dengan kepribadian yang mudah terserang berbagai macam penyakit. Ia menyatakan bahwa mereka yang pendek dan gempal mudah terserang apoplexy dan mereka yang tinggi dan kerempeng mudah terserang penyakit tuberclosis. Kecuali Galen (130-200 AD) membagi tipe kepribadian itu berdasarkan temperamen tersebut menjadi:

1. Sanguine - tipe yang meluap-luap.
2. Flegmatik - tipe lamban.
3. Kolerik - tipe gerak cepat.
4. Melankolik - tipe patah hati.

Sekali pun pembagian tipe kepribadian ini dinilai tidak ilmiah, namun istilah-istilah tersebut masih dipakai sampai dengan saat ini. Kemudian Ernst Kretschmer (1888-1964) dalam bukunya "Physique and Character" membagi kepribadian atau tempramen atas 4 tipe:

1. Tipe astenik.
Tipe ini mempunyai ciri kurus, lurus, tubuh lemah, sulit bertumbuh, dan cenderung kepada schizophrenia.

2. Tipe atletis.
Ciri-ciri tipe ini, orangnya tinggi, besar, dadanya bidang, kekar, dan postur tubuh yang meruncing ke bawah. Secara kejiwaan, orang ini mempunyai potensi schizothymic.

3. Tipe piknik.
Tubuhnya cenderung melebar, lembut, gemuk bulat dan berlemak. Kretschmer mengidentifikasikan tipe dengan cycloid atau manic- depressive, suatu temperamen yang berubah-ubah, kadang senang, kadang murung.

4. Tipe displastik.
Tipe yang lain dari ketiga tipe di atas.

William Sheldon yang menulis buku "The Varieties of Temperament" (1942), juga memberi perhatian kepada bentuk tubuh. Ia memusatkan perhatian pada penelitiannya tentang meticulous yang disebutnya sebagai somatotyping. Sikap dan tingkah lakunya diduga menyesuaikan diri dengan bentuk tubuhnya. Ia membagi tipe kepribadian menjadi tiga bagian:

1. Endomorphy.
Dari segi fisik, pencernaannya baik, namun otot-ototnya lemah. Karena itu tubuhnya cenderung gemuk. Tipe ini lamban, senang memanjakan tubuhnya, suka makan (apalagi kalau bersama kawan- kawan), orangnya mudah dan sangat bersahabat, dan merasa puas selalu.

2. Mesontorphy.
Orang tipe ini memiliki tubuh yang kekar, langkahnya tegap, senang menguasai karena memang dia punya kekuatan, suka terhadap hal-hal yang beresiko berbahaya. Ia mempunyai arah yang tegas dan jelas, punya keberanian untuk bertempur. Sifat ekstrovertnya sangat menonjol.

3. Ectomorphy.
Tipe ini ditandai dengan ketenangan. Postur tubuh dan gerak yang kaku. Perasaannya sangat peka. Sifatnya sangat tertutup.


Pada tahun 1971, C.G. Jung menulis sebuah buku yang berjudul "Psychological Types". Ia membagi kepribadian itu atas introvert dan extrovert. Kedua tipe itu ditandai dengan sikap seseorang terhadap obyek. Seorang yang introvert pada dasarnya selalu ingin melarikan diri dari obyek, seakan-akan obyek itu harus dicegah agar tidak menguasainya. Sebaliknya, orang yang ekstrovert mempunyai sikap yang positif terhadap obyek. Dialah yang menguasai obyek itu. Kelihatannya pembagian Jung itu terlalu sederhana. Tetapi sebetulnya Jung mengklasifikasikan kedua tipe itu ke dalam delapan subtipe, sehingga terkesan rumit.

1. Tipe pemikir ekstrovert.
Setiap aktivitas orang tipe ini tidak lepas dari kesimpulan- kesimpulan yang bersifat intelektual yang didasarkan pada data obyektif.

2. Tipe perasa ekstrovert.
Orang ini sebelum bertindak, perasaannya itu harus pas dulu. Jung memasukkan kaum wanita ke dalam tipe ini.

