 |
|
|
Bertumbuh Berakar dan Berbuah
MEMBANGUN KESEIMBANGAN
Oleh: Pieter Batti
Bahan tulisan diambil dari Buku Membangun Jemaat Gereja Toraja tahun 2002.
Surat Kiriman Rasul Paulus ke Jemaat di Korintus Pasal 8: 1-15 dengan Judul “Pelayanan Kasih”.
Nats yang di ambil menjadi bahan renungan dalam tulisan ini adalah Korintus Pasal 8: 14
Maka hendaklah sekarang kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.
Tema yang dipilih adalah Membangun Keseimbangan
Keseimbangan sangat relevan dengan perjalan hidup manusia. Karena itu Penyair atau Penulis mengibaratkan kehidupan manusia bagaikan kapal yang berlayar menuju suatu Pelabuhan atau tujuan yang dikehendaki oleh manusia. Dalam pelayaran sebuah kapal setiap saat bisa diterpah oleh angin, badai dan gelombang yang terkadang dahsyat. Demikian juga dengan perjalanan hidup anak manusia selama hidup di dunia yang fana ini.
Persamaan kapal yang berlayar dengan perjalanan hidup manusia sangatlah tepat. Sebuah kapal yang tidak lagi seimbang bila diterpah angin atau ombak sedikit saja akan terbalik dan tenggelam dengan sendirinya. Karena itu sejak dari perencanaan, pembangunan sampai ke kapal dioperasikan faktor keseimbangan atau yang disebut dalam istilah perkapalan Stabilitas sangat-sangat penting untuk diperhatikan. Mengapa demikian. Karena itulah yang menentukan selamat tidaknya sebuah kapal berlayar sampai di tujuan.
Begitu stabilitas kapal terganggu maka malapetaka akan tiba.
Nakhoda kapal harus tahu benar bagaimana menjaga stabilitas kapal yang dibawah komandonya. Dia dilengkapi dengan informasi tentang Stabilitas kapal yang dibawanya dan digunakan untuk mengotrol dan mengatur penempatan semua barang dan muatan di atas kapalnya agar keseimbangan kapal itu tetap terjaga.
Kapal yang telah dirancang, dan dibangun sesuai perhitungan stabilitas dan dioperasikan dengan penempatan beban yang seimbang Insyia Allah akan selamat sampai ke tujuan. Jadi tugas utama seorang Nakhoda kapal yang sedang berlayar adalah menjaga keseimbangan kapal yang dibawa komandonya.
Rupanya Rasul Paulus juga sangat sadar akan dalil keseimbangan itu, dalam konteks kehidupan berjemaat atau bermasyarakat. Rasul Paulus secara khusus memasukkan masalah keseimbangan ini dalam Perikop Pelayanan Kasih seperti yang kita telah baca bersama tadi.
Untuk mendapatkan keseimbangan dalam berjemaat atau bermasyarakat maka di minta supaya “Kelebihan kamu hendaknya mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu”. Analog dengan Kapal yang berlayar seseorang atau lingkungan masyarakat yang kesejahteraan lahir dan bathinnya tidak seimbang juga akan mengalami nasib sama tidak stabil dan akhirnya bisa tenggelam.
Dalam pembukaan Perikop ini secara khusus Rasul Paulus memuji peri laku orang Kristen di Makedonia, dikatakan bahwa walaupun miskin tetapi mau menerima beban dari orang-orang kudus yang sangat miskin di Jerusalem waktu itu. Rasul Paulus berkata, walaupun mereka itu miskin tetapi kaya dalam kemurahan Mereka sudah menanggung beban kemiskinan tetapi masih mau menerima tambahan beban demi untuk menyelematkan saudara-saudaranya yang sangat terbebani itu. Supaya ada keseimbangan.
Peristiwa ini juga menyadarkan kita bahwa Pelayanan Kasih bukan monopoli orang yang berada tetapi dapat juga dilakukan oleh orang yang dianggap miskin dan bukan orang yang punya saja. Pelayanan kasih rupanya tidak di lihat dari jumlah atau nilai yang diberikan, tetapi lebih ditentukan oleh kerelaan dan kemurahan hati sipemberi. Itulah yang dimaksud dengan Pelayanan Kasih Kristus
Firman Tuhan bersabdda “Pemberianmu itu akan di terima bila didasarkan pada apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu”.
Pelayanan kasih yang dimaksudkan oleh Kristus, seperti yang coba digambarkan tadi, rupanya itulah yang menentukan keseimbangan. Kita ketahui perhatian Kristus kepada kemiskinan sangat besar.
Kristus sendiri mengidentifikasikan dirinya dengan orang-orang yang menderita. Melayani orang-orang yang menderita berarti melayani Tuhan Yesus dan sebaliknya melayani Tuhan Yesus berarti bersedia dengan tulus melayani orang-orang yang miskin dan menderita.
