HOME
ALKITAB
Gereja Toraja TODAY
FORUM P.A.
BERBUAH
SEKOLAH ALKITAB
INJIL dan MELAYU
God's Word in CHINA
DOWNLOAD Bible
PPGT
Download Info Gerejawi
NEXT Generation
Renungan Harian
Kumpulan TULISAN
Majalah SULO
MENU ARTIKEL
SSAXXII
3 - 8 July 2006
26 Keputusan SSAXXII
BLOG SSAXXII
FOTO2 SSAXXII
Download SSA22 Doc.
FORUM
BUKU TAMU
Kampoeng TORAJA
GEREJA TORAJA TODAY
PEKAN SPIRITUALITAS
Yahoo YM
e-mail me

Bertumbuh Berakar dan Berbuah


Menjadi Orang Besar Dalam Kristus

 


“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.” Markus 10: 43, 44

Abraham Maslow mempunyai teori tentang kebutuhan setiap manusia, yang sering di kenal dengan nama Maslow’s Hierarchy of Needs. Teori ini sangat terkenal, diajarkan di universitas dan diterapkan di dalam bisnis management hingga sekarang ini.

Di dalam teori ini Maslow membagi kebutuhan manusia menjadi 5 bagian, di mulai dari kebutuhan manusia yang paling dasar.

1. Physiological Needs Kebutuhan ini adalah kebutuhan yang paling dasar bagi setiap manusia. Contohnya adalah makan, minum, tidur, dsb.

2. Safety Setelah itu tingkat kebutuhan yang lebih tinggi lagi adalah keamanan. Contohnya, keamanan dalam lingkungan, tempat tinggal, keamanan keuangan dan kesehatan.

3. Social Needs Persahabatan adalah kebutuhan manusia yang berikutnya menurut Maslow. Kebutuhan seperti mengasihi dan dikasihi oleh sesama. Manusia perlu punya sense of belonging.

4. Esteem Kebutuhan ini adalah kebutuhan manusia dimana manusia perlu dihargai di dalam hidupnya, akan keberhasilan dalam sekolah, pekerjaan, dll. Manusia perlu perhatian, dan penghargaan.

5. Self-Actualisation Menurut Maslow kebutuhan yang satu ini adalah kebutuhan manusia yang tertinggi. Kebutuhan dan keinginan untuk berhasil, menjadi sukses dan besar.


Sesuai dengan teori Maslow, setiap manusia itu ingin menjadi besar. Beberapa dari kita mungkin tidak mau mengakuinya. Jika kita membaca firman Tuhan dari kitab Markus 10: 35-45, di sini kita bisa membaca bagaimana murid-murid Yesus juga ingin menjadi besar. Murid Yesus berkata kepada-Nya: “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.” (ayat ke-37) Lalu Tuhan Yesus mengajar murid-murid-Nya bagaimana cara yang benar untuk menjadi besar. Kuncinya terdapat di dalam ayat yang ke-43 dan 44. Menurut Tuhan Yesus, kunci agar kita menjadi besar adalah menjadi pelayan. Dan tugas seorang pelayan adalah melayani. Setiap orang Kristen, jika ingin menjadi besar di dalam Kristus haruslah melakukan hal ini, sebab Tuhan Yesus sendiri telah memberikan contoh bagi setiap kita, Ia datang kedunia untuk melayani dan bukan untuk dilayani. “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10: 45)

Apakah pelayanan itu? Dan bagaimanakah kita dapat melayani? Jawabannya dapat kita temukan di dalam kitam Roma 12: 1-3.

1. Pelayanan itu tidak dapat dikotak-kotakkan. (Roma 12: 1) Artinya, pelayanan tidak bisa hanya ada di sebagian dari hidup kita. Contohnya, tidaklah mungkin kita bisa melayani dengan benar sesuai dengan Firman Tuhan jikalau kita hanya melayani saat di gereja, tetapi tidak melayani saat di rumah, sekolah, ataupun kantor di mana kita bekerja. Pelayanan itu harus merupakan bagian dari seluruh kehidupan kita. Itulah pelayanan dan penyembahan yang sejati bagi Tuhan.