3. Tipe sensasi ekstrovert.
Bagi dia, segala sesuatu harus benar dan berorientasi pada kesenangan yang konkrit, tidak berlebihan, hukum itu harus dipatuhi. Orang tipe ini tidak mementingkan diri sendiri, dan rela berkorban demi kepentingan orang lain.

4. Tipe intuitif ekstrovert.
Orang ini tidak akan ditemukan dalam dunia yang memiliki nilai realitas yang dapat diterima. Ia tidak puas dengan apa yang ada. Ia selalu menyelidiki sesuatu dan berbuat sesuatu yang baru.

5. Tipe pemikir introvert.
Orang ini terlalu membatasi diri dengan pikiran dan pendapatnya sendiri. Ia bisa berpikir kritis, tetapi sering subyektif.

6. Tipe perasa introvert.
Orangnya tenang, sulit didekati, sukar mengerti dan kurang tanggap terhadap perasaan orang lain.

7. Tipe sensasi introvert.
Dia selalu berorientasi pada peristiwa-peristiwa yang terjadi, dan bukan pada penilaian yang masuk akal.

8. Tipe intuitif introvert.
Tipe ini sangat senang dengan hal-hal yang berbau mistik, bahkan ia bisa menjadi peramal atau seniman yang aneh.

Pembagian Jung ini disempurnakan lebih lanjut oleh Isabel Briggs Myers dalam bukunya "Gifts Differing". Dia membagi ke delapan tipe Jung menjadi dua sub tipe yang menyangkut penilaian dan pemahaman. Dialah yang menemukan tipe Myers-Briggs yang merupakan indikator terhadap pengukuran preferensi kepribadian, kapasitas dan keterbatasannya. Ia yakin bahwa setiap subtipe itu mempunyai kekuatan. Hal ini sangat menolong kita sebagai pelayan. Suatu pendekatan yang baru terhadap analisa tingkah laku dari tipe kepribadian ini terdapat dalam "The Diagnostic and Statistical Manual III", yang menguraikan 11 gangguan kepribadian yang di kelompokkan dalam tiga bagian:


Kelompok A: Orang-orang aneh dan eksentrik.

1. Paranoid:
Suatu gangguan kepribadian yang ditandai dengan ciri-ciri khas hipersensitivitas, kecurigaan, dan kecenderungan untuk menyalahkan orang lain.

2. Schzoid:
Selalu menjauhkan diri dari orang lain serta memiliki pemikiran yang eksentrik.

3. Schizotypal:
Ciri kepribadian yang terganggu yang ditandai dengan pengucilan diri dari orang lain serta pikiran-pikiran yang eksentrik (aneh, sinting, kegila-gilaan). Mirip schizophrenia, tetapi tidak begitu parah.


Kelompok B: Orang-orang dramatis, emosional dan tak menentu.

1. Anti-sosial:
Ketidakmauan untuk berasosiasi dengan individu-individu lain atau kelompok-kelompok lain. Sikapnya selalu melawan standar sosial, dan karenanya berbahaya bagi masyarakat.

2. Borderline:
Orangnya tidak stabil dalam tingkah laku, suasana hati, hubungan dengan orang lain, dan konsep diri.

3. Histronie:
Gangguan kepribadian yang ditandai dengan kehebohan, dramatisasi diri, pembujukan dan usaha untuk mencari perhatian.

4. Narcisstic:
Ditandai dengan cinta diri yang sering dikaitkan dengan kepuasan erotis. Ia sangat menyayangi tubuhnya, perbuatan dan kemampuannya.


Kelompok C: Ditandai dengan kecemasan, ketakutan dan suka bertingkah.

1. Avoidant:
Cirinya adalah kepekaan yang berlebihan terhadap penolakan orang lain, sehingga ia tidak mau berhubungan dengan orang lain, takut kalau ditolak.

2. Dependent:
Sangat kurang percaya diri, sehingga ia cepat menyerahkan diri kepada orang lain. Karenanya mereka tidak bisa mengambil keputusan di dalam hidup mereka tanpa orang lain.

