HOME
ALKITAB
Gereja Toraja TODAY
FORUM P.A.
BERBUAH
SEKOLAH ALKITAB
INJIL dan MELAYU
God's Word in CHINA
DOWNLOAD Bible
PPGT
Download Info Gerejawi
NEXT Generation
Renungan Harian
Kumpulan TULISAN
Majalah SULO
MENU ARTIKEL
SSAXXII
3 - 8 July 2006
26 Keputusan SSAXXII
BLOG SSAXXII
FOTO2 SSAXXII
Download SSA22 Doc.
FORUM
BUKU TAMU
Kampoeng TORAJA
GEREJA TORAJA TODAY
PEKAN SPIRITUALITAS
Yahoo YM
e-mail me

Bertumbuh Berakar dan Berbuah


forgiveness.jpg

SAMPAI HARI TUAKU



Seperti halnya seorang anak yang mulai memasuki usia remaja, yang sibuk mencari jati diri mereka dan beradaptasi dengan berbagai perubahan baik secara fisik maupun psikologis, demikian pula dengan seseorang yang mulai memasuki usia senja. Adaptasi dengan masa yang baru juga mereka perlukan untuk dapat menjalani sisa hidup mereka.

Dalam tanya jawab berikut ini, Pdt. Paul Gunadi Ph.D. akan memaparkan perubahan-perubahan dan adaptasi apa saja yang terjadi ketika kita memasuki usia lanjut. Silakan menyimak!



SAMPAI HARI TUAKU



T : Setiap fase pernikahan memiliki masalahnya sendiri-sendiri. Bagi pasangan yang sudah memasuki fase usia lanjut, masalah-masalah apa saja yang biasanya muncul?

J : Masalah yang biasanya muncul adalah keterbatasan. Kesehatan kita di hari tua sudah terbatas, tidak sesehat dulu lagi. Contohnya, dalam hal pendengaran. Pendengaran kita mulai berkurang sehingga perlu penyesuaian untuk berbicara dengan pasangan. Atau ingatan kita berkurang sehingga kita atau pasangan kita kembali menanyakan hal-hal yang baru saja kita bicarakan. Mereka yang kebetulan memiliki memori lebih kuat bisa menjadi jengkel karena pasangannya bertanya lagi, padahal baru saja diberitahukan.

Masalah juga bisa timbul karena sering lupa sehingga merepotkan pasangan. Di dalam keterbatasan inilah sebagai suami-istri kita harus menghadapi tantangannya. Untuk menghadapi tantangan ini, kita harus belajar melihat unsur-unsur yang menimbulkan keterbatasan itu.

Pertama adalah jenis aktivitas. Ada hal-hal yang biasa kita lakukan, namun sekarang tidak bisa lagi kita lakukan. Misalnya, kalau kita senang main tenis, sampai usia tertentu kita masih bisa bermain tenis. Namun, melewati usia tertentu, kita tidak akan bisa lagi bermain tenis.

Pilihannya adalah tidak lagi bermain tenis atau harus mengganti jenis aktivitasnya karena tetap ingin hidup sehat. Ada orang yang tidak bersedia dan berkata, "Saya suka tenis, maka saya akan terus main tenis." Akhirnya, tulangnya patah atau terkena serangan jantung karena tenis tidak cocok lagi untuk usia yang sudah lanjut. Atau karena tidak bersedia mengganti dengan aktivitas lain, akhirnya tidak olahraga sama sekali sehingga di masa tuanya ia justru mengumpulkan penyakit-penyakit yang lain.

Kecenderungan bagi pasangan yang sudah lanjut usia adalah adanya salah satu pihak yang menyangkali keterbatasannya sehingga pasangannya akan menjadi kesal. Akhirnya, terjadilah percekcokan yang tidak pernah muncul di usia muda karena masalah ini memang muncul di usia tua. Sebaliknya, ada juga pasangan yang tidak mau mengerti bahwa pasangannya tidak lagi sekuat dan selincah dulu. Dia memaksa pasangannya untuk terus pergi bersamanya. Dengan demikian, kita bisa menyimpulkan bahwa kedua belah pihak memang harus benar-benar saling memahami, menerima, dan terutama saling memercayai.