Kemiskinan akan materi hadir di mana-mana di sekitar kita. Mereka yang miskin menghadapi pergumulan yang sangat berat; pergumulan memenuhi kebutuhan rohani dan pergumulan memenuhi kebutuhan jasmani. Bagi si miskin kebutuhan dasar untuk bertahan hidup saja, sudah sangat berat Di lain pihak ada orang-orang yang hidup dalam kelimpahan materi, hidup berfoya-foya. Hal inilah yang menimbulkan ketidak seimbangan dalam kehidupan di masyarakat.
Kekacauan dan perang, timbul karena tidak ada keseimbangan. Negara-negara industri maju berkelimpahan, di lain pihak negara-negara miskin, rakyatnya banyak yang hidup dibawah garis kemiskinan. Dengan tidak adanya keseimbangan di bidang kesejahteraan, menyuburkan kecemburuan social melahirkan radikalisme dan terorisme. Perang Timur Tengah yang berkepanjangan sedikit banyak karena alasan yang sama. Disana tidak ada keseimbangan baik lahir maupun bathin dalam masyarakatnya.
Saya teringat wawancara Televisi CNN dengan Benyamin Netanyahu beberapa tahun lalu waktu dia di pilih menjadi PM Israel. Netanyahu mengeluh betapa beratnya memimpin Negara yang dikelilingi oleh Negara-Negara yang di pimpin oleh Diktator dengan keseimbangan semu dalam masyarakatnya.
Sama seperti yang kita alami hidup dibawah penguasa mutlak atau dictator selama 30 tahun menghasilkan keseimbangan semu. Akibatnya kita sudah saksikan bersama terjadi keos, kekacauan dimana-mana dan dampaknya masih kira rasakan hingga saat ini.
Negara-Negara di Timur Tengah umumnya dipimpin oleh penguasa absolut. Kepemimpinan mereka menimbulkan keseimbangan semu dalam masyarakat. Kondisi inilah yang menurut hemat saya melahirkan terorisme yang sangat kejam, mereka bertindak di luar batas kemanusiaan.
Apa penyebabnya. Karena dalam masyarakat seperti itu, ketidak seimbangan hadir terus menerus. Masyarakat kehilangan harapan dan merasa tidak ada yang mau mempedulikan nasib mereka. Akibatnya mereka kehilangan hati nurani, kehilangan rasa kemanusiaan
Jadi kekacauan timbul dimana-mana, pada dasarnya manakala keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat tidak ada. Sudah banyak yang mengetahui hal itu. Saudara dan saya yang pendidikannya lebih baik, sebenarnya sadar akan keadaan itu Tapi hanya sebatas sadar saja, tidak ada tindakan nyata. Masalah utama yang dihadapi adalah ketidak mampuan kita untuk mau berusaha mengatasinya atau keengganan pihak-pihak yang berkepentingan untuk menjadikan keadaan jadi seimbang.
Ambil contoh kehidupan kita berjemaat di Gereja Toraja. Apakah benar-benar pelayanan kasih Kristus yang dimaksud oleh Rasul Paulus dalam perikop ini berjalan ? Saya sangat ragu
Hemat saya tidak sesuai yang diharapkan. Kalau demikian bagaimana Gereja Toraja bisa diharapkan untuk menyumbang keseimbangan dalam masyarakat yang sedang carut marut seperti ini ?.
Saya sependapat dengan beberapa ulasan ceramah Bpk.J. Para’pak yang selalu menanyakan “Quo Vadis Jemaat Gereja Toraja”. Bahwa perhatian kita yang paling banyak, menyita sumber daya adalah pembangunan gedung gereja bukan pelayanan kasih atau pemberdayaan warga masyarakat.
Bahwa kita lebih memberi perhatian pada acara kebaktian yang panjang, pesta atau acara gerejawi yang lain. Paduan suara dalam jumlah yang banyak. Cara seperti ini disamping menyerap dana begitu banyak, juga secara manusiawi menguras tenaga. Dilain pihak pelayanan kasih yang menjadi tugas utama Gereja, sebagai pengikut Kristus membantu dan memelihara yang miskin dan yang berkekurangan, memberdayakan yang kurang berdaya terabaikan. Itu berarti membiarkan kondisi tidak seimbang terus berlangsung
Di sebagian besar Jemaat Gereja Toraja di Klasis Pulau Jawa, Pundi III yang khusus untuk Pelayanan Kasih “Diakonia” digunakan tidak sesuai dengan peruntukannya. Digabungkan dengan Pundi I dengan alasan, dana operasional saja masih kurang. Alasan yang demkian memang benar adanya, jika digunakan untuk acara/pesta gerejawi yang lain, diguanakan untuk retreat PPGT, retreat PWGT, Natal kerukunan, Gereja Padang yang semarak, menarik dan memang enak untuk kita-kita. Tetapi tidak untuk si miskin tidak untuk orang yang berkekurangan yang begitu banyak di sekeliling kita dan sangat membutuhkan bantuan untuk menyambung hidup mereka.