3. Obsessive-compulsive:
Adanya ide (obsesi) yang tegar melekat dan sering tidak dikehendaki diiringi dengan perbuatan yang tidak masuk akal. Seseorang akan mencuci tangannya setiap lima menit karena takut akan bakteri yang akan membinasakannya. Atau, seorang yang sebentar-sebentar memeriksa kunci pintu apakah terkunci atau tidak, jangan-jangan ada maling yang sedang mondar-mandir di halaman rumahnya. Usaha-usaha seperti itu adalah usaha untuk menghilangkan perasan bersalah.

4. Passive-aggressive:
Ditandai dengan pemberontakan melalui ketidakaktifan dan sikap keras kepala.


Tipe-tipe Kepribadian Berdasarkan Temperamen

Tim La Have mengingatkan kita akan bahaya di dalam membahas tipe kepribadian ini berdasarkan temperamen. Sebab beberapa orang akan cenderung untuk mulai menilai dan bahkan menentukan temperamen kawan-kawannya. Padahal penilaian dan penentuan itu tidak dapat dilihat dari satu dua kesan dan penampilan seseorang di dalam waktu yang sangat terbatas. Orang yang bersangkutanlah yang jauh lebih mengetahui temperamen macam apa dia itu.

Lagi pula, pembagian temperamen seperti yang diusulkan oleh Galen itu tidak bermaksud bahwa setiap orang ditandai dengan satu temperamen, tetapi di dalam diri seseorang bisa terdiri atas beberapa macam tempramen. Memang, ada satu jenis temperamen yang menonjol.

Catatan lain yang perlu diperhatikan di dalam memahami orang lain lewat perbedaan temperamen itu, bahwa ada orang yang sebenarnya mempunyai temperamen kolerik, tetapi dalam perjalanan waktu dan pengalamannya, bisa berubah menjadi seorang yang flegmatik sehingga penilaian dan penetuan itu bisa meleset.


Kolerik

Seorang yang disebut kolerik biasanya ditandai dengan semangatnya yang berapi-api, cekatan, aktif, mempunyai kemauan keras, mampu untuk mandiri dan berpikir praktis. Ia selalu puas dengan dirinya sendiri, tanpa harus ditentukan orang lain. Ia tidak perlu diajar berpikir positif, sebab ia mudah menanggapi segala sesuatu itu positif. Sikapnya optimis. Di kala semua orang telah menyerah kepada keadaan, orang kolerik tetap memandang kepada masa depan yang penuh harapan. Bagi dia tidak ada langkah menyerah. Hal ini berhubungan dengan sikapnya yang berani, tidak kenal takut.

Karena itu orang kolerik hampir tidak menemukan kesulitan untuk memimpin. Potensi itu sangat besar di dalam dia. Dialah yang sering menyulut massa (agitator). Ia juga dikenal sebagai organisator yang bijaksana, karena ia tidak mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan sendiri.

Namun di balik kemampuan-kemampuanya itu, ia juga seorang yang kejam, sadis, kasar, tidak sensitif atau kurang mengerti perasaan orang lain. Barangkali satu hal yang sulit bagi dia adalah mengasihi orang lain. Karena bagi dia orang lain hanya alat untuk mencapai tujuan-tujuan. Ia selalu melihat dirinya sebagai pusat aktivitasnya dan orang lain harus mendukung tujuan-tujuan dan rencana-rencananya. Ia tidak akan berurusan dengan mereka yang tidak mendukungnya. Tugas dan proyeknya adalah pusat perhatiannya, karena itu ia bukanlah seorang yang mudah bergembira. Sebegitu aktif dan "rajin"nya orang ini, sehingga sulit baginya untuk menyediakan waktu untuk bersaat teduh (membaca Alkitab, berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dalam waktu-waktu khusus).


Sanguin

Orang sanguin beda dengan kolerik. Ia mampu membuat suasana menjadi hangat. Ia terkesan tidak memikirkan hari esok. Hari ini adalah hari yang berbahagia, hari esok lain urusannya. Ia begitu ramah dengan semua orang, simpatik, lemah lembut dan punya perhatian yang besar terhadap orang lain. Makanya ia sangat disenangi orang, apalagi ia termasuk orang yang tidak pernah kehabisan kata-kata, ia bisa memukau orang banyak dengan cerita-ceritanya yang menarik. Ia manusia yang tak pernah bosan dengan hidup ini.