Jadi, perlu suatu jalinan komunikasi yang baik dengan berlandaskan saling memercayai dan menghargai.



------ T : Selain keterbatasan dalam jenis aktivitas, apakah ada hal-hal lainnya?

J : Hal yang kedua adalah frekuensi. Jika kita terbiasa bermain tenis, misalkan tiga kali per minggu, ketika berusia lanjut, kita tidak lagi bisa bermain tiga kali seminggu. Mungkin hanya menjadi dua kali seminggu. Aktivitas yang biasa kita lakukan beberapa kali per hari atau per minggu, seiring pertambahan usia, harus kita kurangi.

Selain frekuensi, yang juga harus kita pertimbangkan ulang adalah seberapa baik dan memuaskan kualitasnya. Salah satu yang juga mesti kita sadari adalah relasi suami-istri secara seksual.

Tidak bisa disangkal, relasi seksual pada masa tua akan berubah, tidak lagi mempunyai kualitas sebaik dulu. Ini bagian yang juga harus diterima. Ada hal-hal yang masih bisa dilakukan, tapi tidak lagi sebaik atau sememuaskan sebelumnya. Bagian yang mesti kita sadari juga adalah berapa lama durasinya.

Misalnya, jika dulu bisa bermain tenis dua jam, maka dengan bertambahnya usia mungkin harus ada pengurangan dari dua jam ke satu setengah jam. Bepergian dulu bisa dari pagi sampai sore, sekarang sampai siang saja harus sudah pulang. Inilah elemen-elemen yang mesti kita sadari telah berubah dan harus kita terima. ------



T : Kalau keterbatasan justru mengurangi jenis aktivitas, tidakkah sebaiknya dicarikan penggantinya? Misalnya, walaupun tidak bisa menikmati kepuasan seksual, bukankah harus ada sesuatu yang memuaskan dirinya?

J : Sudah tentu dia harus kreatif mencari bentuk-bentuk aktivitas lain yang dapat dilakukannya. Namun, kita harus tetap berjalan di koridor kehendak Tuhan. Jangan sampai kita mencari aktivitas pengganti yang melawan kehendak Tuhan. Kita memang harus kreatif dan kreativitas itu bisa diwujudkan.

Misalnya, kalau dulu terbiasa pergi ke mana-mana, sekarang mungkin jalan di sekitar rumah saja bersama-sama. Dulu biasa pulang malam, sekarang pulang sore karena mata tidak lagi awas untuk bisa melihat jalanan dengan baik. Pikirkanlah apa yang bisa dilakukan di rumah sehingga masih bisa melakukan kebersamaan. ------



T : Selain faktor keterbatasan, adakah faktor lainnya?

J : Masa tua ini sebenarnya masa mengenang dan menuai. Di masa seperti ini, kita tidak lagi dapat memandang ke depan sebab secara alamiah kita tahu bahwa tidak banyak lagi waktu yang tersisa. Secara fisik pun ingatan jangka pendek kita makin memudar sehingga kita sering melupakan yang sekarang. Tapi jangka waktu kita masih ada. Kita bisa mengingat hal-hal yang dulu pernah terjadi.

Itu sebabnya, kalau kita pernah mengalami kepahitan atau kekecewaan di masa lalu, kita perlu membereskannya, mengampuni orang yang melukai atau mengecewakan kita. Bila tidak, di hari tua kepahitan itu akan mengganggu, membesar, dan benar-benar menguasai kita. Ketika berkunjung ke rumah orang seperti ini, kita akan selalu disuguhi cerita yang sama tentang kepahitan dan kebenciannya kepada orang lain.

Masalahnya, orang ini sudah membicarakan kemarahan dan kekecewaannya berkali-kali kepada setiap orang yang berkunjung kepadanya. Masa tua adalah masa mengenang dan menuai. Kalau sebelumnya menabur benci dan dendam, di hari tua kelak kita akan menuai benci dan dendam dalam skala yang lebih besar. Sebaliknya, kalau di masa lampau kita menanam banyak pengalaman indah dengan mengampuni, tidak menggenggamnya sendiri, tetapi memilih menyerahkan semuanya kembali kepada Tuhan, masa tua akan menjadi masa yang lebih indah sebab yang kita ingat adalah yang hal yang indah. Ketika kita tidak menyimpan dendam, maka yang kita tuai adalah pengampunan dan keindahan. Itu sebabnya, kita akan melihat mata orang tua yang indah, bersinar, dan menjadi berkat karena masa lalu yang penuh pengampunan. Tapi ada juga orang tua yang masih memancarkan kebencian dan kepahitan. ------



T : Kadang-kadang, ada orang tua yang terus menyesali masa lalunya, tapi tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena unsur usia. Bagaimana mengatasi keadaan seperti ini?