Kalau saja saudara dan saya mau mengamati kegiatan acara/pesta atas nama Gerejawi yang kita lakukan sepanjang tahun, kita akan sadar begitu banyak waktu, dana dan tenaga yang dihabiskan untuk itu.
Bukankah acara/pesta gerejawi seperti itu cenderung melayani diri kita sendiri yang nota bene, (selain untuk pelayanan iman), sebagian besar dari kita tidak begitu memerlukan layanan seperti itu lagi. Akibatnya tugas pokok Gerejawi melakukan Pelayanan Kasih untuk menjaga keseimbangan dalam masyarakat terabaikan.
Kita akhirnya lupa pesan Rasul Paulus dalam Nats renungan kita tadi: Kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.
Kita akhirnya lupa bahwa banyak Pendeta-Pendeta di Pedesaan kampung halaman kita yang terisolir karena memberitakan kasih Kristus, tidak dapat menerima gaji untuk memenuhi keperluan sehari-hari mereka dengan keluarganya.
Kita menyesali maraknya pemakaian narkoba, perjudian dan seks bebas di Tanah Toraja dan cenderung menyalahkan Pemerintah dan Pemuka agama setempat karena tidak berdaya mencegahnya. Tetapi kita tidak sadar bahwa tindakan konsumtif membuang banyak tenaga dan biaya untuk pesta rambu solo’ dan rambu tuka’ yang disponsori oleh kita dari luar, salah satu pemicunya.
Saya terkesan oleh keluhan pimpinan Vocal Group di Gereja Sa’dan waktu saya kebetulan disana. Mereka menyanyi menggunakan Gitar pecah dibalut dengan lack band. Mereka mengeluh orang-orang di Sa’dan ini sanggup “mantunu puluhan bahkan ratusan tedong dan babi tetapi minta bantuan seekor babi atau satu “sepak tedong” untuk pembinaan generasi muda, selalu di jawab tidak ada.
Kondisi seperti itu membuat anak-anak muda frustrasi, mendorong mereka ke tindakan-tindakan yang negatif. Sebenarnya kondisi demikian banyak dari kita sadar, tetapi tidak ada kemauan membantu mereka. Lebih asyik bila kita menyalahkan pihak lain.
Jadi apa yang harus kita perbuat. Jawabannya tidak lain adalah Pelayanan Kasih harus dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab. Mulai dengan mengunakan Pundi III Diakonia betul-betul untuk Pelayanan Kasih bagi si miskin, si terlantar. Itu jatah mereka dari Tuhan melalui anggota Jemaatnya. Jangan lagi digunakan untuk acara/pesta Gerejawi yang lain. Jumlah yang terkumpul setiap minggu mungkin kecil, tetapi sangat berarti bagi Pelayanan Kasih si miskin.
Bukankah pemberian yang dapat diterima adalah jika pemberian itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan yang tidak ada padamu. demikian Firman Tuhan.
Mustinya sesudah Kebaktian Pundi III langsung dipisahkan dan didoakan, kemudian dibuatkan rencana penggunaannya. Berkat yang ada di dalam Pundi itu akan kita alokasikan ke Pelayanan Kasih pada si miskin yang mana, dan segera ditindak lanjuti. Ajarkanlah pada Pemuda-Pemudi kita dan Sekolah Minggu bertanggung jawab melaksanakannya, supaya dalam diri mereka tumbuh rasa tanggung jawab dan kerelaan berkorban melayani sesama yang miskin dan tak berdaya.
Di lingkungan keluarga kita. Anak-anak atau kita yang berulang tahun tidak perlu pesta meriah cukup memasak makanan sederhana di bungkus beberapa puluh bungkus mohon berkat Tuhan untuk disumbangkan pada anak jalanan atau tukang gali selokan yang tidak memperoleh nafkah dan pekerjaan pada hari itu.
Banyak diantara kita anggota Jemaat Gereja Toraja telah banyak merasakan kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia yang oleh karena kita, menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kita kaya oleh karena kemiskinan-Nya.
Tindakan seperti itu akan mendatangkan damai dan sejahtera dalam hati yang memberi dan yang di beri. Walaupun itu kecil tetapi telah berbuat sesuai pesan Keristus, ikut “Memelihara Kehidupan untuk kesejahteraan umat manusia”.