Sayangnya, orang sanguin memiliki emosi yang tidak stabil. Ia bisa jatuh cinta dengan seorang hari ini, kemudian dengan seorang lagi pada hari yang lain. Pendiriannya tidak tegas, dan karena itu ia tidak segan-segan untuk berbohong. Karena senang dengan memukau orang, sampai-sampai sebuah fakta dilebih-lebihkan. Pintar membuat sensasi. Kalau orang sanguin melihat sepeda bertabrakan dengan sepeda, ia akan menceritakannya seakan-akan pesawat bertabrakan dengan pesawat. Sifat kekanak-kanakannya sangat menonjol, dan suka mendominasi percakapan.

Kelemahan lain yang dimiliki orang sanguin adalah tidak disiplin. Terlalu banyak waktu yang dibuangnya, sehingga banyak pekerjaan yang tidak selesai. Tidak teroganisir, karena ia mudah beralih perhatian kepada hal-hal yang tidak menjadi prioritas. Ia tidak terdesak dengan target waktu. Makanya kalau orang sanguin sering datang terlambat, kita tidak usah heran. Ia bisa memasuki sebuah pertemuan rapat dalam keadaan tenang tanpa merasa "berdosa".


Melankolik

Melankolik terkenal sebagai manusia sesitif. Kalau orang kolerik tidak senang dengan hal-hal yang kecil, melankolik adalah sebaliknya. Ia terlalu banyak disibukkan dengan hal-hal kecil yang kadang-kadang tidak pantas untuk dipikirkan. Ia adalah orang yang sulit mengambil keputusan. Seorang wanita yang melankolik akan sulit memberikan respons kepada seorang pria yang menyatakan cinta kepadanya. Ia mampu untuk menggumulinya selama bertahun-tahun untuk sebuah keputusan.

Ia adalah seorang yang berpikir dalam dan analitis. Karenanya ia sangat menghargai karya-karya musik, sastra, seni. Dalam pekerjaan, ia selalu melakukan yang terbaik. Ia tidak akan menerima suatu tanggungjawab apabila yang lain belum juga ia selesaikan. Kalau seorang kolerik, yang penting banyak pekerjaan, bagi melankolik, yang penting selesai dengan sempurna.

Akan tetapi, beda dengan kolerik, ia adalah seorang yang pesimis dan selalu melihat segala sesuatu dari sisi negatif. Orang mengenal dia sebagai Si Pemurung. Setiap hari dilewatinya hanya dengan memikirkan dirinya sendiri. Ia terlalu kuatir akan kehidupannya, makanya ia mudah stres dan depresi.

Terhadap orang lain ia sering mengkritik, kalau ia melihat ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Selalu curiga pada hal-hal yang baru, termasuk pada orang lain. Karena itu ia sulit mendapat kawan. Ia terlalu idealis dan teoritis. Karena terlalu banyak pertimbangan, akibatnya untuk mengambil keputusan pun sulit.


Flegmatik

Tenang, damai dan baik hati adalah ciri khas orang flegmatik. Orangnya adalah yang paling stabil di antara semua temperamen. Ia seorang yang setia, pendengar yang baik dan bisa mempunyai humor yang menyenangkan. Ia bekerja tanpa adanya suatu tekanan, rapi dan tetap teguh dalam mempertahankan apa yang telah menjadi peraturan. Ia sangat berhati-hati di dalam mengambil tindakan.

Cuma, orang akan merasa kesal dengan orang flegmatik. Ia adalah orang yang sulit bergerak. Pasif adalah ciri khas orang ini. Di saat semua orang panik, ia tenang. Ia kurang percaya pada dirinya sendiri. Dan yang lebih menjengkelkan lagi ialah sikapnya yang suka kompromi.

Dalam kegiatan bersama, ia lebih memilih untuk abstain ketimbang terlibat dalam suatu urusan. Ia tidak begitu antusias dalam segala hal. Kalau semua orang tertawa, ia tidak. Malahan ia sinis, dan suka mengejek. Acuh tak acuh, dan merasa dirinya lebih benar dari orang lain. Sebenarnya ia seorang pemalas dan sukar didorong. Sikapnya sangat tertutup, penakut dan terlalu berhati-hati.


[ First ] [ Prev ] [ Next ] [ Last ]