2. Perlu pembaharuan budi. (Roma 12: 2) Dengan kata lain kita perlu lahir baru di dalam Yesus. Jika tidak demikian kita tidak akan bisa membedakan mana yang baik dan berkenan kepada Allah.

3. Janganlah memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut dipikirkan. (Roma 12: 3) Kita perlu menguasai diri sesuai dengan iman yang sudah Tuhan anugerahkan.


Melayani Tuhan itu juga mempunyai arti melayani sesama manusia. Jangan sampai kita mengaku melayani Tuhan tetapi kita selalu bertengkar dengan sesama. Ketahuilah bahwa melayani manusia itu akan banyak kecewannya. Bayangkan Tuhan Yesus yang begitu mengasihi murid-murid-Nya dan Yudas yang membalas dengan menjual Tuhan Yesus.

Salah satu rahasia agar kita tidak kecewa saat melayani sesama adalah dengan tidak mengharapkan imbalan atau balasan dari yang kita layani. Kita melayani sebab kita telah terlebih dahulu dilayani oleh Tuhan Yesus. Kita mengasihi sebab kita terlebih dahulu dikasihi oleh-Nya. Kita tidak perlu lagi balasan dari sesama sebab kita telah diselamatkan, kita telah Ia puaskan. Pelayanan bagi orang Kristen itu merupakan suatu keharusan!

Gerry Kasih


"BERILAH MAKA KAMU DIBERI"

 


Tantangan terbesar abad ini bagi umat Kristiani bukan saja soal jangan berbuat dosa lagi, tetapi sesungguhnya juga adalah soal memberi. Sadar atau tidak ternyata masih banyak umat Kristiani yang masih mempertahankan prinsip timbal-balik; Kalau saya memberi maka saya harus mendapatkan sesuatu imbalan; Apakah itu berupa materi, pengakuan, kehormatan, ketenaran dll. Maka tidak jarang kita mendapati bahwa ada anggota keluarga yang lebih rela memberi kepada orang lain dari pada kepada saudaranya sendiri. Firman Tuhan menjelaskan ketidakadilan ini demikian "Tetapi kamu sendiri melakukan ketidakadilan dan kamu sendiri mendatangkan kerugian, dan hal itu kamu buat terhadap saudara-saudaramu. Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah?..." (1 Korintus 6:8-9).

Ada banyak pula orang yang urung memberi, karena khawatir akan kekurangan, itulah sebabnya tidak jarang kita mendapati pengikut Kristus yang lebih suka berkata "saya mendukung dalam doa" daripada "saya mendukung dalam dana". Umat Tuhan seringkali menjadi kalang-kabut kalau sudah diperhadapkan dengan masalah dukungan dalam dana. Dan lebih menyedihkan lagi ada yang sampai berpendapat, karena firman Tuhan gratis maka harus didapatkan dengan gratis pula; Jadi hamba Tuhan akhirnya harus berdagang untuk menghidupi pelayanan dan keluarganya. Padahal Firman Tuhan Yesus jelas mengajarkan kepada kita "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima" (Kisah Para Rasul 20:35). Maka sangat relevan bila kita membaca kembali kisah di dalam alkitab yaitu ketika ada seorang kaya datang kepada Yesus untuk menanyakan apalagi yang harus diperbuatnya untuk SEMPURNA di hadapan Allah, Tuhan Yesus mengatakan "Jikalau engkau hendak SEMPURNA, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Matius 19:21). Lalu bagaimana sikap orang kaya tersebut? Dia memang pergi, tetapi bukan untuk menjual harta kekayaannya dan membagikannya kepada orang miskin, tetapi Alkitab mencatat bahwa dia pergi dengan sedih.

Tuntutan Tuhan Yesus tersebut memang terkesan tidak masuk akal, tetapi bagi kita yang mengenal Yesus dengan seutuhnya, pasti mudah untuk mengerti apa dasar Yesus mengatakan hal tersebut, ya, karena Dia adalah Sumber Kehidupan (Mazmur 23:1), dan bukan saja di dunia ini tetapi juga Kehidupan Kekal sesudah kita mati (Yohanes 3:16). Jadi sebagai umat Tuhan kita selayaknya tidak boleh mencari-cari alasan untuk menutupi ketidak-relaan kita dalam memberi. Janganlah membuat tuduhan juga. Firman Tuhan katakan: "Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi," sedangkan yang diminta ada padamu" (Amsal 3:28).