Jemaat-Jemaat baru yang akan didewasakan. Kalau boleh saya sarankan hal-hal kecil seperti yang saya sebutkan tadi hendaknya dikerjakan oleh Jemaat baru ini agar kehadirannya disekitar tempat itu dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Kehadiran Jemaat yang baru berkembang, jangan kiranya hanya menjadi ajang pertemuan atau kumpul-kumpul orang Toraja saja tetapi hendaknya menjadi terang dan garam bagi masyarakat sekitarnya siapapun orangnya. Gereja sebagai satu tubuh Kristus, kalau ada yang kenyang, ada yang kelaparan di sekitar situ. Itu artinya nama Tuhan tidak dimuliakan.
Melalui Kitab Suci Tuhan berpesan pada kita semua “Jangan meminta apa-apa pada Tuhan kalau tidak mau memberi apa-apa kepada orang miskin dan orang yang terlantar.
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. Terpujilah Dia. Amin
|
Pemilik Penginapan yang Menolak Mesias
Penulis/Narasumber : Pdt. Dr. Paul Gunadi
Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan keputusan untuk menyelenggarakan sensus di seluruh Kerajaan Romawi. Sudah ditentukan bahwa sensus penduduk akan diadakan di kota asal masing- masing. Sebagai akibatnya penginapan-penginapan di berbagai kota menjadi penuh dengan tamu-tamu, sebab orang-orang datang berbondong- bondong pada waktu yang bersamaan. Tak terkecuali kota kecil Betlehem.
[[Inilah yang menjadi latar belakang peristiwa kelahiran Kristus yang dicatat oleh Lukas. Kejadian selanjutnya kita ketahui bahwa kota Betlehem yang kecil itu disibukkan dengan para pendatang yang mencari tempat untuk menginap. Di antara para pendatang itu adalah Yusuf dan Maria, yang akhirnya terpaksa menginap di sebuah kandang karena sudah tidak ada lagi tempat bagi mereka di rumah penginapan.]]
Orang-orang Yahudi sebenarnya mempunyai hukum yang mengatur dan mewajibkan orang Yahudi untuk menyediakan tempat bagi seorang wanita yang hendak melahirkan, namun pemilik penginapan di Betlehem ternyata tidak memberikan kamar bagi Yusuf dan Maria yang akan melahirkan bayinya. Di sisi lain kita melihat orang Majus yang bersedia menempuh perjalanan yang jauh sekali untuk mencari kesempatan bertemu dan menyembah bayi Yesus. Alangkah berbedanya dengan pemilik penginapan yang sebenarnya sudah memiliki kesempatan untuk menerima kedatangan Yesus, tapi sekarang justru dibuang. Raja segala raja dan Tuhan segala Tuhan telah berada tepat di depan pintu rumahnya, namun demikian dia gagal untuk menerima-Nya. Dia tidak memiliki belas kasih di dalam hatinya untuk memperhatikan mereka yang lemah dan membutuhkan bantuan. Dia terlalu sibuk melayani tamu-tamu demi mendapatkan uang. Dia tenggelam ditengah- tengah kebutuhan duniawinya sehingga dia melupakan kebutuhan rohaninya yang lebih utama.
Ketika kita menjadi begitu sibuk dengan segala permasalahan di dunia ini, kita sering hidup tanpa persekutuan dengan Tuhan dan menjadi mengabaikan sesama, seperti halnya dengan pemilik penginapan yang hanya melihat kepentingannya sendiri. Marilah kita merefleksikan pelajaran dari kisah ini. Apakah anda menjadi sangat terikat dengan keluarga, pekerjaan dan kesibukan-kesibukan lain sehingga anda tidak lagi memperhatikan kehadiran Tuhan di dalam hidup anda? Siap siagalah! Jangan terhanyut oleh permasalahan kebutuhan rutin sehari-hari... biarpun masalah-masalah tersebut mungkin sangat menekan ... karena anda dapat kehilangan hal yang terpenting dalam hidup anda, yaitu hadirat-Nya.
Ketika Yesus datang ke dunia 2000 tahun yang lalu, orang-orang tidak menerima Dia. Yohanes menuliskan Firman Tuhan yang seharusnya menjadi peringatan bagi kita,
"Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya,tetapi orang-orang kepunyaan- Nya itu tidak menerima Dia."
(Yohanes 1:11)
Oleh karena itu hiduplah hari demi hari dengan penuh kesadaran akan kehadiran-Nya. Hiduplah untuk menyenangkan Tuhan yang tinggal di dalam hati anda. Sharingkanlah dengan anggota keluarga dan teman-teman anda bagaimana anda mengerti makna kelahiran-Nya.
|
[ First ]
[ Prev ]
[ Next ]
[ Last ]
|
 |
|
 |
|