J : Dia harus datang kepada Tuhan dan berkata, "Tuhan, ada kerikil dalam hidup saya. Saya tahu ini tidak benar, saya harus membereskannya." Nah, dia harus mau membereskan. Tidak saat di mana kita berkata terlambat untuk mengampuni, untuk membereskan -- selama masih ada hari, berarti kita masih bisa mengampuni.

Yang penting ada kemauan. Namun, sering kali kebencian sudah mendarah daging dan menjadi bagian hidupnya untuk waktu yang lama. Bila ini terjadi, ia tidak dengan mudah mau atau melepaskan kebencian itu. Jadi semakin hidup ini diisi oleh kepahitan, yang harus menanggung hal itu justru pasangannya. Setiap hari pasangannya harus mendengarkan keluhan kepahitan yang tidak pernah habis. Jadi kalau kita melihat dia merugikan dirinya sendiri, tapi tidak mau melepaskannya, Tuhan memberikan pilihan kepada mereka, yaitu datang kepada-Nya sehingga dimampukan untuk mengampuni atau tetap tidak mau mengampuni sehingga ia terus dikuasai oleh kebencian. ------



T : Masih adakah faktor lain pada masa tua ini yang perlu diperhatikan?

J : Masa tua adalah masa perubahan prioritas.

Maksudnya, oleh karena sedikitnya waktu yang tersisa dan berkurangnya kesanggupan fisik, kita pun dipaksa menetapkan ulang prioritas hidup kita.

Kita mesti duduk bersama dan membicarakan apa yang sekarang ingin kita lakukan di sisa-sisa hari kita. Jangan sampai nanti yang satu mau ke kiri, yang lain mau ke kanan. Sudah tentu di masa tua tetap diperlukan suatu kerelaan untuk mengalah, untuk berkata, "Maaf, saya sebetulnya sulit menerima ini, tapi karena saya tahu ini penting bagimu saya akan mendukungmu." Semua ini harus dijaga dalam koridor saling mengerti.

Ada kecenderungan di hari tuanya sebagian orang menggunakannya untuk membalas dendam. Adakalanya mereka memang terlalu pahit di masa lampau, diperlakukan buruk oleh pasangannya, jadi masa tua dimanfaatkan sebagai masa pembalasan dendam. Namun, kita mesti ingat bahwa kita tetap bertanggung jawab atas tindakan kita sekarang.

Tuhan memanggil kita untuk mengampuni -- tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, Tuhan memanggil kita untuk mengasihi, dan kita bertanggung jawab untuk menunaikan perintah Tuhan ini. ------



T : Apakah orang yang sudah lanjut usia tetap perlu mempunyai cita-cita atau pengharapan untuk masa depannya walaupun hanya tinggal sedikit?

J : Itu penting sekali. Bicarakanlah apa yang ingin dikerjakan bersama setahun ini atau tahun depan kalau Tuhan mengaruniakan kesehatan kepada kita. Jadi, silakan mengisi masa tua dengan rencana-rencana yang realistik dan dapat dilakukan. ------

T : Bagaimana dengan harapan-harapan masa lalunya yang tidak menjadi kenyataan? Bukankah harapan-harapan itu harus ditinjau ulang, atau malah harus ditinggalkan, dsb.? Bukankah menyakitkan meninggalkan harapan-harapan yang sudah tidak mungkin tercapai?

J : Di masa tua, kita mesti berdamai dengan diri kita pula. Maksudnya, waktu kita menengok ke belakang dan melihat hal-hal yang tidak kita dapatkan, kita mesti duduk dan berpikir dengan jernih. Jangan menyalahkan orang karena tindakan ini hanya akan menambahkan kepahitan. Lihatlah, apakah itu bagian kita.