Memberi dengan dasar ketulusan, dengan rela, memang tidak mudah, hanya orang-orang yang memiliki Kasihlah yang akan mampu memberi dengan ketulusan. Sebagai umat Kristiani bila kita masih saja mengkalkulasi untung-rugi ketika hendak memberi, maka sudah pasti Kasih belum menjadi milik kita, padahal KASIH adalah kebanggaan dan milik paling murni umat Kristiani karena konsep kasih di dalam dunia ini, datangnya dari Tuhan Yesus Kristus, misalnya dalam salah satu ajaran-Nya "Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:43-44). Dan melalui Rasul Paulus juga mengatakan "Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku." (1 Korintus 13:3). Jadi jikalau kita ingin memberi lakukan demi kebenaran Firman Tuhan : "Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita" (II Korintus9:7).

Kini siapa yang harus memberi? Jawabnya adalah Kita semua, karena Allah sudah melayakkan kita semua. Allah telah melayakkan kita melalui janji-Nya kepada Abraham "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat." (Kejadian 12:2). engkau akan menjadi berkat, artinya akan memberi, memberi dari apa yang ada pada diri kita. Dan bila kita bertanya lagi berapa besar seharusnya pemberian itu? Jawabnya adalah tergantung Berapa Besar KASIH yang ada dalam hati kita masing-masing. Semakin besar kasih yang ada dalam hati kita maka akan semakin besar pula yang mampu kita berikan, bahkan seorang janda miskinpun kata alkitab mampu memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya (Markus 12:43-44).

"Berilah dan kamu akan diberi:

suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu.

Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Lukas 6:38).

RYT
Sumber : http://forum.holipower.net/viewthread.php?tid=88


Bagaimana satu Tuhan terdiri dari tiga pribadi?

 

Doktrin Trinitas - yaitu bahwa Allah Bapa, Allah [Simbol Trinitas] Putra, dan Allah Roh Kudus masing-masing adalah Tuhan yang sama dan satu - yang diakui sulit untuk dipahami, merupakan dasar utama dari kepercayaan Kristen. Walaupun kaum skeptik meremehkannya sebagai ketidakmungkinan matematika, hal tersebut merupakan doktrin dasar Kitab Suci dan juga merupakan kenyataan yang amat dalam dari pengalaman universal dan pemahaman kosmos secara ilmiah.

Perjanjian Lama dan Baru keduanya mengajarkan Kesatuan dan Trinitas Tuhan. Ide bahwa hanya ada satu Tuhan, yang menciptakan segala hal, berulang kali ditekankan dalam Kitab Suci seperti dalam Yesaya 45:18: "Sebab beginilah firman Tuhan, yang menciptakan langit; Dialah Allah yang membentuk bumi dan menjadikannya; . . . Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain". Contoh dalam Perjanjian Baru adalah Yakobus 2:19: "Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar."

Ketiga pribadi Tuhan, pada saat yang sama, tercatat dalam Kitab Suci seperti dalam Yesaya 48:16: "Dari dahulu tidak pernah Aku berkata dengan sembunyi dan pada waktu hal itu terjadi Aku ada di situ. Dan sekarang, Tuhan Allah mengutus aku dengan Roh-Nya." Pembicara dalam ayat ini jelas sekali adalah Tuhan, dan Dia mengatakan Dia telah "diutus oleh Allah Tuhan (yaitu, Bapa) dan Roh-Nya (yaitu, Roh Kudus)". Doktrin Trinitas dalam Perjanjian Baru terdapat dalam ayat seperti Yohanes 15:26, di mana Tuhan Yesus bersabda: "Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku." Kemudian ada juga aturan pembaptisan: "baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus" (Matius 28:19). Satu nama (Allah) - tetapi tiga nama!

Bahwa Yesus, satu-satunya Putra Allah, dinyatakan sebagai Tuhan, setara dengan Bapa, dijelaskan dalam banyak kitab dalam Kitab Suci. Sebagai contoh, Dia bersabda: "Aku adalah Alfa dan Omega, awal dan akhir, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa" (Wahyu 1:8).

