 |
|
|
Bertumbuh Berakar dan Berbuah
MEMANTAPKAN BAGIAN USIA KETIGA
Bacaan: Kisah Para Rasul 2:14-21
Bacaan Refleksi
---------------
Tahap awal kehidupan adalah waktu bertumbuh dengan menggunakan
"kepala", "tangan", dan "hati" yang bertumbuh dalam kebijakan,
anugerah, dan usia. Ini adalah tugas utama usia pertama.
Bagian usia kedua ditandai dengan otonomi dan pilihan tertentu yang
berdasar pada apa yang saya nilai dan hargai, orang yang saya
kenal dan alasan saya mengenal mereka, pekerjaan yang saya lakukan,
siapa sahabat saya, apakah saya menikah dan punya anak, di mana saya
harus hidup, dan sebagainya.
Bagi banyak orang, tanda-tanda memasuki "tahun-tahun kemunduran"
tampak dalam hal kelambanan, hilangnya semangat dan tujuan, sampai
menghalangi upaya kreatif dalam sisa hidup ini. Tetapi dilihat dari
sisi rohani atau duniawi, tahap usia ketiga adalah waktu mengambil
keputusan secara sadar, saat penuh anugerah, di mana para lanjut
usia dapat mengembalikan karunia yang diterimanya, sebagai saat
melibatkan diri dengan masyarakat, bukan selaku anggota keluarga
atau pekerja, tetapi selaku penduduk dunia yang diberi tanggung
jawab berat. (Charles J. Fahey)
Memantapkan Bagian Usia Ketiga
------------------------------
Usia adalah suatu perjalanan yang kita mulai sejak lahir. Bagian
pertama hidup kita berada di sekitar keluarga dan sekolah. Ini
adalah usia siap dewasa yang bertanggung jawab.
Pada bagian kedua, kita menemukan tempat di dunia dan
memantapkannya. Kita berkeluarga dan terbiasa berperan dalam dunia
pekerjaan. Lalu, tibalah bagian ketiga perjalanan kita, di mana
keinginan untuk mencapai sesuatu sudah berkurang atau tidak sibuk
merawat anak-anak yang semula adalah prioritas pertama. Lalu apa
ini? Apakah kini waktunya "keluar ke padang rumput"?
Bukan. Ini adalah waktu untuk mencari arah baru dalam perjalanan
hidup kita.
Kita menjadi lebih bijaksana, lebih berpengalaman, dan
lebih tenang daripada sebelumnya. Kita bertumbuh terus dan
mengembangkan wawasan kita sebagaimana kita tumbuh, berkembang, dan
beroleh hidup yang berarti pada usia ketiga.
Benarkah pendapat Robert Browning yang menyebutkan bahwa "semakin
tua, semakin baik"? Apakah tubuh tua kita mengejek dan membatasi
pertumbuhan kita? Bila kita melihat para lanjut usia bertumbuh
bagaikan memiliki sepasang kaki yang baru dalam perjalanan hidup,
yakni kehidupan usia ketiga, kita mungkin dipesonakan oleh hal-hal
yang sudah Tuhan siapkan bagi kita.
Di dalam terang hidup itu aku berjalan
hingga ku selesaikan seluruh perjalanan hidupku
(terjemahan dari "I Heard the Voice of Jesus Say")
Doa
---
Tuhan dari segala generasi, kami hidup melalui dua bagian usia kami
dan sejauh ini kami berhasil. Tolonglah agar kami menyelesaikan usia
ketiga kami dengan sebaik-baiknya. Amin.
Bahan diambil dari:
Judul buku: Tetap Ceria di Usia Senja
Penulis : Richard L. Morgan
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia, Jakarta 1998
Halaman : 44 -- 45
|
TOLONG, SAYA BERTAMBAH TUA!
Usia tua sering dipandang sebagai masa yang tidak produktif dan
tidak berguna. Bob Buford, pendiri Jaringan Kepemimpinan, menuliskan
dalam bukunya bahwa usia produktif seseorang hanyalah pada empat
dekade pertama kehidupannya sedangkan sisanya adalah masa-masa
kemunduran diri. Namun, pandangan ini berbeda sekali dengan Alkitab.
Mazmur 92:13-15 menyatakan bahwa pada usia lanjut sekalipun, manusia
tetap dapat Allah pakai untuk menyatakan kebenaran-Nya.
Pertanyaan "Mengapa"
--------------------
Mengapa kita menjadi tua? Mungkin itulah pertanyaan yang sering
muncul.
Tak seorang pun akan bertambah muda. Seiring pertambahan
usia, perubahan fisik pun mulai muncul. Namun, pengalaman-pengalaman
hidup yang semakin bertambah hendaknya semakin membuat kita
bijaksana.
Rentang hidup kita diawali dengan bekerja keras untuk mencapai apa
yang kita inginkan. Bahkan sampai usia tengah baya pun kita masih
terus mencari apa yang kita inginkan. Tapi Allah tidak melihat kita
dari apa yang kita lakukan atau yang kita dapatkan, tetapi dari
siapa diri kita.
Beban Setengah Baya
-------------------
Usia tengah baya merupakan transisi dari kesibukan kita ke fokus
kita. Karena masa ini adalah masa transisi, tidaklah mengherankan
bila banyak orang yang mengalami krisis pada saat memasuki usia
tengah baya ini. Oleh sebab itulah, usia tengah baya memberikan
kesempatan kepada kita untuk mengevaluasi diri, khususnya hubungan
kita dengan Kristus.
Sudahkah kita benar-benar menggunakan karunia,
kreativitas, tenaga, dan kemampuan yang Allah berikan kepada kita
untuk kemuliaan-Nya.