Kalau memang ini kesalahan orang dan orang berbuat buruk kepada kita, tugas kita di masa tua adalah meminta Tuhan menolong kita mengampuni orang itu, ini proyek kita. Kita tidak bisa mendelegasikan ini kepada orang lain, ini adalah tanggung jawab kita kepada Tuhan. Kalau memang kitalah yang berandil, yang membuat kita kehilangan kesempatan baik itu, kita juga mesti berdamai dengan diri kita dan menerimanya.

Setelah itu, kita datang kembali kepada Tuhan dan percaya bahwa meskipun kita kehilangan itu semua, tetapi rencana Tuhan, anugerah Tuhan bagi kita cukup, tidak lebih juga tidak kurang. ------



T : Apa firman Tuhan yang sesuai dengan topik ini?

J : Pengkhotbah 3:11 dan 13, "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya ...; dan bahwa setiap orang dapat makan, minum, dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah."

Ini benar-benar konsep teologis yang dalam, yaitu bahwa Tuhan menguasai segalanya. Dia Allah yang berdaulat; Dia yang memberikan keindahan pada waktunya; Dia yang membuat seseorang mampu untuk makan, minum, dan menikmati hidupnya. Tuhanlah segalanya.

Jadi, di hari tua kita kembali kepada Tuhan, bersyukur dan berserah kepada-Nya.

Sajian di atas, kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. #032A yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan.

-- Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat e-mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-onsel(at)hub.xc.org> atau: < TELAGA(at)sabda.org >

Sunset2.jpg

Child Pray to Jesus.jpg

Doa tak sekedar kata kata Indah...

By: Khael



Dalam setiap ibadah hari Minggu kita menaikkan doa syafaat bagi jemaat-jemaat yang lain. Biasanya doa syafaat itu berbunyi demikian, "Ya Allah, saat ini kami teringat saudara-saudara yang tidak bisa hadir dalam kebaktian malam ini.

Kami berdoa untuk mereka yang sudah lanjut usia, yang karena keterbatasan tubuh, tidak bisa lagi datang ke gereja. Mohon Tuhan lawat mereka dan berikan mereka penghiburan.

Kami juga berdoa bagi saudara-saudara yang sakit, kiranya Tuhan bersama-sama mereka dan menyembuhkan mereka. Bagi teman-teman yang menghadapi kemunduran iman dan masalah mohon Tuhan hadir di sana dan memberikan mereka kekuatan."

Terdengar pula doa yang biasa dipanjatkan ketika orang kristen ketika hendak makan, "Terima kasih Tuhan Yesus, untuk makanan yang Engkau berikan kepada kami malam hari ini. Saat ini kami teringat orang-orang miskin, para gelandangan yang kekurangan makanan. Mereka tidak bisa menikmati makanan seperti kami ya Tuhan. Mohon Tuhan memberkati, sehingga mereka bisa makan seperti kami."

Doa-doa di atas adalah doa-doa yang indah.

Tapi, doa bukan sekedar kata-kata meskipun kata-kata itu indah. Tapi doa seharusnya adalah sesuatu yang menggerakkan kita yang berdoa untuk melakukan suatu tindakan yang nyata.

Bagaimana doa yang menggerakkan kita untuk beraksi?

Seharusnya kita berdoa syafaat demikian, "Ya Tuhan kami berdoa untuk saudara-saudara yang sudah lanjut usia, utuslah kami kepada mereka untuk memberikan penghiburan kepada mereka. Pakailah kami sebagai alat Tuhan untuk mengunjungi jemaat-jemaat yang sakit supaya mereka mendapat kekuatan. Dan biarlah kami boleh menghibur saudara-saudara kami yang lemah iman dan mendapatkan masalah yang berat supaya mereka dapat merasakan kasih dan penghiburan."

Sedang doa makan yang tidak sekedar kata-kata, misalnya, "Ya Tuhan Yesus, kami berterima kasih untuk makanan ini. Saat ini kami teringat orang-orang yang kelaparan, doronglah kami untuk membagi kepada mereka apa yang kami punya." Apakah Anda sekedar berkata-kata indah dalam berdoa?

[ First ] [ Prev ] [ Next ] [ Last ]