Beberapa pemuja secara salah mengajarkan bahwa Roh Kudus adalah pengaruh ketuhanan yang tidak berpribadi, tetapi Kitab Suci mengajarkan bahwa Dia adalah pribadi yang nyata, seperti halnya Bapa dan Putra. Yesus bersabda: "Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang" (Yohanes 16:13).

Ajaran Kitab Suci mengenai Trinitas dapat diringkas sebagai berikut. Allah adalah Tiga-dalam-satu, dengan tiap Pribadi Tuhan adalah Allah yang sama dan selalu dan sepenuhnya. Masing-masing diperlukan, dan masing-masing berbeda, tetapi semuanya adalah satu. Ketiga Pribadi muncul dalam urutan yang bersifat sebab-akibat dan logis. Bapa adalah yang tak nampak, Sumber dari segala sesuatu, dinyatakan dalam dan oleh Putra, diejawantahkan dalam dan oleh Roh Kudus. Putra bermula dari Bapa, dan Roh dari Putra. Mengacu pada penciptaan Tuhan, Bapa adalah Pemikiran di atas semua itu, Putra adalah Sabda yang memanggilnya keluar, dan Roh adalah Perbuatan yang menyebabkannya menjadi kenyataan. Kita "melihat" Tuhan dan penyelamatan agung-Nya dalam Putra, Tuhan Yesus Kristus, kemudian "mengalami" kenyataan mereka dalam iman, melalui kehadiran Roh Kudus-Nya.

Walaupun hubungan ini tampaknya seperti paradoks, bagi beberapa orang bahkan benar-benar tak mungkin, hal tersebut amatlah nyata, dan kebenarannya sudah mendarah daging jauh ke dalam sifat dasar manusia. Maka, manusia selalu merasakan lebih dahulu kebenaran bahwa Tuhan pasti "ada di luar sana", ada di mana-mana dan merupakan Penyebab Pertama dari segala sesuatu, tetapi mereka telah mengkorupsi pengetahuan intuitif mengenai Bapa ini menjadi panteisme dan akhirnya menjadi naturalisme. Serupa dengan itu, manusia selalu merasakan kebutuhan untuk "bertemu" Tuhan dalam arti pemahaman dan pengalaman mereka sendiri, tetapi pengetahuan bahwa Tuhan harus menampakkan diri-Nya sendiri telah disimpangkan menjadi politheisme dan pemujaan berhala. Manusia kemudian secara terus-menerus membangun "model" atas Tuhan, kadang-kadang bahkan dalam bentuk sistem filosofis untuk menggambarkan kenyataan yang paling utama. Akhirnya, manusia selalu mengetahui bahwa mereka harus dapat mempunyai hubungan erat dengan Penciptanya dan mengalami kehadiran-Nya "di dalam". Tetapi intuisi yang mendalam tentang Roh Kudus ini telah dikorupsi menjadi berbagai bentuk fanatisme dan mistisisme palsu, dan bahkan menjadi spiritisme dan demonisme. Jadi, kebenaran tiga-dalam-satu Allah telah berurat-akar dalam diri manusia, tetapi dia sering kali menyimpangkannya dan menggantikannya dengan tuhan palsu.

[ Jika informasi ini berguna, pertimbangkanlah dalam doa untuk memberi sumbangan guna membantu menutupi biaya-biaya agar menjadikan pelayanan yang membangun iman ini tersedia bagi Anda dan keluarga Anda! Sumbangan bersifat tax-deductible (di Amerika). ]
Dikutip dari The Bible Has the Answer, by Henry Morris and Martin Clark, dipublikasikan oleh Master Books, 1987

Diterjemahkan oleh: Jasinta
Diedarkan oleh Eden Communications atas ijin dari Master Books
Hak Cipta © 1995, Master Books, Semua hak dilindungi - kecuali seperti yang tercantum pada halaman "Usage and Copyright" yang memberi pengguna ChristianAnswers.Net hak untuk menggunakan halaman ini untuk pekerjaan mereka di rumah, kesaksian pribadi, gereja dan sekolah.

www.ChristianAnswers.Net/indonesian
Christian Answers Network
PO Box 200
Gilbert AZ 85299


[ First ] [ Prev ] [ Next ] [ Last ]