Pada usia ini juga merupakan saat yang baik
untuk mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan baru untuk masa yang
akan datang.
Jangan memandang masa lalu, namun rayakan masa
sekarang.
Hulu-Hulu Sungai Manusia
------------------------
Sungai Mississippi yang mengalir di Louisiana merupakan aliran air
yang membawa lumpur dan kotoran. Keadaan ini berkebalikan dengan
aliran Father of Water di Minnesota yang mengalir jernih.
Sungai
Mississippi merupakan gambaran dari diri kita yang sudah terpolusi
dengan dosa. Polusi ini berawal dari dosa Adam dan Hawa. Kain adalah
pembunuh pertama, sedangkan Habel merupakan korbannya.
Lama hidup manusia sekarang dan dulu pun berbeda. Alkitab mencatat,
Adam meninggal pada usia 930 tahun, Nuh hidup sampai berusia 950
tahun, sedangkan Metusalah, kakeknya, sampai usia 969 tahun. Akan
tetapi, lama hidup manusia semakin lama semakin pendek. Abraham
hanya sampai berusia 175 tahun (Kejadian 25:7). Pada zaman Musa,
rata-rata usia manusia 120 tahun (Ulangan 34:7) dan Daud hanya
berumur 70 tahun (2 Samuel 5:4).
Meskipun perkembangan dan kemajuan
medis telah berhasil memperpanjang sedikit usia manusia, penuaan
tetap tidak bisa dihindari.
Perspektif Allah tentang Penuaan
--------------------------------
Dunia memang cenderung lebih menyukai masa muda dibanding dengan
masa tua, namun tidak demikian dengan Allah. Allah memiliki
pandangan tersendiri terhadap masa tua. Mazmur 92:13-15 menjelaskan,
orang yang bertambah tua masih tetap dapat berbuah dan memperdalam
persahabatannya dengan Tuhan.
Ini jelas sekali berbeda dengan
pandangan dunia yang menganggap orang yang sudah lanjut usia sudah
tidak produktif lagi. Amsal 16:31 dan 20:29 menyebutkan bahwa Allah
tetap menghormati orang yang sudah tua dan menjadi tua adalah suatu
kehormatan.
Alkitab mencatat beberapa peristiwa yang dialami Kaleb,
Naomi, Abraham, dan Simeon yang menunjukkan bahwa Allah tetap
menghargai orang yang sudah lanjut usia.
Meskipun demikian, Allah tidak memberikan jaminan karakter pada masa
lanjut usia. Contohnya, Salomo yang memiliki banyak istri pada masa
tuanya justru berpaling kepada Allah karena pengaruh istri-istrinya
yang memiliki allah lain (1Raja-raja 11:4).
Salomo akhirnya
menyesal dan kembali kepada Allah (Mazmur 71:17-18).
Janji lain Allah untuk para lanjut usia terdapat di Yesaya 46:4,
"Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku
menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu
terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu."
Sikap Kita Menuju Masa Tua
--------------------------
Langkah pertama yang dapat kita tempuh saat mulai memasuki masa tua
adalah menyadari bahwa masa tua merupakan bagian dari kehidupan
dunia yang telah jatuh. Masa tua tidak berarti menurunnya segala
kemampuan fisik kita.
Yesus mengatakan dalam Lukas 2:52 bahwa kita
hendaknya terus meningkat dalam kebijakan, termasuk hubungan dengan
Allah dan orang lain.
Langkah kedua adalah menyadari bahwa masa tua juga dialami oleh
orang lain. Perubahan-perubahan secara fisik tidak perlu
dikhawatirkan. Sebaliknya, pikiran-pikiran positiflah yang
diperlukan untuk menjalani masa tua. Ada banyak tokoh dunia yang
justru menghasilkan karya terbaik mereka ketika mereka sudah lanjut
usia, misalnya:
- Michaelangelo yang menyelesaikan lukisan "The Last Judgement"-nya
pada usia 89 tahun. Sebelumnya, di usia 66 tahun dia ditunjuk
sebagai arsitek Gereja St. Petrus.
- John Wesley masih berkhotbah sampai akhirnya dipanggil Tuhan pada
usia 90 tahun.
- Thomas Alfa Edison menghasilkan karya terbaiknya antara usia 70
dan 80 tahun.
Alkitab juga mencatat tokoh-tokoh yang pada masa tuanya justru
diberi kepercayaan oleh Tuhan, misalnya Abraham yang memiliki anak
dan membesarkannya saat mencapai usia seratus tahun. Musa, Abraham,
Ishak, Yakub, dan Yusuf juga tetap Tuhan pakai sampai masa tua
mereka.
Perintah untuk Menghormati
--------------------------
Dalam Imamat 19:32, Musa mencatat hal penting yang harus kita
lakukan terhadap orang yang lebih tua. Kita tidak mungkin takut akan
Tuhan jika kita tidak menghormati orang yang lebih tua.
Paulus juga
menasihatkan orang-orang muda supaya mereka menghormati dan tidak
berlaku kasar kepada orang yang lebih tua (1Timotius 1-3).
Demikian pula dengan orang lebih tua, mereka harus dapat menjadi
teladan bagi yang muda dan menyalurkan nilai-nilai Allah (Mazmur
71:18; Titus 2:2-5).
Jadi, masa tua bukanlah masa yang membuat kita panik. Sebaliknya,
masa tua merupakan masa untuk memasuki tahapan kehidupan yang baru.
Bahan diringkas dari:
Judul buku: Hidup Prima di Usia Senja
Penulis : Woodrow Kroll dan Don Hawkins
Penerbit : Yayasan Andi, Yogyakarta 2001
Halaman : 19 -- 28
|
[ First ]
[ Prev ]
[ Next ]
[ Last ]
|
 |
|
 |
|